Takdir dan Hukum Alam

30

April 24, 2008 by Tara

Aku tiba-tiba menemukan sesuatu yang selama ini terasa tidak sreg dalam pembicaraanku dengan Budi.
Dalam beberapa kali (sering), Budi berkata bahwa Tuhan menjalankan takdir melalui hukum-hukum alam.
Aku merasa tidak nyaman karena aku menganggap bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak. Tuhan tidak akan diikat oleh hukum alam.

Nah, yang barusan terbetik dalam benakku adalah, bahwa kekuasaan Tuhan berjalan sesuai kekuasaan Tuhan itu! Tidak akan diikat oleh hukum alam! Tetapi hasil kekuasaan Tuhan itu akan dibaca oleh manusia sebagai hukum alam baru!
Misalkanlah, seseorang berjalan ke jurang, dan kemudian terjatuh ke dalam jurang. Secara hukum alam, dikatakan orang tersebut akan terus tertarik gravitasi hingga ke dasar jurang yang sangat dalam. Tapi menurutku, SANGAT MUNGKIN ternyata orang itu tiba-tiba terhenti pada suatu titik sebelum dasar, dan orang itu selamat. Dan ketika dicek, ternyata (MUNGKIN) baru diketahui bahwa hukum gravitasi memiliki perkecualian pada titik tertentu. (note: ilmu yang dimiliki manusia terus bergerak. Hukum gravitasi telah dikoreksi oleh E=MC^2. Hukum Einstein pun diperkirakan akan dikoreksi kembali, karena telah ditemukan materi yang kecepatannya melebihi cahaya).

Hal lain juga, Tuhan bisa menjalankan kekuasaannya melalui sesuatu yang kita sebut MUKJIZAT. Mukjizat ini merujuk kepada berbagai hal yang logika kita tidak bisa menjangkaunya. Harus disadari, bahwa ilmu yang telah dikuasai manusia masih sangatlah sedikit. Masih sangat banyak hal di alam ini yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Yang sederhana misalnya: mimpi! Ilmu pengetahuan baru bisa menjelaskan mimpi menurut teori Freud. Tapi teori Freud tidak bisa menjelaskan tentang mimpi yang berupa suatu penglihatan peristiwa yang PERSIS TERJADI di tempat yang jauh atau di masa depan! Teori Freud baru sebatas mimpi sebagai luapan bawah sadar. Di dunia kedokteran, pengetahuan tentang otak aja masih sangat sedikit. Di dunia fisika, hukum tunggal (unified theory) masih belum juga bisa ditemukan.
Mukjizat ini MUNGKIN juga berjalan dengan hukum alam, hanya saja dilakukan oleh sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Misalkan dalam kasus orang jatuh ke jurang, kok malah bisa terbang naik dengan sendirinya? (MISALKAN…) ternyata orang itu diangkat oleh Malaikat. Dalam peristiwa ini hukum gravitasi tetap berjalan seperti biasa, hanya saja terdapat kekuatan yang melawan (dilakukan oleh Malaikat) yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Contoh kasus yang jelas di sini adalah Isra’-Mi’raj. Secara logika manusia, hal ini tidak masuk akal (karena tidak ada kendaraan yang bisa melakukan itu). Tetapi dengan mempertimbangkan adanya Bouraq, maka hal ini menjadi bisa. Dalam kasus ini hukum gravitasi, hukum energi, dll mungkin masih berjalan. Hanya saja manusia belum mengenal Bouraq dengan segala karakteristiknya. Manusia baru sebatas mengenali sapi, kuda dan onta!

Selain itu MUNGKIN juga mukjizat itu benar-benar tidak mengikuti hukum alam, tetapi mengikuti KUN FAYAKUN (Jadilah! maka jadilah)! Jadi ketika Tuhan berkehendak itu terjadi, saat itu pula terjadi. Dan ini tanpa melalui hukum alam. Hal-hal sederhana misalnya dalam kasus orang sudah terdeteksi memiliki penyakit. Semua record (rontgen dan berbagai pemeriksaan) telah memastikan penyakit ini. Namun pada saat akan dioperasi, tiba-tiba penyakit sudah sembuh. Ini kejadian yang banyak dilaporkan.

Itulah bukti-bukti yang bisa kuperlihatkan bahwa Tuhan tidak diikat oleh hukum alam. Keputusan Tuhan lah yang akan dikenali manusia sebagai hukum alam baru. Atau akan dikenali sebagai suatu mukjizat karena dipengaruhi oleh unsur-unsur yang tidak diketahui manusia (misal: Malaikat), atau karena memang Tuhan langsung yang berkehendak (Kun fayakun).

To Budi:
Dengan penjelasan ini, maka SANGAT MUNGKIN suatu saat kita memahami bahwa 1+1 = 3 dan 1+1= 5, dan 2 = 3 = 5. Who knows 200 tahun lagi itu dipahami manusia:)

30 thoughts on “Takdir dan Hukum Alam

  1. “Dalam beberapa kali (sering), Budi berkata bahwa Tuhan menjalankan takdir melalui hukum-hukum alam.”—– tidak seperti itu fiq. Aku juga berpandangan bahwa Tuhan tidak bertindak ‘melalui’ apapun selain-Nya, karena tidak ada apapun yg bersanding dengan-Nya.

    Aku merasa tidak nyaman karena aku menganggap bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak. Tuhan tidak akan diikat oleh hukum alam. ——– Setuju mutlak

    “Tetapi hasil kekuasaan Tuhan itu akan dibaca oleh manusia sebagai hukum alam baru!” ————- kekuasaan Tuhan meliputi seluruh hal-hal yg menurut manusia baru maupun lama

    “Secara hukum alam, dikatakan orang tersebut akan terus tertarik gravitasi hingga ke dasar jurang yang sangat dalam. Tapi menurutku, SANGAT MUNGKIN ternyata orang itu tiba-tiba terhenti pada suatu titik sebelum dasar, dan orang itu selamat. Dan ketika dicek, ternyata (MUNGKIN) baru diketahui bahwa hukum gravitasi memiliki perkecualian pada titik tertentu.” ————— fakta ini tidak dapat digunakan sebagai argumentasi utk menolak ‘anggapan’ bahwa kekuasaan Tuhan dijalankan melalui hukum2 alam. Karena hukum alam tetaplah hukum alam, baik sudah diketahui manusia maupun tidak.

    “Contoh kasus yang jelas di sini adalah Isra’-Mi’raj. Secara logika manusia, hal ini tidak masuk akal (karena tidak ada kendaraan yang bisa melakukan itu). Tetapi dengan mempertimbangkan adanya Bouraq, maka hal ini menjadi bisa. Dalam kasus ini hukum gravitasi, hukum energi, dll mungkin masih berjalan. Hanya saja manusia belum mengenal Bouraq dengan segala karakteristiknya. Manusia baru sebatas mengenali sapi, kuda dan onta!” ————- secara umum setuju, meskipun aku tidak tll sepakat dgn argumentasinya. Pertama: kita harus membedakan tidak masuk akal (impossible) dgn tidak realistis (almost unlikely to exist). Mungkinkah bulan bertabrakan dgn bumi? Apakah naga dalam dongeng2 itu benar2 ada? Logika tidak dapat menafikkan hal-hal itu, artinya secara logika hal2 itu mungkin ada/terjadi. Sama dgn Isra’ Mi’raj, logika manusia tidak dapat menafikan (menolak kemungkinan) terjadinya Isra’ Mi’raj. Tentang hukum gravitasi dan hukum alam lain dlm kasus Isra’ Mi’raj, aku berpendapat: hukum-hukum ini ‘tidak berlaku’ dalam kasus Isra’ Mi’raj. Ini bukan perkecualian atau anomali terhadap sebuah hukum alam, ini terjadi karena terdapat hukum sebab akibat (note: ini lebih luas dari hukum alam) yg lebih mendasar (meskipun kita belum tahu apa dan bagaimana hukum itu). Sama dgn teori relativitas dan hukum newton, kita tidak dapat menganggap kedua-duanya benar. Yg terjadi adalah: teori relativitas merupakan hukum yg lebih umum dari hukum newton. Dalam kasus tertentu (gerakan benda dalam kecepatan jauh lebih kecil dari cahaya) keduanya ‘hampir identik’ dalam menjelaskan/memprediksikan fenomena gerak benda. Namun dalam kasus benda yg bergerak dgn kecepatan mendekati kecepatan cahaya, hukum newton tidak berlaku lagi.

    Sebagai catatan (menurut pendapatku): hukum sebab akibat tidak hanya meliputi hukum alam/materi.

    Lanjut…😀

    “Selain itu MUNGKIN juga mukjizat itu benar-benar tidak mengikuti hukum alam, tetapi mengikuti KUN FAYAKUN (Jadilah! maka jadilah)!” ———- Ini menarik, khususnya ttg apa makna KUN FAYAKUN. Mungkin akan lebih jelas (atau lebih jelas kebingungannya, he3) kalau kita ajukan beberapa pertanyaan. (1) Adakah ciptaan Allah yg ada tanpa melalui KUN FAYAKUN? Apakah ada informasi di Al-Quran yg menyatakan bahwa sabda KUN FAYAKUN itu hanya khusus utk mukjizat? Atau KUN FAYAKUN itu hanya khusus utk hal-hal yg ‘mendadak’ ada/tercipta? Bukankah Allah menciptakan alam secara KUN FAYAKUN padahal kita melihat bahwa segala sesuatu di alam berproses?

    “Dengan penjelasan ini, maka SANGAT MUNGKIN suatu saat kita memahami bahwa 1+1 = 3 dan 1+1= 5, dan 2 = 3 = 5.”
    ——– Sangat tidak setuju!😀. Kita harus membedakan antara proposisi mengenai alam eksternal dgn proposisi mengenai alam mental. Untuk menjelaskan fakta eksternal (misal hukum alam), kita membuat model atau abstraksi dlm mental kita. Jadi hukum Newton, hukum einstein dll merupakan abstraksi kita thdp alam dan memiliki kemungkinan salah. Mengapa demikian?: karena keberadaan alam tidak identik dengan keberadaan model mental atau abstraksi.
    Fakta-fakta di atas (1+1=3 dst) sangat berbeda. Model mentalnya ada dalam akal dan mewujud dalam akal. Mengapa 1+1 ~=3. Karena axioma yg kita buat mengenai bllangan integer mengimplikasikan 1+1 ~=3. Mengapa jumlah sudut dalam segitiga adalah 180 derajat? Karena definisi kita ttg segitiga mengimplikasikan hal itu. Utk hukum logika yg lebih kompleks berlaku hal yg sama, namun pembuktiannya tidak sederhana (lebih dari satu langkah).

    Hukum-hukum logika menuntun kita utk menilai kebenaran pernyataan/proposisi (proposisi/tashdiq: pernyataan yg dapat dinilai benar atau salah. Bedakan dengan konsep/persepsi/tashawwur). Lalu, darimana kita tahu bahwa hukum-hukum logika itu benar? Mengapa 1+1=3 itu tidak mungkin (impossible)? Ini karena terdapat hukum-hukum dasar mengenai logika.

    Apa contoh hukum2 logika itu: Kita ambil contoh: hukum non kontradiksi yg menyatakan: jika A benar maka negasi A salah. A merupakan sebuah proposisi, misalnya: Budi sedang duduk (benar) maka Budi tidak sedang duduk (salah). Hukum2 yg lain misalnya: hukum identitas dan hukum implikasi.

    Jadi, kita menguji kebenaran proposisi2 baik mengenai alam eksternal maupun mental menggunakan hukum logika ini.

    Contoh proposisi alam eksternal: seluruh materi tersusun oleh atom2 yg padat dan tidak bisa diuraikan lagi. Untuk menilai kebenarannya, kita harus membuat model/abstraksi mental mengenai materi, atom, terurai, padat. Seluruh eksperimen dan penurunan matematik utk membuktikan benar/salahnya proposisi tersebut harus menggunakan hukum2 logika. Masalahnya adalah: Model/abstraksi2 mental tidak akan pernah identik dgn obyek eksternal yg sesungguhnya sehingga jawaban benar atau salah akan bergantung pada akurasi model2 tersebut.

    Ini berbeda proposisi mental (1+1=2). 1 adalah 1 sesuai yg kita definisikan. Bilangan integer adalah bilangan integer. Himpunan bilangan integer merupakan subset himpunan bilangan rasional. Himputan bilangan rasional merupakan subset himpunan bilangan riil.

    Proposisi mental dan proposisi mengenai alam eksternal dinilai benar atau salahnya dgn berpatokan pada hukum2 logika. Lalu, bagaiaman kita menilai kebenaran hukum2 logika ?

    Secara singkat, kebenaran hukum-hukum logika terbukti dengan sendirinya, Self Evident. Kita tidak membutuhkan konsep apapun utk membuktikan hukum2 ini. (penjelasan lebih lengkap moga2 ada di blognya P Dimitri: http://filsafatislam.net/)

  2. Tambahan dikit. Dalam matematika kita mengenal proposisi geometri ini:

    “jarak terdekat antara dua titik adalah garis”

    Proposisi ini bernilai “BENAR”. Namun, Einstein menyatakan bahwa:

    “jarak terdekat antara dua titik adalah kurva melengkung”

    Proposisi ini bernilai “BENAR”. Namun, apakah keduanya tidak saling berkontradiksi?

    Pernyataan pertama bernilai BENAR dalam sistem geometri euclidian. Pernyataan kedua bernilai BENAR dalam sistem geometri yg lain (Minchowski… kalau gak salah…)

  3. Tara says:

    1. Iyah Bud, tentang kun fayakun, aku salah mengartikan itu. Yang aku maksudkan sebenarnya adalah kejadian yang seketika (tidak melalui proses sebagaimana hukum alam yang kita kenal).

    2. Sepertinya aku salah mendefinisikan. Sebenernya yang kamu maksudkan adalah kekuasaan Tuhan tidak terlepas dari logika (bukan dari hukum alam). So, uraiankan ini nggak pas, karena aku mengambil contoh tentang hukum alam.

    3. Dalam jawabanmu ini, tentang semua kekuasaan Tuhan terikat oleh logika, aku tidak setuju. Dalam bayanganku, kekuasaan Tuhan sedemikian tingginya sehingga logika yang “KITA KENALI SAAT INI” pada suatu saat nanti akan terbolak-balik (jika Tuhan menghendaki). Bagaimanapun, logika adalah suatu temuan manusia. Output dari pikiran-pikiran manusia (kalau dalam bahasamu: Model mentalnya ada dalam akal dan mewujud dalam akal). Aku nggak tahu bakal seperti apa (dan mungkin tidak akan pernah tahu), tetapi aku yakin bahwa kekuasaan Tuhan lebih tinggi dari hukum-hukum logika.

    4. Tentang contohmu hukum non kontradiksi, aku percaya bahwa jika Tuhan menghendaki, hukum non kontradiksi akan hancur. Cuman seperti apa bentuk kehancurannya, aku belum bisa bilang. Kalau bisa bilang sekarang, aku dah jadi doktor bud:D

  4. Ini aku kutip dari tulisan P Dimitri :

    Ketidak-mungkinan terjadinya kontradiksi logis dalam realitas ini disebut dengan prinsip non-kontradiksi. Prinsip ini menjadi dasar sekaligus hakikat logika klasik (the very nature of classical logics). Jika diringkas secara simbolis adalah sebagai berikut, A tidak sama dengan (bukan A) dan A sama dengan A sendiri. Tidak ada satu kebenaran apapun yang bisa ditahkik tanpa menggunakan prinsip ini sebelumnya. Meyakini kebenaran prinsip non-kontradiksi merupakan syarat mesti (necessary condition) bagi meyakini seluruh kebenaran lain. Dan keyakinan kebenaran prinsip ini ternyata hadir dalam kesadaran setiap insan.

    Dalam pemahamanku, tindakan Tuhan tidak akan pernah melanggar prinsip kontradikisi bukanlah dalam arti tindakan Tuhan dibatasi oleh prinsip kontradiksi. Yg aku yakini adalah, prinsip non kontradiksi merupakan implikasi atau konsekuensi langsung dari Kemahaluasan Wujud Tuhan.

    Dengan prinsip ini, maka kita dapat menetapkan bahwa jika sebuah proposisi bernilai benar maka proposisi tersebut tidak mungkin sekaligus bernilai salah (dari perspektif/kondisi yg sama).

    Dgn prinsip nonkontradiksi ini, maka aku dapat menyatakan bahwa: (1) Kemahaluasan dan Kekuasaan Tuhan tidak mungkin dibatasi. (2) Tuhan Ada dan tidak mungkin tidak Ada.

    Seperti biasa, agar lebih jelas (atau lebih jelas kebingungaanya), aku akan ajukan beberapa pertanyaan:

    1. Mungkinkah Tuhan meniadakan diri-Nya?
    2. Mungkinkah Tuhan menciptakan sesuatu yg sama berkuasanya dgn diri-Nya.
    3. Bukankah segala sesuatu mungkin bagi Tuhan? Apakah menafikan dua pernyataan di atas berarti membatasi kekuasaan Tuhan?

    ———————————-

    Hanya Allah yg Maha Tahu.

  5. trisetyarso says:

    Kang Budi dan Kang Tara,

    Sebagai pemanasan, saya akan mencoba ikutan diskusi dari pertanyaan Mas Budi:

    1. Mungkinkah Tuhan meniadakan diri-Nya?

    Jawabannya kira-kira begini:

    Ada dan Tiada adalah keniscayaan bagi objek fisika; karena, sebuah objek fisika selalu tunduk kepada hukum-hukum fisika, semisal, objek fisika harus tunduk kepada kausalitas, ukuran, gravitasi dsb.

    Selama Tuhan dipandang sebagai objek fisika, maka selama itupula kita memahami, bahwa Tuhan berawal dan berakhir, alias dapat berada dalam keadaan ADA dan TIADA. Dan, seiring dengan itu, kita akan menemui paradoks-paradoks, seperti jika Tuhan pernah berada dalam keadaan TIADA, maka kapankah Tuhan berpindah kepada keadaan ADA; dsb.

    Oleh karena itu, sekali lagi, selama Tuhan dipandang sebagai objek fisika yang memiliki awal, Tuhan tidak lagi Al-Awwal alias Awal dari segala sesuatu; karena ketika Tuhan berada pada keadaan TIADA, pastilah terdapat sebuah entitas yang mendahului Tuhan itu sendiri.

    Oleh karena itu, sepanjang pengetahuan saya, para filusuf Islam memahami Tuhan sebagai objek yang ABSTRAK, karena jika Tuhan dipahami sebagai entitas yang tunduk kepada hukum alam, seperti Tuhan tunduk kepada kausalitas, konsekuensinya adalah serangkaian paradoks akan mengikutinya.

    Di dalam konsep ke-Tuhan-an Islam, Tuhan adalah sesuatu yang tak terjangkau; tak dapat dibayangkan oleh akal fikiran kita.

    Ketika kita sudah membayangkan membuat sistem Tuhan, maka ketika itu kita sudah misinterpretasi alias mengalami distorsi kepada Tuhan itu sendiri.

    Perlu diingat, ketika kita membuat suatu teori, maka kita mereduksi sistem tersebut menjadi sistem yang sangat sederhana. Reduksi ini awalnya bermanfaat, sebagai langkah awal memahami keseluruhan sistem tersebut; tapi ketika itu juga, boleh jadi kita telah mengalami distorsi pemahaman terhadap sistem yang sesungguhnya.

    Begitu juga pengandaian mengenai Tuhan; karena pengandaian tersebut dibangun diatas asumsi-asumsi yang tanpa data-data eksperimen fisika mengenai Tuhan itu sendiri.

    Mungkin itu dulu pemanasannya … semoga nyambung …😀

  6. @ Trisetyarso
    Panas…

  7. Tara says:

    Hanya Allah yg Maha Tahu. <== Jawaban terakhirmu ini yang aku lebih sepakat Bud😀

    Memang, banyak hal yang kita masih tidak tahu.
    Sebagai misal, aku percaya bahkan jemari yang bergerak pun dalam kekuasaan Tuhan. Jika kemudian dibenturkan dengan pertanyaan: apakah manusia berbuat dosa atas kehendak Tuhan? Maka aku menjawab, tidak tahu.
    Terlihat seperti kontradiksi kan pemahamanku di atas? Apakah pemahamanku yang salah? Belum tentu!
    Apakah didunia ini tidak bisa ada kontradiksi? Menurutku, selama belum terjadi, maka semuanya adalah mungkin.

    Tentang komentarmu ini :
    Yg aku yakini adalah, prinsip non kontradiksi merupakan implikasi atau konsekuensi langsung dari Kemahaluasan Wujud Tuhan. <==
    Yang aku lihat adalah, manusia MENYIMPULKAN bahwa “prinsip non kontradiksi merupakan implikasi atau konsekuensi langsung dari Kemahaluasan Wujud Tuhan”.
    Diuji dengan berbagai metode/ logika /hukum-hukum yang diketahui manusia, sejauh ini kesimpulan itu mungkin tepat.
    Hanya saja aku melihat bahwa bagaimanapun itu adalah HASIL PEMIKIRAN MANUSIA. Meskipun kita anggap itu adalah kesimpulan paling dasar, yang membangun semua kesimpulan-kesimpulan pemikiran di dunia, aku tetap saja menganggap bahwa itu masih MUNGKIN berubah. Apakah Tuhan akan membuat manusia mengubah prinsip dasar pemikirannya? Hanya Tuhan yang Maha Tahu:)

  8. Tara says:

    @Tri
    Masalahnya Budi berpikiran ini :
    “Yg aku yakini adalah, prinsip non kontradiksi merupakan implikasi atau konsekuensi langsung dari Kemahaluasan Wujud Tuhan. ”

    Dia tidak berpikir bahwa “kesimpulannya” dia itu sebagai suatu pengikat bagi Tuhan.

    Wah kayaknya udah mentok deh diskusi ini. Udah mencapai tahap yang ternyata kita sama-sama tidak bisa menjawab:(

  9. trisetyarso says:

    @ Kang Tara dan Kang Budhi

    Perlu disepakati dulu, apakah yang dimaksud dengan “Wujud” Tuhan?

    Sepanjang pengetahuan saya, “Wujud” yang dipahami oleh Ibn `Arabi itu bukan Dzat, karena tak mungkin Dzat Khaliq bergabung dengan dzat makhluq; sehingga Wihdatul Wujud != Wihdatul Dzat. Alias, Tuhan sama sekali bukan “the sum of everything”, melainkan “bayangan” dari Tuhan; sehingga, memang alam merupakan fungsi mutlak dari Tuhan, tapi alam bukanlah Tuhan itu sendiri.

    “Wujud” dalam istilah sekarang ini dekat dengan istilah “STATE”; Misalnya, jika Kang Tara sedang (dalam berada pada keadaan (state)) “gembira” dan Saya sedang “sedih” maka ketika itu kita berlawanan “STATE” atau “Wujud”. Sebaliknya, jika Saya sedang “gembira”, maka kita berada pada keadaan atau “state” yang sama.

    Semoga nyambung … hehehe😀

  10. trisetyarso says:

    @ Kang Budhi

    Prinsip kontradiksi terjadi karena adanya keterbatasan; baik karena keterbatasan objek fisika, teorema dsb.

    Sehingga, saya sepakat banget dengan Kang Budhi, kalau memahami kontradiksi, adalah jalan bagi memahami kebenaran yang lainnya; karena, kita dituntut untuk memahami dua objek yang berkontradiksi tersebut dalam kerangka yang lebih luas.

    Misal “teori 1” kontradiksi dengan “teori 2”; maka kita dituntut menciptakan “teori 3” yang mencakup “teori 1” dan “teori 2”. Setelah “teori 3” ditemukan, *pasti* akan berkontradiksi dengan “teori 4”, sehingga kita dituntut untuk menemukan “teori 5” yang lebih luas dari “teori 3” dan “teori 4”.

    Begitu seterusnya, sampai kita meyakini bahwa ada TOE atau Theory Of Everything …

    Sehingga, TOE itu tak akan pernah dapat ditemukan oleh manusia, karena TOE itu adalah representasi dari ke-Tak Berhinggaaan …

  11. @Tara
    Belum mentok fiq..😀. Aku masih melanjutkan pertanyaan 1, 2, 3. Ini yg ke-4:

    “Tentang contohmu hukum non kontradiksi, aku percaya bahwa jika Tuhan menghendaki, hukum non kontradiksi akan hancur.”

    Yang kamu katakan itu merupakan sebuah proposisi. Karena berupa proposisi maka kita dapat menilai BENAR atau SALAH. Kita anggap/asumsikan proposisimu itu BENAR. Jika benar maka kita bisa menganggap bahwa hukum non-kontradiksi tidak berlaku. Namun, karena hukum non-kontradiksi tidak berlaku, maka proposisi itu bisa juga sekaligus SALAH (dalam perspektif yg persis sama). Dengan kata lain, kebenaran proposisi tersebut berimplikasi penyangkalan terhadap kebenaran dirinya sendiri.

    Bisa juga kita membuat versi lain proposisi tersebut : “Saat ini hukum non-kontradiksi berlaku, namun suatu saat nanti bisa jadi hukum non-kontradiksi runtuh”. Analisa yg sama masih tetap bisa kita terapkan. Apakah pada saat hukum non-kontradiksi runtuh nanti, proposisi di atas bernilai benar? Jika benar, maka dia akan menyangkal kebenarannya sendiri.

    Kira-kira seperti itulah pengertian hukum non-kontradiksi.

  12. @ Trisetyarso

    Misalkan terdapat teori A dan B yg diterapkan pada himpunan permasalahan yg sama, katakanlah X. Jika teori A tidak konsisten atau bertentangan dgn teori B, maka ada beberapa kemungkinan:

    1. Teori A benar dan B salah
    2. Teori A salah dan B benar
    3. Teori A hanya berlaku utk sebagian X dan teori B juga hanya berlaku untuk sebagian X.
    …… (mohon tambahkan kemungkinan lain)

    Diantara berbagai kemungkinan itu, adakah kemungkinan yg ini?:
    1. A sekaligus benar dan salah (dari satu perspektif)
    2. B sekaligus benar dan salah (dari satu perspektif)

  13. Tara says:

    @Budi
    Yang aku bayangkan bahwa suatu saat nanti hukum non-kontradiksi runtuh, tidak berarti bahwa seluruh di alam semesta menjadi kontradiksi. Tetapi ada hal-hal yang bisa berlaku kontradiksi dan ada hal-hal yang berlaku non-kontradiksi. Asumsimu ini :
    “Apakah pada saat hukum non-kontradiksi runtuh nanti, proposisi di atas bernilai benar? Jika benar, maka dia akan menyangkal kebenarannya sendiri.”
    seolah sekalinya runtuh maka berlaku semuanya

  14. Tara says:

    Tambah lagi Bud :
    ===
    Diantara berbagai kemungkinan itu, adakah kemungkinan yg ini?:
    1. A sekaligus benar dan salah (dari satu perspektif)
    2. B sekaligus benar dan salah (dari satu perspektif)

    ====
    SAAT INI kita memang mengatakan itu TIDAK MUNGKIN. Tapi dalam bayanganku, DI MASA DATANG, hal itu bisa jadi MUNGKIN. Seperti apa nanti bentuknya? Ya belum tahu…
    Karena di masa datang itu bisa jadi 50 tahun lagi, atau 1000 tahun lagi, atau malah tidak pernah terjadi. Yang ada adalah, pengetahuan saat ini dan kemungkinan di masa datang.

  15. alsoloni says:

    Assalamu’alaikum wr wb,

    Saya mencoba hendak mengajak para yang berdiskusi tentang AllAh swt, Tuhan Yang Maha Esa, kepada definisi, pengertian, pemahaman yang kita sebutkan sebagai Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa.

    Jika kita mengaku Muslim maka definisi paling dasar harus diangkat dari firman Qurani, jangan diangkat definisi dari siapapun termasuk dari hadits rasulullah Muhammad saw.

    Dalam Al-Quran diwahyukan sifat-sifat Allah swt yang paling essensial dan merupakan inti pemahaman tentang yang kita sebut Allah swt. Cobalah sifat-sifat ini difahami dengan nalar yang urut, runtun dan kritis secara mandiri mempergunakan semua peralatan pengetahuan (knowledge), ilmu (science), yang kita miliki. Dan kita coba menghindar dari brainwashing yang diperoleh melalui ceramah-ceramah dan bacaan-bacaan dari suatu pendapat tertentu. Kita usahakan pemikiran dan nurani kita bebas dari semua phobiya, batasan dan sensor yang membelenggu. Secara jujur, murni dan sukarela kita arahkan pemikiran kepada firman-firman Quraniyah dan Kauniyah. Untuk ini harus disusun kesepakatan titik mula definisi Allah swt yang hendak sama-sama kita fahami dan mengerti. Setelah ada konsensus mulailah berdiskusi secara Islami dengan patokan: Pertama JUJUR terhadap diri sendiri dan Kedua JUJUR terhadap ilmu pengetahuan (sains). Dengan kedua macam kejujuran ini kita akan sanggup dan berani JUJUR kepada Allah swt.

    Masalah satu ini dahulu bisa didiskusikan. Apabila bisa dicapai suatu pendekatan pengertian, di sini saya menekankan PENDEKATAN – sebab manusia tidak mungkin mutlak faham dan mengerti – kepada pengertian dan pemahaman, maka hasil diskusi perlu direnungkan kembali dan diujicoba sampai tercapai suatu PENDEKATAN yang paling ideal. Sesudahnya baru maju ke diskusi selanjutnya.

    Kita berdiskusi bukan dengan titik tolak memenangkan suatu ide yang sudah kita anut, terima, sebagai ide kita sendiri. Tetapi berdiskusi demi mengenal suatu KEBENARAN OBYEKTIF yang mandiri. Mandiri dalam konteks tidak bergantung kepada adanya ruang-waktu.

    Wassalam dan sukses,
    Al-Soloni

  16. trisetyarso says:

    @ Kang Budhi

    Kalo ndak salah ada ucapan Imam Syafii yang isinya begini:

    “Pendapat saya benar tapi ada kemungkinan salah; sedangkan pendapat si fulan adalah salah, tapi ada kemungkinan benar.”

    Artinya kira-kira, dalam sebuah teori pasti ada unsur kebenaran dan kesalahannya.

    Kita bukan Tuhan yang pendapatnya pasti benar semua.

    Kita bukan pula Iblis yang pendapatnya pasti ngawur semua.

    Begitu juga sebuah teori; seburuk-buruk teori itu, pasti ada nilai kebenarannya, sekalipun sedikit.

    Begitu juga sebaliknya; sebaik-baik teori itu, pasti ada nilai kesalahannya juga.

    Ketika kita terlalu mengagung-agungkan sebuah teori sains, maka ketika itu teori tersebut telah menjadi agama, penggagasnya menjadi Nabi dan juga akhirnya kegiatan sains yang berkenaan dengan teori itu akan mati; karena teori itu sudah menjadi keyakinan yang tak boleh dikritik.

    Sains berkembang karena ada kritik terhadap teori yang sudah ada.

  17. @ Trisetyarso
    Setuju Mas!

  18. @ Tara utk no 14
    Aku ulang/refine sedikit pendapatku:

    “Hukum non-kontradiksi adalah prinsip yg mendasari seluruh upaya kita untuk menilai kebenaran semua proposisi. Proposisi ini bisa tentang apapun: baik alam mental maupun alam eksternal atau alam2 lain. Prinsip ini menyatakan bahwa sebuah proposisi tidak mungkin sekaligus bernilai BENAR dan SALAH”

    Trus aku ulang pendapatmu yg terakhir (moga2 akurat):

    “Mungkin saja prinsip non-kontradiksi hanya gugur utk sebagian permasalahan (yg dinyatakan dalam proposisi) namun tetap berlaku utk sebagian permasalahan (proposisi) yg lain. Gugurnya non-kontradiksi tidak harus berarti ia gugur utk semua proposisi”

    Ok, anggap saja suatu saat nanti ketika prinsip non-kontradiksi gugur maka akan ada dua kelompok proposisi. Kelompok proposisi A patuh terhadap hukum non-kontradiksi. Kelompok proposisi B tidak.

    A terdiri dari proposisi yg bernilai BENAR atau SALAH (either TRUE or FALSE). Proposisi yg benar adalah proposisi yg tidak mengandung kontradiksi di dalamnya sedangkan proposisi yg SALAH adalah yg mengandung kontradiksi di dalamnya.
    B terdiri dari proposisi2 yg dapat sekaligus bernilai BENAR dan SALAH. Lalu bagaimana bentuk proposisi ini? Jika yg dimaksud adalah : proposisi yg mengandung kontradiksi namun bernilai BENAR.

    Aku hanya akan menganalisis kelompok B tanpa menggeneralisasi ke seluruh proposisi. Kelompok B terdiri dari proposisi yg bernilai BENAR meskipun ada kontradiksi di dalamnya (benar begitu?). Apa yg dimaksud dengan kontradiksi? Ambil sebuah proposisi dari B, namakan saja B1. B1 disebut mengandung kontradiksi jika memiliki rangkaian logika yg menegasikan satu atau beberapa hal yg diasumsikan di dalamnya. Artinya, jika B1 benar maka sebagian asumsi dari B1 adalah salah atau menegasikan dirinya sendiri.

    Jika kita menggunakan prinsip non-kontradiksi, maka proposisi B1 seharusnya kita masukkan sebagai proposisi yg salah dalam kelompok A. Apa arti sebuah proposisi bernilai SALAH? Dalam proposisi yg merujuk obyek2 mental, maka artinya fakta yg dinyatakan oleh proposisi ini adalah Impossible to exist. Arti yg sedikit berbeda kita terapkan utk obyek eksternal.

    Jadi apa yg dimaksud dgn kelompok proposisi yg tidak patuh terhadap hukum non-kontradiksi?

    Sebenarnya ada jenis proposisi lain, yaitu statement2 self-reference, misalnya: argument Kurt Godel dalam teorime ketidak lengkapan Godel. Ada yg mau membahasnya di sini?

  19. Tara says:

    @Budi (No 19)
    Jawabanku yang no. 15 itu kurasa cukup jelas Bud.

  20. Tara says:

    Sepertinya ini ujung-ujungnya nggak ketemu lagi Bud, seperti biasa:p

    Aku tetap dengan kepercayaanku (yang aku belum tahu bagaimana pembuktiannya). Sementara kamu terus dengan keyakinanmu (yang bisa kamu buktikan untuk SAAT INI).

    Yah.. paling menunggu entah kapan aku bisa membuktikan. Tapi berdasarkan history dulu, hal yang aku percaya dan tidak bisa buktikan saat itu, ternyata kemudian terbukti aku benar Bud:D (kasus pembelajaran manusia)

  21. @ Tara
    Gak ketemu mah biasa. Ayo kita selesaikan dengan catur!

  22. Tara says:

    Caturnya yang real aja..
    Pake YM aku pandangannya nggak enak. Gak bisa konsentrasi, jadi sering kalah

  23. Rindu says:

    Tulisan dan comment para pencari TUHAN… kemarin sempet baca kekuatan asmaul husna, luar biasa memang ALLAH dengan segala mukzizatnya.

  24. Rindu says:

    Mampir aja ke blog ini, setiap hari memang mampir … kata guru agama saya, menjaga silaturahmi itu syurga nilanya, semoga saya mampu untuk tidak memutus, amin ya Rabb🙂

  25. Tara says:

    @Rindu
    yang punya rumah dan komentator di sini pada orang sibuk semua. Kebetulan aja sempet nulis dan sempet heboh bikin comment kayak gini. Tapi habis itu ya.. kembali dengan kesibukannya.
    Dirimu pun pasti sama lah, sibuk dengan aktifitas sehari-hari juga kan? Gimana kabar keluarga? Sehat semua kan? Amien..

  26. syaiba says:

    Perlu dibedakan antara HUKUM ALAM dengan HUKUM LOGIKA. Tuhan adalah pencipta hukum alam, jadi pertanyaan “apakah Tuhan selalu mengikuti hukum alam?” adalah pertanyaan yang salah.

    Hukum alam berlaku untuk alam. Tanpa ada alam, hukum alam pun tidak ada. Sedangkan hukum logika adalah deskripsi abstak untuk segala hal. Ia bukan sesuatu “yang diciptakan”.

  27. rera says:

    artikel yang sangat bagus dan menarik, terimakasih..

  28. Ahmad Walij says:

    Ass.

    Tuhan menciptakan hukum alam dan karena Maha Suci-Nya Dia, Tuhan tidak melanggar hukum yang telah Dia ciptakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: