Interaksi antara system dan budaya

1

May 13, 2009 by Tara

Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!

Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.

Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!

(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)

Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.

Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!

Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!

Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.

Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!

Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!

Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.

Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat🙂

One thought on “Interaksi antara system dan budaya

  1. […] – Interaksi antara System dan Budaya […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: