PoliTIKUS tak tahu malu

21

February 3, 2009 by Tara

Komentar ini buat Khofifah yang maju sebagai calon Gubernur di Jatim.
Nggak tahu ya, sejak awal Khofifah muncul di DPR aku kok udah nggak sreg. Melihat tingkah-tingkahnya dia sejauh ini kok ya aku tidak ada respect apapun. Dan melihat tingkah dia terakhir di Pilkada Jatim ini, aku makin muak deh.

Padahal menggunakan sedikit logika saja sudah jelas kok kalau dia kalah. Point-point yang dia sebut sebagai kecurangan itu, mestinya bukan sebagai kecurangan. Kecurangan itu kalau suatu tindakan dilakukan oleh pihak lawan secara tidak benar, menguntungkan pihak lawan dan merugikan diri sendiri.
Tapi kalau itu adalah suatu kondisi yang terjadi (katakanlah, keterbatasan yang ada), bukan tindakan dari pihak lawan, dan efeknya ke semua pihak sama saja, masa itu disebut kecurangan???
Tapi susah memang ngomong dengan orang-orang yang tak punya hati. Mikirnya seenak udel mereka sendiri, seolah udel mereka enak beneran .
Di dunia ini mungkin mereka akan melenggang dengan santainya. Tapi nggak tahu bagaimana di akhirat nanti. Apakah tindakannya itu merugikan masyarakat dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan? Mari kita saksikan di hari kemudian nanti..

21 thoughts on “PoliTIKUS tak tahu malu

  1. fhiedha says:

    eee mas tara nulis lagi, ups…jangan marah-marah gitu dunk:) hehehe sabar mas..sabar….orang sabar disayang tuhan:D…..
    Emang dalam politikkan begitu? suka nyebelin…tapi sebagai orang jatim yang kutau yahhh, sosok khofifah sebenarnya lumayan bagus koq (secara aku mendukung kepemimpinan perempuan), trus sebenarnya yang mas ga suka itu sosoknya sebagai politisi? sosok dia sebagai politisi perempuan? atau karena dia mengajukan kekalahannya ke mahkamah konstitusi toh???

  2. Tara says:

    Kurasa alinea pertamaku sudah menjelaskan itu ya..
    Aku nggak peduli Khofifah itu perempuan kek, banci kek, pria kek atau tokek kek:p

    Silahkan hidup dengan jargon kosong kepemimpinan perempuan. Kepemimpinan itu kepemimpinan, nggak ada keterkaitannya dengan laki-laki atau perempuan.

  3. fhiedha says:

    huehehehhehe sabar kek pak haji:p

  4. btari says:

    kalo saya koq ngrasa apa yang diuneg-unegkan tara ini terlalu berlebihan yah, Khofifah sudah dua kali mengajukan adanya kecurangan dan yang pertama dia berhasil membuat rakyat melakukan pemilihan lagi, berarti bukti2 yang dia ajukan diterima kan. so…menurut sy gpp juga kalee kalo dia merasa dicurangi lagi…semua jalur yang mungkin harus dikerjakan, namanya juga mencari keadilan. gak ada yang salah. gak berhak juga orang laen menjudgingnya…apalagi terlihat keberpihakannya. Sy orang jatim dan tepatnya norg di daerah yang khofifah minta pilih ulang, tp sy bukan pendukungnya, malah sebaliknya, tapi sy gpp tuh, apa yg dia kerjakan sudah sesuai prosedur.

  5. Tara says:

    @btari
    Lihat aja paragraf terakhirku deh. Di dunia ini Khofifah emang bebas-bebas aja, seperti kata-katamu itu. Mari kita lihat bagaimana di akhirat nanti. Silahkan kalau kamu menutup mata terhadap kerugian yang ditimbulkan dia terhadap masyarakat.

  6. btari says:

    maaf yah, sepengetahuan saya urusan akhirat itu Rahasia Illahi…gak ada yang bisa mengetahui, dan orang lain yang sama-sama orang sangat gak berhak menakar seberapa besar kesalahan orang laen, hanya Allah yang nantinya bisa mengukurnya. Namanya keyakinan ato seseorang merasa apa yang diyakini itu benar…gak maen2 loh, bertoleransi dunk..

  7. Tara says:

    @btari. Lihat kalimatku diatas “mari kita lihat bagaimana di akhirat nanti”, aku tidak menggunakan kalimat “dia akan diadzab di akhirat nanti”, artinya aku tidak melakukan judgment. Aku hanya merasa :
    1. Bahwa dia melakukan kesalahan yang merugikan masyarakat banyak.
    2. Dan aku menilai bahwa dia di dunia ini bebas melenggang.
    Dengan melihat 2 kondisi di atas, maka kukatakan: ya sudah, kita lihat bagaimana di akhirat nanti. Artinya, aku juga tidak bisa mengatakan persis siapa yang benar, aku atau khofifah (hanya saja hitung2anku, 95% yakin, Khofifah salah). Tapi kalimatku di atas itu hendaknya diterjemahkan: kalau melakukan sesuatu, jangan cuman menang-menangan di dunia saja. Gunakan hati nurani untuk menilai juga, pertimbangkan pengadilan akhirat nanti. Di dunia kita bisa menyewa satu kompi lawyer, di akherat silahkan kalau ada lawyer yang bisa buka praktek:p.
    Nah kalau kalimat seperti ini aja dipermasalahkan, artinya ya itu.. mau menang2an di dunia:p. Ya silahkan, toh seperti kubilang: di dunia dia bisa melenggang, karena aku yakin benar hukum tidak bisa menyentuh dia dalam kasus ini.

  8. fhiedha says:

    hehehe seru semakin rame,BTW lawyer diakhirat? ya amal perbuatan kita toh:p pak haji:D

  9. btari says:

    setuju….amal perbuatan kita yg jadi lawyernya…gud

  10. renea says:

    yang namanya politik itu…mang seperti ini memancing air keruh, dan ga seorang pun tahu, siapa yang dipolitisir dan dimemonopolisir….semua jadi BUTA, khususnya yang udah under estimate dan berpersepsi negatif terhadap satu pihak……
    Menggaris bawahi paragrap pertama kalimat kedua saudara Tara diatas” dari pertama Khofigah muncul di DPR aku kok dah ga SREG”

    (sampai bawa-bawa urusan akherat yang jelas-jelas dalam wewenang Illahi Robbi)….mestinya kita harus bisa dan dapat obyektif menilai sesuatu… jangan dicampur adukkan…dari sisi kualitas dan produktivitas Khofifah sudah diakui dan diketahu sejarah politiknya. (Insya allah bersih)…!!!

    Jadi hati-hati menilai orang, Tara…sebaiknya berkaca dulu…kok dari pernyataan saudara Tara justru…..jangan-jangan!!!!!.plis ga usah emosi ngadepin Khofifah dunk….!!!!!

  11. Tara says:

    @ Renea : boleh dicatat, saya golput. Hanya 1 kali pernah ikut pemilu (pemilu 98 or 99 ya kalau gak salah?)dan memilih Partai Bulan Bintang dan menyesal! Dan untuk pemilu ini, rencana tetap golput. Sampai saat ini tidak terlibat urusan dengan partai atau LSM manapun! Udah jelas? So, jangan sekali-kali berpikir bahwa saya orang dari partai apa dan ada kepentingan apa. Malah anda yang membawa-bawa analisa saya ini yang saya curiga anda adalah orang politik. Orang politik bukan melihat content-nya tapi lebih menyerang pribadi pembawa content! Komentar yang sangat sangat sangat tidak mutu menurut saya.

    Perhatikan alinea pertama saya diatas, meski dari awal agak tidak sreg, saya tidak sekalipun pernah menulis buruk tentang Khofifah. Ketidak-sreg-an saya masih saya simpan untuk konsumsi pribadi saja. Hanya karena kasus yang terakhir ini sudah keterlaluan dan memuakkan aja, aku sampai menulis ini!

    Kemudian comment anda ini ==> (sampai bawa-bawa urusan akherat yang jelas-jelas dalam wewenang Illahi Robbi)
    Coba tunjukkan, di bagian mana saya melanggar wewenang Robbi??
    Yang ada adalah, saya menyerahkan urusan ini ke Robbi. Dan disinipun kata-kata saya seperti ini :
    “Tapi nggak tahu bagaimana di akhirat nanti. Apakah tindakannya itu merugikan masyarakat dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan?”

    Baca baik-baik kalimat saya itu, saya katakan: “Nggak tahu bagaimana di akhirat nanti”, artinya saya masih tidak tahu. Lanjutannya “Apakah tindakannya itu merugikan masyarakat” saya juga masih mempertanyakan ini, dan kalimat lanjutannya “dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan?” ini merupakan konsekuensi logis dari pertanyaan kedua.
    Kalimat yang sehati-hati ini kok masih dituduh mencampuri wilayah Robbi?

    Lha mbok berpikir yang jernih! Baca kalimat dengan hati-hati. Saya membuat comment tentang Khofifah ini juga setelah mencermati dengan hati-hati apa yang dijadikan landasan keberatannya dia untuk pilkada kedua kok.

    Sebelum comment, lihat comment juga yang sudah ada. Lihat tuh comment no.7

    (hu hu hu.. sewot aku kalau ketemu orang-orang sok politisi kayak renea gini😦 )

    @fiedha & btari :
    masalahnya aku nggak bisa nyewa amal orang lain untuk jadi lawyer-ku

  12. fhiedha says:

    Bang haji (jadi inget roma irama)😀 kaenya kesabaran anda sedang diuji, jadi penting kesabaran dan musti bijak (sok tau mode on)
    setuju ama golput, saya seumur -umur cuma sekali ikut milih pas pilpres kebetulan memilih idola saya pak amien rais dan ternyata beliau gagal (sedih mode on)
    cuma ada hikmahnya pak amien gak kepilih, kalo kepilih saya pasti ikut sakit hati jika beliau dihujat sana-sini. semoga tahun 2009 beliau ga mencalonkan lagi:), sampai saat ini saya belum menemukan ada partai politik yang sesuai dengan hati nurani saya, PKS boleh juga tapi tetap saja saya tidak tertarik. kecuali nanti 2010 ada partai yang bagus:D (ngarep mode on)
    kalo ketauan MUI gimana dunk?? hehehehe

  13. fhiedha says:

    BTW numpang nanya? emang ada apa bang haji dengan LSM??? koq kaenya benci amat:p

  14. renea says:

    sy koq jadi janggal yah melihat tanggapan anda terhadap komentar orang2 disini…sy pikir anda harus bersikap demokratis dunk dengan beragamnya pendapat disini, koq jadi malah kesannya anda tidak mau dikritisi😦 tulisan anda bisa dibaca semua orang dan semua pihak wajar2 saja menanggapinya) anda malah emoasi menanggapinya. kecuali anda cuma mau komentar yang mendukung opini anda saja alih2 menjadikan blog anda ruang diskusi dan sharing. koq malah sewot…sharing is share gak ada benar dan salah, tinggal anda bisa gak mempengaruhi orang laen untuk mengikuti pandangan anda. kalo bukan itu tujuan anda, gak mustilah anda terlihat ngotot begitu…anehhh

  15. btari says:

    ahh gak asyik niy yang punya blog suka cepet sewot…gak mencoba legowo, namanya juga tulisan wajar aja ada pro dan kontra…jangan sampe emosi gituw lah…biasa aja

  16. Tara says:

    Hehe, namanya juga blog kita bebas, anda bebas mengkritisi, saya juga bebas untuk sewot dong :p.

    Maaf kalau terlihat tidak mau dikritik atau ngamukan.

    Saya terlihat ngamukan karena kalau sudah berbicara sesuatu yang menurut saya merugikan masyarakat, saya merasa emosi.

    Saya benci dengan “kebanyakan politisi” karena kebanyakan politisi adalah orang yang ukuran saya asal njeplak. Asal ngomong aja dan tanpa memperhatikan aspek kebenaran atau aspek keilmuan. Yang ada dalam orientasi mereka hanya kursi, kursi dan kursi. Saya katakan “kebanyakan politisi”, karena tidak mengingkari diantara tumpukan sampah juga kadang terdapat berlian. Saya yakinlah diantara sekian banyak politisi busuk, pasti ada beberapa yang baik.

    @Fiedha: aku menambahkan tidak terlibat dengan LSM manapun, karena kecenderungan sebagian besar LSM adalah berpihak kepada yang bayar. Sorry aku mengatakan apa yang ada di kepalaku apa adanya :p.

    @btari & Renea: peace yah😀

  17. Tara says:

    Ngomong-omong masalah politik, jadi keingetan politik gender. Ini yang pada protes kok ibu-ibu semua, jangan-jangan karena bias gender yah :p

    hehe.. peace yah:D

  18. btari says:

    🙂 peace juga deh.

    about politik gender, sy bukan penganut paham apalah yang berkaitan dengan gender, sy rada konservatif kalo tentang itu, sy orang yang menjunjung tinggi bahwa dalam rumah tangga laki-laki adalah pemimpin/kepala keluarga…di luar itu, mau disetarakan kayaka apa juga kodratnya laki-laki dan perempuan berbeda. So sy mengomentari sama sekali bukan karena bias gender.

    oke tara, paling tidak ada satu hal yang kita sepakat, sy juga orang yang gak suka dengan hal2 yang berbau politik dalam hal apapun (bukan hny yg berkaitan dengan pemilu caleg or capres, tp juga segala hal yg dipolitisir).
    sy juga hanya sekali ikut pemilu (wkt itu pilih PAN, krn ada Amien Rais-nya…but berjalan waktu sy sdh gak nge fans dengan dia)…sampai selanjutnya sy gak pernah ikut pemilu a.k.a golput. tapi ke depannya sy gak mau golput, rasanya seperti orang yang gak mau bertanggung jawab atas suatu pilihan. Tq

    no hearts filling..okay.

  19. fhiedha says:

    mengomentari “LSM banyak yang bayar”:
    kritik seperti ini banyak saya dapat bahkan dari orang-orang dekat, bapak, ibu, kakak, sahabat-sahabat terdekat saya. Tapi saya sebagai orang yang bekerja di LSM tau apa yang saya lakukan, dan rasanya jauh dari itu yang penting bagi saya bekerja sesuai dengan hati sesuai dengan panggilan jiwa. yang penting bagi saya, korban yang saya dampingi mengakui keberadaan saya, itu sudah cukup, kalo LSM bekerja untuk yang bayar dan bisa dibayar lalu bungkam, lalu kenapa yah saya gak kaya-kaya? bekerja dimanapun bahkan di LSM itu sebuah pilihan, teman saya doktor lulusan belanda, bekerja untuk LBH jakarta selama 10 tahun, kalo dia mau bisa jadi pengacara di Australia dan kaya, bahkan kalo dia mau mengikuti jejak para alumni LBH yang menjadi pengacara ngetop dia pasti laku dan cepet kaya, tapi dia tetap memilih bekerja di LSM, sebagai pengacara buruh yang gajinya jauh dari kesan berlebihan.

    sedikit cerita diatas bukan bermaksud bela diri sebagai pekerja LSM tapi bagi saya penting kasih argumen ke pemikiran seperti ini. Setelah itu terserah pendapat semua orang. Mungkin ada satu-dua LSM yang melakukan akhirnya menjadi pencitraan terhadap sebuah LSM.

    @ btari: Golput bukan berarti tidak bertanggungjawab akan pilihan, tapi golput menurut saya justeru bertanggungjawab akan pilihan, kalo tidak ada yang pantas dipilih? ya golput merupakan pilihan:)

  20. fhiedha says:

    maksudku “LSM membela yang bayar”
    terakhir komentar:D semoga tulisanya semakin bagus ada rasionalenya, gak asal. Tenkyu sudah dikasih ruang berdiskusi tapi lama-lama koq jadinya si pemilik blog suka emosi dan mulai tanpa argumen:). suka menghakimi pula:p

  21. Tara says:

    @fiedha: kesimpulan yang “indah” :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: