Ibu

5

June 9, 2010 by Tara

Berita mengejutkan itu..
Sabtu, 5 Juni 2010 (Wage, 22 Jumadil Akhir), sekitar jam 13:30, muncul telepon dari istrinya kakakku, Dani. Sambil menangis tidak jelas berkata “Ibu pergi”. Ketika aku tanyakan “Ibu meninggal?” telepon sudah mati.
Kemudian aku telpon saudara sepupu yang semalam menginap di rumah kakakku untuk mencari tahu ada apa sesungguhnya. Ternyata dia sedang keluar dan tidak tahu ada apa.
Kemudian berdering telepon dari kakakku yang lain, cuman bertanya singkat aku sedang di mana. Ketika aku jawab “lagi di Bandung”, langsung telpon telepon ditutup dengan “ya sudah, saya koordinasi di sini”.
Masih dengan perasaan bingung, aku telpon adikku yang posisi kebetulan lagi di Bali, dan kalimat singkatnya mengejutkan aku “bacakan Al Fatihah, ibu meninggal”.
Aku masih antara percaya dan tidak, apakah ini benar atau cuman kekacauan informasi? Tapi perasaanku sudah mulai merasa bahwa berita itu benar. Saat itu juga aku menelpon sopir untuk ikut aku ke Jakarta. Begitu di kantor, terdapat beberapa orang kunci, aku langsung bagi-bagikan tanggungjawab selama aku tidak ada di kantor.
Sekitar 5 menit kemudian aku sudah meluncur ke Jakarta dengan sopirku. Masih dengan antara percaya dan tidak. Aku telepon kakakku yang lain. Kali ini penjelasannya cukup panjang “benar Ibu meninggal, rencana akan dimakamkan di Kendal, bla bla bla.. “. Setelah kepastian ini muncul, akhirnya meledaklah tangisku.
Serasa sangat tragis bagiku, karena sebulan atau lebih aku begitu sibuknya sehingga sekalipun tidak bertemu Ibuku, meski beberapa kali aku ke Jakarta. Dan yang paling tragis adalah, pada Jum’at malam aku justru di Jakarta, tapi tidur di kantor, bukan ke tempat Ibuku! Kemudian pagi-pagi aku meluncur ke Bandung, dan siang mendapat kabar Ibu meninggal.
Sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung aku isi dengan tangis yang kutahan, meledak, kutahan lagi dan meledak lagi. Otakku mengingat perjalanan hidup beliau. Apa saja yang telah beliau lakukan bagi anak-anaknya maupun orang lain.

Pada masa aktifnya, sewaktu aku masih kecil, ibuku adalah mubaligh. Berbeda dengan Ustadz keren jaman sekarang, Ibuku adalah mubaligh yang berkeliling ke daerah-daerah. Di pelosok desa-desa yang susah dijangkau. Ibuku pergi ke sana baik dengan kendaraan umum ataupun dijemput. Dan seingatku, diantara aku, adikku dan kakakku, sepertinya aku lah yang paling sering diajak ibuku ikut pengajian. Aku menyaksikan pengajian yang diikuti ribuan orang. Bagaimana orang desa berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya sambil membawa obor untuk bisa mengikuti pengajian tersebut.
Salah satu momen yang kuingat benar adalah ketika ibuku menggendong aku turun dari bis, dan di luar ternyata banjir. Yah, ibuku adalah mubaligh kelas desa. Tapi hampir setiap pengajian yang diisinya, jumlah yang hadir jauh diatas 100 orang, mungkin ribuan. Karena ukuran tempatnya lebih dari 50×50 meter, penuh dengan orang, pengeras suara yang keras dan tersebar di berbagai sudut. Dan saat teringat itu, aku terpikir, Allah yang tidak akan melupakan amal meski seberat dzarah sekalipun, pasti mencatat amal ibuku ketika menyampaikan tabligh yang kalau total entah berapa ratus ribu orang (mungkin bahkan lebih dari 1 juta orang) yang telah mendengar ceramah beliau.

Aku teringat betapa beliau yang mengajarkan aku untuk berpuasa sunnah Senin-Kamis, beliau yang mengajarkan aku untuk membaca wirid, melakukan sholat sunnah, dan mengajarkan sholat pada awal waktu. Beliau pula yang mengatakan bahwa dari kecil semua anak harus belajar agama, sehingga aku disekolahkan di SD Islam, Badan Wakaf Sultan Agung, di dekat Masjid Besar Kauman, Semarang. Di SD itu aku belajar tajwid, tarikh, fiqh, tauhid, bahasa arab, dll (masing-masing itu satu mata pelajaran tersendiri, bukan dalam satu mata pelajaran Agama Islam). Tidak mungkin diingkari, semua itu adalah pondasi kehidupan beragama dalam hidupku.

Bukan hanya dalam beragama saja aku mendapat bekal dari ibuku. Dari ibuku aku mendapat pesan untuk hidup terus berjuang. Ibuku adalah orang yang pantang menyerah. Hal yang kelihatannya tidak mungkin, karena ibuku merasa benar, terus diterobosnya untuk memperjuangkan kebenaran. Kalau sekarang orang mengelus dada melihat carut-marutnya dunia peradilan, keluargaku bukan hanya mengelus dada, tapi sudah menjadi korban. Kehidupan keluargaku sempat kacau balau akibat rusaknya sistem peradilan. Dan ibuku, berbekal hanya sarjana muda di bidang hukum, dengan seluruh daya upaya terus melawan ketidak adilan itu. Dan para penjahat itu benar-benar bertemu batunya. Puluhan tahun mereka mencoba mencurangi keluargaku, hingga saat ini mereka tidak mendapat hasil dari semua tipu dayanya (hingga para pelaku meninggal). Sikap Ibuku ini berbeda dengan Bapakku yang lebih banyak mengalah dan berprinsip “Tuhan yang akan membalas semua itu”.

Waktu kecil, aku sering ditugasi ibuku untuk mem-foto copy berkas-berkas kasus hukum. Sambil mengcopy, aku sambil membaca semua dokumen tersebut. Dan dari situlah aku belajar tentang hukum. Dari situlah aku belajar menyusun logika. Hingga saat ini aku mampu menyusun berbagai dokumen kontrak, atau iseng-iseng melakukan analisa sosial, bisa dipastikan, pembelajaran dari ibuku itu adalah modal utamanya.

Selain SD, Ibuku lah yang memilihkan untuk aku masuk ke SMA 3 Semarang. Pada saat itu nilaiku cukup bagus, bebas mau masuk ke SMA manapun di Semarang. Dan karena aku tidak ada preferensi, aku tanya ke Ibuku “Ibu pengennya saya masuk ke SMA mana?” Dan Ibuku bilang “SMA 3”, ya sudah aku jalani. Alhamdulillah aku belajar banyak di situ. Kemudian dari situ masuk ke ITB, peranan Ibuku juga ada. Dari sisi doa, sudah pasti lah. Ibuku bahkan mengajak aku pergi ke ulama untuk meminta doa. Dari semua fase pendidikanku, semua memiliki peranan signifikan. Dan ibuku turut dalam penentuannya.

Ketika memasuki fase enterpreneur, aku menyadari betapa orang tuaku adalah orang yang berjiwa besar. Ini karena aku pernah ngobrol dengan teman yang ditanya orang tuanya “kamu kerja sekian lama (padahal baru 1-2 tahun) sudah dapat apa? orang lain sudah punya ini itu lho”, sementara orang tuaku satu kata pun tak pernah terucap hal yang semacam itu. Orang tuaku justru bertanya “gimana kondisi perusahaanmu?”. Tidak pernah mereka menuntut untuk aku bisa memiliki materi. Mereka hanya berpikir, yang penting aku bisa menjalani semua dengan baik. Melihat bagaimana sikap kebanyakan orang tua yang lain, aku boleh berbangga hati, orang tuaku adalah orang besar yang tidak terikat materi.

Memori-memori itu lah yang berkilatan di otakku tentang Ibuku.
Alhamdulillah ketika sampai di Jakarta, aku mendapati Ibuku sedang dimandikan, sehingga aku masih bisa turut memandikan. Saat menyaksikan beliau dimandikan, aku masih serasa tidak percaya. Aku melihat ibuku seperti sedang tidur dengan tenang, tidak terlihat kematian disitu.
Kemudian aku mendapat cerita, Alhamdulillah Ibuku meninggal dalam keadaan baik. Beliau diketahui meninggal jam 12:30, duduk bersandar di meja dengan posisi menghadap Kiblat. Dan dari bekas-bekasnya, terlihat Ibuku akan berwudhu untuk sholat dhuhur, kemudian merasa tidak kuat, duduk dan langsung meninggal. Apa yang diidam-idamkan oleh Ibuku tercapai sudah. Ibuku dulu pernah bercerita, bahwa Beliau tidak ingin bersakit-sakitan saat meninggal. Hingga beberapa saat menjelang meninggal, Ibuku masih seperti biasa bercanda dengan yang lain, masih makan dengan baik. Dan meski di rumah saat itu ada kakakku sekeluarga lengkap, tidak ada sedikitpun keluhan sakit yang terlontar dari Ibuku. Beliau meninggalpun saat sudah berniat akan sholat dhuhur. Kalau dihitung jam 12 waktu dhuhur dan jam 12:30 diketemukan meninggal, berarti beliau meninggal antara jam 12 – 12:30. Dan dari bekas wudhu yang diketemukan, berarti beliau tidak berlama-lama untuk sholat. Segera waktu dhuhur, segera beliau akan sholat.
Syukur Alhamdulillah terucap di hatiku atas semua rahmat Allah ini. Aku sudah mmembaca hadist yang mengatakan bahwa saat nyawa dicabut itu sangat menyakitkan, kecuali orang-orang yang mendapat rahmat-Nya. Insyaallah dari tanda-tanda yang ada, terlihat Ibuku dalam keadaan yang sangat tenang. Bahkan aku yang memandikan tidak merasa bahwa Ibuku meninggal, lebih seperti tidur saja.
Dan ternyata bukan disitu saja Allah memperlihatkan rahmat-Nya. Keluargaku yang besar, yang dalam kondisi biasa juga sulit berkumpul karena kesibukan masing-masing, ternyata dalam waktu yang sangat singkat bisa berkumpul semuanya. Dan semua berkumpul lengkap hingga cucu-cucunya. Tanpa ada perencanaan yang matang, ternyata semua cucu hingga yang paling kecil mengikuti pemakamannya di Kendal. Hanya tiga orang yang tidak bisa ikut hingga ke makam, karena mereka akan ujian akhir di hari Senin. Tapi dari 18 cucu, 15 mengikuti pemakamannya. Seluruh proses, anak dan menantunya yang menangani. Baik memandikan, hingga memasukkan ke liang lahat.
Ketika sampai di Masjid Besar Kendal, jenazah disemayamkan sejenak sebelum ke pemakaman, ternyata cukup banyak saudara jauh yang berdatangan dan menunggu di Masjid tersebut. Sekitar 5 shaf terbentuk ketika melakukan sholat jenazah di masjid itu. Satu yang menggetarkan hatiku adalah ketika ponakanku yang berumur 3 tahunan, Kenken, berteriak-teriak “mau lihat Yangti! mau lihat Yangti!”, dan dia memaksa untuk keranda dibuka. Akhirnya aku menggendong dia untuk melihat ketika keranda dan kafan dibuka. Betapa cucu yang berusia 3 tahun bisa seperti itu!
Seluruh proses berjalan lancar. Tidak ada yang bertele-tele. Dan sekitar jam 9 pagi hari (tepatnya jam 8:30 tanah selesai ditutupkan), beliau akhirnya di makamkan di Kendal, sesuai wasiatnya.
Saat ini, tidak ada lagi kesedihan. Yang ada adalah kebahagiaan untuk Ibuku. Saat ini kami anak-anak yang sudah tidak bisa berbuat untuk dunia, hanya bisa berbuat untuk akhirat. Dan amal yang tidak terputus adalah anak yang sholeh yang berdoa untuk orang tuanya. Itulah yang bisa kami, sebagai anak, lakukan untuk ibu yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik kami.
Saat ini aku di Kendal selama 7 hari. Mewakili keluarga, aku dan kakakku yang tertua akan membaca tahlil di makam selama 7 hari. Ini bukanlah masalah ibadah yang dipertentangkan sebagian orang, ini adalah tanda cinta dari anak terhadap orang tuanya. Karena ini lah keinginan yang tidak pernah terucap dari Ibu, tapi tersirat dari ucapan-ucapannya. Meski aku percaya, bahwa orang yang meninggal baik, kemudian akan ditidurkan hingga terbangun lagi di saat hari akhir, sehingga tidak akan tahu apakah anaknya datang ziarah ke makamnya, aku tetap akan berkunjung ke makamnya sebagai tanda cinta. Silahkan lah jika ada yang berdebat tentang tahlil di makam, aku tidak akan berkomentar.
Akhir kata, kami sekeluarga mengucapkan terimakasih atas semua perhatian dan doa dari teman-teman bagi Ibu kami. Kami juga memohonkan maaf, sekiranya ada tindakan atau kata Ibu kami yang ternyata menyakiti hati.

Kendal, 7 Juni 2010.

*Dibalik kesuksesan pria, terdapat 2 orang wanita, istri dan Ibunya. Ini adalah tulisan tentang ibuku yang berperan di belakang semua anak-anaknya*

5 thoughts on “Ibu

  1. Rindu says:

    Innallilahi wa inna illaihi rajiun … setiap kita akan pulang mas, kali ini giliran Ibu, esok akan datang giliran kita, hanya masalah waktu. Ibu sudah menempati termpat terindah, tempat abadi yang tak akan terusik lagi oleh dunia. Tugas kita kini adalah mengirim doa terindah untuk Ibu, dari anak anak yang soleh/solehah, iya hanya dari anak yang soleh dan solehah saja yang akan diterima, selebihnya tidak.

    Saya turut berduka mas, satu AlFatihah saya kirimkan bersama dengan tahajud Ade malam ini … maaf mas, nama Ibu tidak disebut jadi hanya saya niatkan saja. SMS Ade nama Ibu ya mas.

    Tawakal …

  2. nsm says:

    innalillahi wa inna ilaihi rojiun….semoga ibu diterima disisi ALLAH SWT, dan keluaraga yang ditinggal diberi ketabahan.
    ga sengaja mampir lagi setelah sekian lama, subhanaloh tulisan tentang ibu ini membuat air mata saya menetes, jadi ingat kemaren habis bertengkar dengan ibu tentang suatu hal…..:( musti menelpon dan meminta maaf ke ibu sebelum semua terlambat:(

  3. Tara says:

    Nama Ibuku : Fadlilah binti Achmad Abdul Chamid

  4. medina says:

    hi tara, great piece of writing.

    sometimes we do things that are hurtful to our mothers. being a mother, my mom ALWAYS forgive and forget. being a daughter, i kept repeating my errors and later apologize for it.

    Ya Allah ampuni hambaMU ini dan berikan kebahagiaan, kekuatan dan kesehatan senantiasa pada ibu kami.

    • Tara says:

      Amien..
      semua terasa beda ketika sudah tidak ada Med. Penyesalan bahwa kita masih kurang membahagiakan orang tua, rasanya sulit diceritakan.
      Selagi ada kesempatan, bahagiakanlah orang tua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: