Learning from Germany (3)

1

November 5, 2007 by Tara

Seri tulisan :

Learning from Germany (1), Learning from Germany (2), Learning from Germany (3)

E.      Perbandingan Indonesia – Jerman

§         BUDAYA

Budaya diperkirakan merupakan akar dari semua perbedaan antara Indonesia dan Jerman. Beberapa hal yang diamati dari budaya ini adalah :

1.       Minat baca

Mayoritas orang di kereta api membaca. Bahkan ada anak remaja dengan gaya punk, tapi di kereta dia membuka buku novel. Di kereta ICE dari Hannover ke Munchen, bahkan dalam satu deretan (8 orang) hanya saya sendiri yang tidak baca😀. Lainnya, semua membaca atau bahkan mengerjakan tulisan.

2.       Orientasi

Di Indo kita menjumpai orang :

  • Berorientasi pada materi.
  • Berorientasi pada kebanggaan / pujian dari orang lain

Mungkin tidak bisa menyalahkan orientasi itu, karena itu adalah salah satu sifat dasar yang ada di tiap manusia. Masih agak mending sebenarnya jika orientasi itu hanya diterapkan didalam diri dan berusaha dengan benar. Hanya saja, orang Indo:

  • Menilai orang lain dengan orientasi itu, sehingga orang yang tidak bermental kuat mesti menyesuaikan dengan pandangan sekitarnya.
  • Mudah mengambil jalan pintas, sehingga konsentrasi langsung pada materi. Akibatnya dalam bekerja pun asal saja, karena orientasi hanya pada materi.

Sebagai perbandingan di Jerman, situasinya adalah :

  • Secara umum, dari pengamatan atas perilaku atau pembicaraan orang-orang (meski tidak tahu bahasanya, kita bisa menilai apa topik percakapan orang dari ekspresi wajah dan intonasi pengucapan) tidak ditemukan arah pembicaraan yang bersifat materialistis. Seandainyapun ada, kemungkinannya sedikit.
  • Di Jerman orang berorientasi untuk doing things right. Apakah itu suatu sifat dasar atau karena mereka sudah pada level tidak khawatir tentang kecukupan materi ? Diperkirakan itu suatu sifat dasar / sifat yang dipupuk sejak kecil. Sebab dari sisi materipun, mereka juga tidak bermewah. Mayoritas adalah masyarakat menengah dengan gaya hidup yang normal. Banyak menggunakan bus dan kereta api, bahkan sepeda. Mobil banyak, tapi berhenti di parkir, jalanan sepi. Hanya saja hampir semua yang dipakai mereka adalah barang bermutu (mulai dari baju hingga berbagai peralatannya). Namun masalah mutu ini lebih karena tuntutan teknis, bukan tuntutan kemewahan. Mereka hanya butuh nyaman, bukan berfoya-foya.
  • Meski mungkin semangat sebagai bangsa Jerman mereka tinggi, tetapi dari sisi individual, tidak terlihat upaya untuk mencari pujian dari orang. Hal ini mungkin karena masyarakat yang individualis juga, sehingga mereka tahu orang lain juga nggak bakalan merhatikan dan memuji mereka😀 

Salah satu hal yang patut dicatat adalah, meski orang Jerman dikenal sebagai orang yang keras / disiplin, namun dengan orientasi doing things right, mereka justru bisa bersikap fleksibel. Hal ini saya alami ketika salah tiket KA. Seharusnya saya didenda 220 Euro karena saya salah. Namun barangkali karena melihat saya tidak berniat curang, dan saya orang asing, tidak bertele-tele, kondektur malah tidak mendenda. Dia hanya memberi peringatan agar saya tidak mengulangi kesalahan lagi. Suatu sikap yang termasuk sulit dicari dari kondektur KA di Indo.

3.       Jujur

Penggunaan transportasi dan pembelian koran dapat dilihat sebagai tolok ukut kejujuran orang di Jerman. Pembelian koran hanya dengan mengisi kotak uang yang disediakan kemudian mengambil koran. Artinya, tanpa mengisi uang pun sebenarnya kita juga bisa mengambil koran. Tapi ternyata itu tidak terjadi (atau kalaupun ada, sedikit jumlahnya).  

Kemudian naik angkutan dalam kota, juga tanpa ada pemeriksaan tiket rutin, hanya ada random. Random itupun sangat jarang. Selama 10 hari di Jerman, meski banyak jalan, tidak sekalipun bertemu kondektur transportasi lokal yang memeriksa. Meski begitu, pembelian tiket di mesin ataupun orang yang membayar di bis kota ternyata cukup banyak juga. Dari informasi yang didapatpun, bahwa setiap ada random memang hanya sedikit (jarang sekali) yang tertangkap tanpa tiket.  

4.       Mau berusaha

Secara umum bisa dikatakan orang Jerman ringan tangan untuk berusaha. Dan dalam menolong orang pun mereka ringan tangan. Hal ini terlihat ketika ada orang sendirian mendorong mobil keluar dari salju, orang yang berjalan langsung mengjampiri dan membantu.

Kemudian orang untuk bepergian menggunakan kereta dan bis yang sudah jelas tempat perhentiannya, bukan di sembarang tempat. Untuk mencapai lokasi persis yang dituju maka mereka mesti berjalan. Namun hal itu tidak menjadikan masalah. Pemandangan yang biasa.

Mobil yang terlihat banyak diparkir, sementara di jalanan secara umum cukup lenggang. Di kota Munchen yang kategori kota besar, di pusat kota di perempatan jalan, jika kita berdiri mungkin hanya ada mobil yang lewat kurang dari 30 mobil per menit (ini sudah dari empat arah ya). Penggunaan sepeda cukup banyak dilakukan. Bahkan dimusim panas, diinformasikan cukup banyak orang dengan baju jas mengenakan sepeda menuju ke stasiun.  

§         LINGKUNGAN UMUM

Berbicara lingkungan ada beberapa hal yang patut diperhatikan :

1.       Kependudukan

Penduduk secara umum jumlahnya sedikit / kepadatan rendah. Kota Munchen yang disebut kota besar berpenduduk hanya sekitar 1 juta orang. Dengan orang yang sedikit maka pengaturan secara umum lebih mudah.

Sebaran penduduk juga cukup merata. Artinya hingga di kota-kota kecil terlihat keramaian orangnya tidak berbeda mencolok. Hal ini merupakan efek dari penataan ruang yang bagus (penataan dengan memperhatikan aspek ekonomi, sebaran/ pergerakan penduduk, dll)

2.       Penataan lahan

Penataan lahan sepertinya sangat terkonsep, dengan memperhatikan pemukiman, transportasi, pertanian, industri, etc. Semua ditata dengan benar sehingga semua bisa berjalan saling mendukung dan tidak terjadi kekacauan. Hampir di semua hal Jerman menampakkan keteraturan dan kesederhanaan, tidak terlihat ada kerumitan yang bisa membuat orang berkerut kening dan kemudian melakukan kesalahan.

3.       Infrastruktur

Infrastruktur yang diperhatikan adalah transportasi, telekomunikasi, aliran energi (listrik dan gas). Dari sisi transportasi, kereta api merupakan infrastruktur yang menakjubkan. Kereta sudah diatur untuk transportasi lokal dan antar kota. Kemudian di satu stasiun bisa terdiri dari 2 hingga 3 lantai kereta api. Sayangnya kemarin tidak bisa melihat peta relnya.  

§         EKONOMI

Disini saya lebih terpikir tentang aspek ekonomi secara makro. Beberapa hal yang menjadi catatan adalah sebagai berikut :

1.       Struktur Industri

Keterkaitan industri terlihat sangat kuat. Industri otomotif maupun industri – industri kelas dunia lainnya, memiliki kerjasama sangat kuat dengan industri-industri kecil di sekitarnya. Dan berbagai proyek penelitian juga diberikan ke universitas.  

2.       Penggunaan instrumen ekonomi

Instrumen ini mungkin bukan hanya kebijakan fiskal. Tapi berbagai kebijakan yang bertujuan untuk ekonomi secara keseluruhan, termasuk diantaranya aturan-aturan perdagangan. Berbagai macam instrumen ini bisa diterapkan dan hasilnya secara umum bisa dievaluasi / diprediksikan karena adanya dua hal :

  • Sistem pencatatan yang bagus.
  • Tingkat kejujuran yang tinggi.

Kemudian, kebijakan disana bisa terlihat implementasinya hingga paling dasar. Contoh sederhana, dalam hal pengelolaan pariwisata, semua sektor sepertinya saling mendukung. Dengan kondisi demikian, bisa dikatakan bahwa asumsi-asumsi yang digunakan para ekonom mempunyai landasan yang cukup dipercaya.Melihat hal ini, sebenarnya jadi agak tanda tanya juga ke para ekonom yang suka bermain makro, apakah mereka telah memperhatikan hal ini? Apakah para ekonom itu telah memperhatikan asumsi-asumsinya? (Bisa lihat tulisanku disini juga ; http://dotindo.blogs.friendster.com/tara/2006/05/catatan_makroek.html)

3.       Economic Advantage

Jerman secara umum mengandalkan ekonominya pada bidang berikut :

  • Bisnis teknologi tinggi

Bidang ini memang telah dimiliki oleh Jerman, baik industri telekomunikasi, otomotif, farmasi, bioteknologi, dll. Bidang ini layak menjadi unggulan karena melibatkan sangat banyak piha di Jerman, dengan dukungan perusahaan-perusahaan kecil menengah yang banyak dan SDM yang berkompeten di bidangnya.

  • Pariwisata

Bisnis pariwisata ini, diperkirakan cukup tinggi nilainya. Keunggulan yang dimiliki Jerman adalah obyek wisata dari Eropa kuno, museum dan exhibition ataupun event-event khusus. Kota Hannover malah mengandalkan bisnis exhibition sebagai penggerak ekonomi di kota tersebut. Dan hal ini (ekonomi berbasis pariwisata) terlihat ditata dengan benar.

Dua hal itu adalah yang mudah dilihat. Saya belum melihat data-data ekonominya, mungkin bisa jadi hasilnya berubah. 

§         TRANSPORTASI

Ini.. ntar aja deh:D

Lama soalnya nulisnya:p. Juga, sepertinya topik ini cukup untuk konsumsi pribadiku aja, karena nggak semua orang interest pada transportasi. 

F.      Resume

Semua pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan sepintas, sehingga sangat tidak tepat kalau kemudian menarik kesimpulan berat dari semua itu.Namun dari semua itu, saya coba menarik point-point pembelajaran sebagai berikut (artinya, harus terus dikembangkan) : 

1. Idealisme dan kerja keras harus terus dijalankan

Bangsa Jerman tidak bisalah mencapai semua itu tanpa kerja keras dan idealisme. Tidak bisa hanya melihat apa yang ada sekarang tanpa memperhitungkan masa lalunya. Seandainya ada potret proses kerja keras orang Jerman pada tahun 50-60an, maka itu akan menarik untuk menjadi pembelajaran.

Idealisme harus dipegang oleh tiap orang di tiap bidang apapun. Idealisme untuk bekerja dengan hasil sebaik mungkin. Mulai dari tukang sapu, pelaku bisnis hingga pejabat publik. Idealisme ini harus mengalahkan materialisme.

Dengan semangat ini, Insyaallah perusahaan saya, Dot System, akan terus dikembangkan dengan idealisme dan profesionalisme. Selama jalan dilalui dengan benar, meski mungkin dirasa lambat, tapi hasil akhir akan memuaskan. Perusahaan-perusahaan besar di Jerman bukanlah perusahaan yang berumur 5-10 tahun. Mereka semua tumbuh dengan membangun kompetensi dan pasar.

Indonesia dengan ribuan perusahaan manufakturnya, jelas lah perlu perusahaan software seperti Dot System. Kelak waktu akan membuktikan apakah kepercayaanku ini salah atau tidak.  

2. Indonesia sebagai bangsa harus berubah

Bangsa Indonesia jelas perlu berubah. Dan perubahan itu mesti pada level budaya. Perubahan pada level kulit tidak akan berarti.

Perubahan pada level budaya ini juga harus memperhatikan kondisi / nilai-nilai yang berlaku di bangsa ini. Tidak bisa perubahan dengan menghantam semuanya. Bagaimanapun, ada yang namanya perbedaan. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan.

Hanya saja pertanyaannya, perubahan bagaimana yang bisa dilakukan di Indonesia?

Saya sendiri belum punya jawabannya. Hanya saja secara individu itu mungkin lebih mudah diterapkan, yaitu :

  • Perubahan pandangan materialisme ke arah idealisme
  • Melakukan pendidikan pada anak dengan menekankan :
    • Kejujuran
    • Kemandirian
    • Kecerdasan

Kesimpulan untuk saat ini adalah, biarlah sementara banyak orang mencari strategi perubahan budaya, mari kita bersiap dengan melakukan perubahan pada diri sendiri. Pada saatnya kita akan menjadi awal yang akan bekerja benar-benar untuk generasi anak dan cucu kita. 

3. Indonesia harus segera menentukan strategi ekonomi

Jika ekonomi indonesia ingin maju, maka harus segera ditentukan strategi ekonomi yang tepat. Kita sudah melihat Jerman sebagai negara industri teknologi tinggi, negara wisata. Thailand sebagai negara Agroindustri, Jepang dengan Teknologi, Swiss dengan perbankan.  Maka pertanyaannya adalah, bagaimana Indonesia?

Sungguh tidak tepat jika kita memaksakan industri-industri besar semacam telekomunikasi, perminyakan, etc untuk menjadi lokomotif perekonomian tanpa memperhatikan kompetensi yang ada di dalam. Strategi ekonomi yang tepat hendaknya memperhatikan potensi pasar, resource, dan budaya yang ada. Hingga saat ini ekonomi di Indonesia masih sebatas jargon-jargon politik tanpa ada kejelasan dari konsep hingga teknis.

Cukup menyenangkan ketika melihat strategi ekonomi Jerman yang terpadu, mulai dari struktur industri, budaya, penataan ruangan, hingga sampai level operasional sehari-hari. Melihat itu semua bisa secara tegas kita melihat struktur ekonomi yang dibangunnya.

Semoga suatu saat Indonesia memiliki blue print ekonomi yang tepat. 

Segitu dulu aja tulisanku, karena ini juga tulisan ringan. Meski ringan, insyaallah semua kata sudah dipikirkan cukup dalam, sehingga bisa lah menjadi pembelajaran buat semuanya.

Sekarang.. cukup refreshing-nya, back to work😀 

Jakarta, 16 Maret 2005

One thought on “Learning from Germany (3)

  1. […] – Learning from Germany […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: