Satu Melawan Sejuta

2

January 10, 2013 by Tara

Ya, satu Kejaksaan akan melawan sejuta rakyat JIKA cara kerja Kejaksaan adalah justru mengacau balaukan keadilan. Yang tidak bermasalah dipermasalahkan, yang bermasalah mungkin malah jadi tidak tersentuh.
Secara kebetulan tindakan Kejaksaan yang mengacaubalaukan term korupsi ini telah menimpa 3 orang alumni ITB.
Satu : Hotasi Nababan, mantan Direktur Merpati. Dituduh korupsi karena Merpati ditipu oleh partnernya di Amerika dalam penyewaan pesawat sebesar USD 1 juta. Dalam kasus penipuan ini Merpati sudah memperkarakan ini ke Pengadilan Amerika, dan Merpati menang. Dan si warga Amerika ini dalam salah satu sidang saat ditanya hakim mengatakan bahwa mereka tidak bekerja sama dengan orang dalam Merpati. Jika mereka mengaku bekerja sama, maka mereka bisa bebas, tapi mereka tidak bisa mengaku karena memang tidak ada kerjasama. Kejaksaan sebagai pengacara negara HARUSnya membantu Merpati untuk menagihkan uang yang dicuri orang Amerika dan sudah dimenangkan oleh Merpati. Alih- alih mengejar orang Amerika (yang kasus sudah dimenangkan Merpati), malah mereka menuntut mantan Direktur sebagai koruptor. How come?? Ini logika darimana? Kalau memang mantan direktur Merpati korupsi, mana bisa menuntut si penipu di pengadilan Amerika dan menang? Jadi dalam pemaksaan kasus ini Jaksa melakukan 2 kesalahan :
a. Memaksakan yang tidak bersalah, sebagai tersangka koruptor
b. Melalaikan peran Kejaksaan sebagai pengacara negara untuk mengejar penipuan BUMN oleh warga Amerika (dimana dalam hal ini Merpati selangkah lebih maju dari Jaksa, dengan menuntut duluan di pengadilan Amerika dan menang).

Dua : Indar Atmanto, mantan Direktur Indosat. Diperkarakan karena kerjasama dengan Indosat. Yang lucu, hampir semua komunitas IT dan Telco mengatakan tidak ada masalah dalam kerjasama ini, dan Menkominfo sebagai pihak terkait juga mengatakan tidak ada masalah, tapi Kejaksaan jalan terus mengatakan ini korupsi dengan nilai sekian trilyun. Wow.. kasus korupsi terbesar di Indonesia. Dan hebatnya, ternyata tersangka tidak menerima satu rupiah pun hasil korupsi itu. Sodara sodaraaa… adakah wajar seorang koruptor tidak menerima serupiahpun hasil korupsi?? Apalagi nilai korupsinya trilyunan. Secara logika sederhana jelas bisa dikatakan: Kejaksaan bermasalah!

Tiga: Kukuh Kertasafari, buruh Kepala Produksi di Chevron, dituntut korupsi proyek bioremediasi senilai sekian puluh milyar rupiah. Ini sudah aku bikin posting beberapa waktu lalu ya.

Tiga orang korban kejaksaan ini adalah yang KEBETULAN Alumni ITB, dan kami alumni lain cukup berani untuk berteriak melawan kekacauan Jaksa ini. Dan dalam kasus Kukuh, yang berteriak bukan hanya alumni ITB. Tapi juga warga lain. Dalam kasus Indosat yang berteriak bukan sekedar alumni ITB, tapi juga masyarakat pelaku bisnis telco, bahkan hingga Menkominfo.
Jadi Satu melawan Sejuta merupakan gambaran yang tepat untuk menghadapi Kejaksaan ini. Hati-hati jika berbagai alumni UI, ITS dan korban-korban Kejaksaan lain ikut bersuara. Sampai seberapa kuatkah sang satu ini akan bertahan dengan tingkahnya mengacaukan pemberantasan korupsi? Mari kita lawan bersama!

2 thoughts on “Satu Melawan Sejuta

  1. Tara says:

    Berikut tulisan Kukuh tentang dukungan masyarakat yang dia terima :
    Indahnya Punya Satu Keluarga Besar
    Semenjak saya dan tersangaka kasus Bioremediasi lainnya ditahan, seluruh karyawan di mana Chevron beroperasi baik yang ada di Indonesia maupun di belahan bumi lainnya terkejut dan bereaksi memberikan do’a, dorongan semangat dan melakukan aksi. Mereka menamakan aksinya dengan Aksi Solidaritas Karyawan Chevron. Diawali dari Minas, tempat di mana saya bekerja dan juga keluarga saya tinggal, para karyawan membuat ikon unik yaitu SAKIT dengan lambang berupa pita hitam seperti lambang peduli AIDS tapi ini berwarna dan bertulisan hitam. Mereka buat dalam berbagai atribut. Ada yang ditempel di baju, di tulisan spanduk We Support You, di foto profil BB, Facebook dan sarana media lainnya. Ada juga foto dari para pegawai dan anak-anak yang merangkai membentuk pita hitam solidaritas tersebut. Bahkan di setiap hari rabu, di mana hari pada saat pertama saya dan teman-teman ditahan, para karyawan memakai baju hitam dan berkumpul di aula besar atau lapangan untuk menyampaikan dukungan dan do’a. Mereka menyebutnya “Black Wednesday”.
    Aksi dari Minas pun menjalar ke semua distrik operasi Chevron. Mulai dari Rumbai, Duri, Dumai, Libo, Petapahan, Bangko, Jakarta, Salak, Darajat sampai ke Balikpapan. Beberapa pendaki gunung pun membentangkan spanduk Aksi Solidaritas di puncak Gunung Dempo. Mereka menggunakan simbol yang sama yang mengartikan kepedulian yang sama dan harapan yang sama. Mereka merasakan sakitnya dizholimi, deritanya dijauhkan dari keluarga dan kehidupan keseharian, bayangan panjang perjalanan mencari keadilan dan kerasnya rongrongan menegakkan kebenaran. Do’a dan harapan agar teman-temannya yang berada di balik jeruji besi segera dibebaskan, agar hukum yang adil dan jujur ditegakkan, agar proses penyidikan saat itu dilakukan dengan professional dan tanpa diskriminasi. Para karyawan Chevron San Ramon dan Bakersfield di California, Midland dan Houston di Texas, Covington Louisiana, Pittsburg Pennsylvania, Afrika, Timur Tengah, Bangkok, Perth, London dan negera lainnya mengirimkan do’a dan dukungan pada saya dan teman-teman yang ditahan Kejakgung. Mereka membentangkan spanduk yang bertuliskan dan bergambar yang sama, membentuk lambang yang sama dan memakai pita hitam mendukung perjuangan dan upaya-upaya hukum yang dilakukan kami dan para penasihat hukum. Pucuk pimpinan perusahaan memberikan informasi rutin kepada seluruh karyawan dan keluarganya tentang update penanganan kasus ini. Bahkan perusahaan pun menggelar berbagai informasi kepada publik agar publik mendapat gambaran jelas dan akurat mengenai perkara sebenarnya.
    Seluruh dunia Chevron dengan puluhan ribu karyawannya merasakan demam Sakit yang sama. Berbagai kalangan baik karyawan biasa, para leader, semua serikat pekerja maupun manajemennya, bahkan sampai ke keluarga-keluarga di rumah mengikuti perkembangannya dan memberi dukungan luas. Semua menjadi Satu. Satu Keluarga Besar Chevron yang bahkan lebih besar lagi. Tidak semua dari mereka kenal saya atau teman-teman saya yang terkait kasus ini bahkan jauh lebih banyak yang tidak kenal tapi mereka semua menunjukkan bahwa kami adalah bagian dari satu tubuh keluarga besar. Sehingga apabila satu bagian tubuh sakit maka bagian tubuh lainnya merasakan sakitnya itu. Oh, betapa terharunya dan indahnya kebersamaan dalam Satu Keluarga Besar Chevron ini. Mereka yakin bahwa kami memegang teguh nilai-nilai budaya mulia dan etika perusahaan seperti halnya mereka dalam keseharian hidup dan bekerja di Chevron. Perjuangan ini pun harus mulia dan dilakukan dengan cara-cara yang benar.
    Banyak dokumentasi yang mereka kirimkan melalui perwakilannya yang datang menjenguk kami di rutan. Mereka datang dari jauh bahkan dengan biaya sendiri sekali pun. Teman-teman karyawan dari kantor Jakarta hampir datang tiap hari baik pagi maupun siang silih berganti bahkan ada yang beberapa kali datang. Derasnya aliran dukungan dan do’a terasakan menambah kuatnya semangat dan harapan. Para tamu tersebut tidak hanya bertanya tentang pengalaman baru yang luar biasa ini tapi juga diselingi dengan wejangan atau motivasi, cerita para Tokoh yang pernah dipenjara, mengingatkan kesempatan untuk memperbaiki diri dan banyak ibadah, menginformasikan keadaan keluarga bahkan tentang pekerjaan operasi di lapangan. Tak lupa juga mereka membawakan makanan, buah-buahan dan buku-buku. Seorang teman dari Sumatera saat menjenguk bertanya dengan keheranan, “Kuh, badanmu kayaknya jadi lebih gendut?” Saya sambil pegang perut menjawab, “Iya nih, naik hampir 7 kilo.” Dia menimpali, “Memang benar, Kuh. Yang sakit bukan badanmu tapi yang sedang disakiti adalah Kebenaran dan Keadilan.”
    Masyarakat sekitar Operasi Perusahaan pun tak ketinggalan turut bersimpati. Mereka sudah merasa satu keluarga dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi Operasi Perusahaan di Minas sudah lebih dari 60 tahun keberadaanya beroperasi bersama masyarakat sekitar. Saya sendiri sudah belasan tahun banyak ikut kegiatan sosial bersama mereka. Secara swadaya dan swakelola, saya dan teman-teman di Minas terjun membantu masyarakat terutama pendidikan dari kalangan keluarga kurang mampu dan yatim. Bahkan sinergi dengan kegiatan pihak Kecamatan maupun masyarakat dan para pemuda setempat. Tak heran jika ratusan orang masyarakat mengumpulkan tanda-tangan simpati dan surat dukungan untuk saya. Semua ikut berjuang terus menyuarakan kebenaran dan menuntut pembebasan kami.
    Semua ini sungguh telah memberikan kesegaran semangat di tengah-tengat perjuangan yang terbayang dan terasa melelahkan serta penuh pengorbanan terutama waktu dan keluarga. Alhamdulilillah selangkah harapan itu terkabul dengan adanya perjuangan Praperadilan dan hakim memutuskan bahwa penahanan saya dan teman-teman tersebut tidak sah sehingga pada tanggal 27 Nopember 2012 hampir tengah malam kami dikeluarkan dari Rutan Kejakgung, setelah mendekam 63 hari di sana. Sementara itu sahabat kami yang perempuan, dapat keluar dari Rutan Pondok Bambu keesokan harinya.

  2. Albert Tilaar says:

    Memang Negara kita ini isinya sudah banyak orang “gila”-nya, karena saya mengadukan suatu kasus KORUPSI menggunakan sebagian kecil dari uang hasil korupsinya ke KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) saja dan kemudian kepada Kejaksaan Agung RI, melalui Pengacara Terkenal O.C. Kaligis & Assocites, sampai sekarang kasusnya belum juga selesai ditangani. Oknum Penyelidik KPK, Herry Muryanto dkk. sebelumnya malah menutup-nutupi keterkaitan pimpinannya, Erry Riyana Hardjapamekas, kala itu. Padahal menghalang-halangi penyidikan dalam tingkat penyelidikan adalah perbuatan melawan hukum (PMH). Mau dibawa kemana bangsa dan negara ini ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: