Kesaksian

3

June 4, 2008 by Tara

Tulisan ini aku buat, melihat cemoohan yang ditujukan ke FPI gara-gara kasus kerusuhan di Monas.

Jelas aku menentang kekerasan. Jelas cara-cara FPI itu tidak bisa dibenarkan. Jelas bahwa para pengguna kekerasan patut di-adili.

Hanya saja.. apakah FPI sangat-sangat buruk???

Tulisan ini aku tujukan untuk membantah bahwa FPI itu sangat-sangat buruk. Pada saat tsunami di Aceh, FPI adalah salah satu kelompok dari sekian banyak kelompok yang membantu di Aceh. Relawan dari FPI termasuk pasukan berani mati. Mereka dengan beraninya mengangkuti mayat-mayat yang sudah membusuk tanpa perlindungan yang memadai. Kenekatan mereka hanya disamai oleh para tentara. Sementara kelompok-kelompok lain, bekerja dengan full protection untuk mencegah terkena virus / berbagai macam penyakit. Pada saat itu komentarku adalah, meski mereka dibilang biang onar/ kelompok kekerasan, at least di saat bencana mereka menunjukkan bahwa mereka tidak ragu untuk berkotor tangan, ikut membantu sesamanya (sampai nekat mengabaikan keselamatan diri).

Sekalian juga, tulisan ini untuk aku menuliskan kesaksian pada situasi pasca tsunami di Aceh. Banyak pihak yang membantu di Aceh. Banyak kelompok-kelompok kecil dari Indonesia yang bahu membahu membahu membantu saudaranya di Aceh. Dari sisi institusi, acungan jempol patut diberikan kepada tentara dan PKS. Tentara di sana, jauh dari kesan sewenang-wenang. Justru mereka bekerja dengan sangat-sangat serius. Meski, dengan segala keterbatasan, hasilnya ya seperti itu. Namun dari sisi kesungguhan kerja.. dua jempol buat TNI! Institusi lainnya adalah relawan PKS. Luar biasa jumlah mereka. Dengan kaus putih identitas pengenal mereka, jumlahnya sangat banyak. Diluar institusi itu.. hampir tidak kelihatan. Ada, tapi masing-masing sangat kecil, hanya sebagai pemanis. Aku menuliskan ini, karena terlihat berita-berita di seputar tsunami tidak banyak (tidak ada???) yang mengungkap keseriusan pihak-pihak ini. Yang ada malah tentara dijelek-jelekkan. Semoga tulisan ini bisa menjadi testimoni.

3 thoughts on “Kesaksian

  1. budi sulis says:

    Setuju, kita memang harus mau melihat dari kacamata yg lebih luas, tidak hanya berdasar pada satu sudut/kejadian saja. Kelompok2 yang mendukung/mentoleransi keberadaan Ahmadiyah hendaknya dapat menghargai kelompok lain yang berkeras menentang Ahmadiyah. Seringkali pihak2 yg lebih Liberal merasa dirinya lebih pintar dan mengkotakkan pihak yang lain yg lebih konservatif sebagai ekstrim, eksklusif dll. Aku baca dari media, pihak yg diserang FPI di Monas sebelumnya juga melakukan orasi yang isinya memang dapat memancing kerusuhan.

    Hal yang sama sering saya temui pada kelompok JIL. Mereka seringkali mengkotakkan kelompok Islam Konservatif sebagai kelompok yg eksklusif dan memberikan label2 “kurang intelek” dsb. Pendekatan dengan cara dialog dll saya menurut saya masih sangat minim.

  2. Tara says:

    orang-orang JIL itu sebenernya bukan orang-orang cerdas kok Bud. Kalau melihat tulisan-tulisan mereka, aku melihat seperti tulisan murahan. Menjijikkan, logikanya terbalik-balik, bahkan sebagian tanpa logika.
    Mereka beraninya dialog sama orang yang nggak bisa ngomong. Kalau ama orang yang bisa ngomong, mereka langsung bubar jalan.
    Di milis IA Jkt aku juga ribut ama sebagian orang disana. Sebel aja melihat orang-orang yang membutakan diri.

  3. Rindu says:

    Gak bisa komentar jika bicara kekerasan mas … takut hanya kata itu yang saya kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: