Bunga Terakhir August 22, 2009
Posted by Tara in Semua tentang Aku.add a comment
Lirik ini kutulis di blog sebagai apresiasiku kepada Bebi Romeo. Sukses selalu bro, dan teruslah berkarya!
====
Kaulah yang pertama menjadi cinta
Tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga
Seluruh cintaku untuknya
Bunga terakhir kupersembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir menjadi satu kenangan yang tersimpan
Tak ‘kan pernah hilang ‘tuk selamanya
Betapa cinta ini sungguh berarti
Tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih
‘Ku telah pergi selamanya
Marhaban Ya Ramadhan August 22, 2009
Posted by Tara in Religy.1 comment so far
Tak terasa, Ramadhan kembali menjelang. Kesempatan untuk memperbanyak ibadah, karena ini adalah waktu yang utama. Kesempatan untuk memohon ampun atas segala dosa kita dalam setahun ini (antara Ramadhan sekarang dan Ramadhan tahun sebelumnya)
Aku berpikir ibadah apa yang sebaiknya diperbanyak. Satu hal yang jelas, perbanyak baca Qur’an, perbanyak shalat sunnah, usahakan shalat berjamaah sesering mungkin. Perbanyak baca tasbih, takbir dan takhmid dalam keseharian.
Sebenarnya banyak banget kesempatan beribadah. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah.
Salah satu kebiasaanku sejak dulu, aku ingin ada suatu pencapaian dunia juga dalam bulan Ramadhan ini. Cukup banyak ulama-ulama yang menyelesaikan karya besarnya di bulan Ramadhan. Proklamasi Indonesia juga di bulan Ramadhan (kalau nggak salah ya, persisnya silahkan cek lagi). Aku belum tahu apa yang akan aku kerjakan dalam bulan Ramadhan ini. Kali menyelesaikan buku Panduan Konsultan (yang udah berapa tahun tak terselesaikan nih :p) dan mencoba buat Buku Panduan Business Analyst. Hmm.. coba lihat deh bagaimana nanti.
Apapun, selamat berpuasa buat rekan-rekan yang menjalaninya. Semoga kita semua bisa mengisi bulan Ramadhan ini dengan ibadah-ibadah yang akan menjadi tabungan kita di hari akhir nanti, Amien.. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah ke kita semua, Amien..
Bermain statistik dan logika July 12, 2009
Posted by Tara in Education.add a comment
Saya teringat, betapa dulu saya didampingi oleh dosen statistik saya untuk mencerna suatu kuliah tamu. Dari pendampingan itulah saya benar-benar terbuka arti statistik. Dengan statistik, kita bisa menemukan kebenaran. Dengan statistik kita juga bisa membongkar kesalahan.
Statistik dalam penerapannya juga tidak lepas dari logika. Pak Gunawan dulu memberikan contoh “Jika penjualan kue comro di depan IPTN ternyata datanya dalam analisa korelasi memperlihatkan korelasi yang kuat dengan penjualan pesawat IPTN, bisakah disimpulkan bahwa penjualan comro berhubungan dengan penjualan pesawat? Jawabnya adalah TIDAK! Karena statistik itu bukan sekedar permainan data. Harus ada logika yang membangunnya terlebih dahulu, baru dilakukan analisa statistik.” Kira-kira seperti itulah ucapan dari Pak Gunawan.
Sekarang untuk melanjutkan ilmu beliau, saya ajak rekan-rekan untuk melihat bagaimana statistik diterapkan. Kita bisa mencermati berita ini sebagai ajang latihan : http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/10/161610/1162850/700/dpt-pilpres-diduga-rawan-penggelembungan
====
“Ditemukan 13 persen dari 800 TPS yang terdapat pemilih menggunakan KTP dan Kartu Keluarga (KK). Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7 persen dari pemilih yang terdaftar DPT,” ujar Jeirry.
====
Meski ini menggunakan contoh TPS, tapi ini tidak berbicara politik yah
.
Perhatikan kalimat pertama diatas: 13% dari 800 TPS terdapat pemilih menggunakan KTP dan KK. Artinya sekitar 104 TPS terdapat pemilih ber-KTP dan KK.
Kemudian perhatikan kalimat ke2 di atas: Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7% dari pemilih terdaftar di DPT. Artinya, misal tiap TPS ada 100 DPT. Artinya dari 800 TPS, terdapat 80 ribu pemilih. 7% pemilih berKTP artinya sekitar 5600 pemilih.
Sekarang kita gabungkan kalimat 1 dan kalimat 2. 104 TPS bearti sekitar 10400 pemilih. Ternyata di TPS ini, jumlah pemakai KTP mencapai 5600, atau 50% lebih banyak dari DPT.
Mari kita nilai, benarkah kalimat di atas? Kalau kita bayangkan situasi TPS dengan 50% pemilih menggunakan KTP, maka yang akan terjadi adalah chaos. Dan chaos seperti ini terjadi di 13% TPS, tentunya akan menjadi berita besar mengingat media dan berbagai pihak meliput proses pemilu ini. Tetapi, ternyata kita tidak menemukan adanya chaos gara-gara pemilih ber-KTP kan? Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa kalimat ke-dua yang menggunakan awalan kata “DIPERKIRAKAN” adalah salah. Artinya, kesimpulannya tidak bisa kita percayai.
Itulah contoh sederhana kita untuk menggunakan ilmu-ilmu statistik mencermati suatu informasi
.
Lanjutan berita berikutnya dapat digunakan untuk menganalisa logika :
====
27 persen saksi dari 800 TPS tidak diberi salinan DPT, hal ini semakin menjelaskan modus penggelembungan suara,” keluh Jeirry
====
Perhatikan kalimat bagian awal dan bagian akhir. “27% saksi tidak diberi salinan DPT” disimpulkan sebagai “modus penggelembungan suara”. Mari gunakan logika, bagaimana mungkin saksi tidak menerima salinan DPT dianggap sebagai bukti penggelembungan suara?
Sama dengan penjualan pesawat dikaitkan dengan penjualan kue comro, nggak nyambung! Penjualan pesawat dikalitkan penjualan baja masih mungkin. Dikaitkan dengan penjualan sparepart juga masih mungkin. Tapi dengan kue comro, jelas tidak ada logikanya! Begitu juga saksi tidak menerima salinan DPT dengan Penggelembungan suara, nggak nyambung! Kalau ada orang yang beberapa kali memilih dan namanya ada terus di DPT, boleh lah itu disebut sebagai penggelembungan.
Sekian sharing untuk statistik dan logika. Contoh ini dapat digunakan untuk mencermati berbagai hal, mengingat penipuan banyak dengan menggunakan statistik. Penipuan dengan statistik cenderung dipercaya orang karena kelihatan ilmiah, ada buktinya. Padahal salah mencermati, akan salah mengambil kesimpulan.
Karena ini sharing untuk statistik dan logika, tag saya hanya untuk Education, tidak Pol-ek-sos-bud.
Jangan ada provokasi! July 4, 2009
Posted by Tara in Ragam.9 comments
Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan atas komentar berbagai tokoh masyarakat ataupun tokoh partai, justru saat waktu pilpres sudah dekat.
Seandainya terjadi kerusuhan sosial pasca pemilu, dengan sungguh hati saya akan mengutuk Din Syamsudin (ketua Muhammadiyah), tim Mega-Prabowo dan tim JK-Wiranto yang mengeluarkan ancaman menjelang hari-hari Pilpres.
Tentang ancaman ini, silahkan baca Kompas tanggal 4 Juli.
Tentang DPT. Kenapa mereka mengancam-ancam untuk pemilu mundur beberapa saat menjelang pilpres? Kenapa meerka tidak preventif jauh hari sebelumnya? Seharusnya tim mereka tidak sedemikian idiot-nya sehingga masalah DPT baru muncul menjelang pilpres! Kalau mau meributkan DPT, sejak awal-awal, apalagi setelah Pilleg, itu sudah bisa ketahuan! Kalau sikap mereka tidak peduli terhadap KPU, seharusnya menerima dong apapun hasil KPU. Kemana aja mereka selama ini??
Bicara tentang DPT bermasalah, memangnya bisa didapat DPT 100% betul? Kenapa tidak berbicara berapa % error yang ditoleransi? Kenapa angka itu tidak dimunculkan dalam UU ataupun dalam berbagai dengar pendapat antara KPU dan DPR? Bukankah Golkar (partai pendukung JK-Wiranto) dan PDIP (partai pendukung Mega-Prabowo) ada di DPR? Apa saja kerja mereka selama ini? Tidur??? Kenapa setelah anggota partainya tidur, sekarang tiba-tiba mau memancing kerusuhan??
Tentang Pemilu 1 putaran. Ini juga blunder yang sebenarnya akibat tingkah tokoh-tokoh politisi. Sudah jelas-jelas sejak hasil Pilleg ketahuan kalau posisi SBY potensi menangnya tinggi. Kalau mau menang, kenapa tidak semua pihak lain menyatukan kekuatan?? Perhatikan tulisan-tulisan saya tentang ekonomi sebelum ini, betapa saya sudah menyorot masalah aspek ekonomi pemilu! Saya ssangat bisa memahami kejenuhan masyarakat untuk pemilu. Seandainya mereka memahami masyarakat juga, seharusnya mereka menyatukan kekuatan untuk membuat hanya 1 kali pertarungan! Mana hasil sibuk lobby kiri kanan menjelang koalisi itu? Kenapa tidak dihasilkan 1 calon untuk menantang SBY? Kalau memang mereka berpikir demi negara dan rakyat, seharusnya mereka memberikan 1 calon untuk penantang SBY. Entah itu JK-Prabowo, atau mungkin Prabowo-Wiranto, atau entah siapa lah. Dengan begitu, bukankah pemilu hanya akan ada 1 putaran? Dan tidak akan ada kampanye pemilu 1 putaran yang mengarahkan ke calon tertentu, bukan???
Jadi sebenarnya, kasus DPT dan Kampanye pemilu 1 putaran ini tidak bisa dijadikan ajang pembenaran untuk mengancam membuat kekacauan (fisik ataupun dalam bentuk lain) di negeri ini!
Hentikanlah gaya Bush, dengan mengancam-ancam ketentraman masyarakat! Berkampanyelah dengan elegan dan ksatria! Berani menang berani kalah!
Masyarakat saat ini tidak ada waktu untuk mengurusi para petualang politik! Masyarakat butuh ketentraman untuk bisa bekerja!
Demi Allah, seandainya benar terjadi kerusuhan setelah pilpres ini, aku bermohon agar Allah mengutuk para provokator tersebut! Inilah sumpahku! Hati-hati para provokator, doa orang teraniaya dikabulkan oleh Allah! Dan jika terjadi kerusuhan, maka penganiayaan telah kalian lakukan terhadap seluruh masyarakat!
Bagi pembaca tulisan ini, sekiranya kalian ada akses terhadap petinggi-petinggi partai maupun orang semacam Din Syamsudiin (Ketua PP Muhammadiyah), tolong sampaikan tulisanku ini pada mereka. Ini adalah tulisan seorang rakyat yang tidak ingin ada penganiayaan terhadap rakyat!
Republik Pelawak, dengan Komisi Pelawak June 23, 2009
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.add a comment
Aku mengelus dada dalam beberapa hari ini.
Sekitar seminggu lalu aku membaca buku pledooi dari Iqbal, mantan Ketua KPPU yang tertangkap tangan saat menerima suap. Satu hal yang menarik aku cermati di pledooi itu, yaitu surat perintah penyadapan terhadap Iqbal dan Billy ternyata 1 bulan sebelum mereka berkenalan. Mereka berkenalan ketika diperkenalkan oleh Tadjudin Noer Said. Kira-kira seperti itulah isinya (maaf, hanya resume aja, lengkapnya silahkan cari buku tersebut). SEANDAINYA (tolong perhatikan kata SEANDAINYA ini dengan baik!) hal itu benar, maka besar kemungkinan ada upaya penjerumusan / penjebakan atas seseorang, dan ini melibatkan KPK! (sebagai pihak yang melakukan penyadapan).
Belum selesai keprihatinanku, beberapa hari kemudian muncul berita: KPK menyadap telephone Nasrudin (korban yang diduga dibunuh atas perintah Antasari, mantan ketua KPK) dan Rhani (perempuan, kisah segitiga Antasari, Nasrudin dan Rhani). Dan perintah penyadapan ini ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK, Chandra Hamzah.
Ketika dilakukan konfirmasi, mulailah berbagai komentar lucu muncul dari para pelaku ini :
1. Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/175856/1152204/10/antasari-tak-perintahkan-sadap-tapi-cek-hp-nasrudin-rhani
“Jadi menurut Pak Antasari tadi kepada penyidik, tidak pernah perintahkan secara lisan maupun tulisan untuk menyadap nomor tersebut. Pak Antasari hanya meminta mengecek dua nomor itu,” kata pengacara Antasari, Maqdir Ismail, usai mendampingi pemeriksaan Antasari di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (22/6/2009).
Bisakah dijelaskan, “meminta mengecek” itu memangnya seperti apa? Apakah petugas KPK disuruh telpon ke nomor itu dan tanya: “anda siapa ya?”. Sebodoh dan seidiot itu kah???
2. Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/171007/1152134/10/kpk-penyadapan-yang-kami-lakukan-tidak-langgar-kode-etik
Dalam jumpa pers ini, Chandra juga mengungkapkan bahwa KPK memang menyadap sejumlah nomor telepon yang diberikan Antasari Azhar. Nomor-nomor telepon itu yang digunakan pelaku teror terhadap istri Antasari Azhar. Salah satu teror yang diterima istrinya, Antasari diminta tidak melanjutkan pengusutan sebuah kasus korupsi.
Kenapa begitu mudahnya KPK mengatakan bahwa itu teror berbahaya, sehingga harus disadap no hp tersebut? Bukankah Antasari tahu kalau orang tersebut adalah Nasrudin dan Rhani? Kenapa tidak langsung ditangkap saja orang tersebut atas tuduhan teror? Kenapa KPK langsung melakukan penyadapan? Kalau memang karena teror, memangnya KPK boleh menyadap untuk mengungkap teror? Bukankah yang berhak menangani teror adalah Polisi? Kalaupun karena kecurigaan adanya kasus korupsi yang melibatkan Rhani (seorang caddy gitu loh..), kenapa semudah itu para pimpinan KPK mengijinkan penyadapan? Bukankah kasus Agus Condro yang jelas-jelas di depan mata aja, masih ditunda-tunda penyelesaiannya?
3. Another version : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/142838/1151994/10/kpk-nomor-yang-disadap-bukan-milik-rhani-atau-nasrudin
Komentar sederhana, kalau memang benar itu untuk pemeriksaan penyadapan kasus korupsi, kenapa Antasari pake ngeles-ngeles (lihat point 1 di atas) bahwa tidak dilakukan penyadapan, tetapi ”hanya perintah nge-check” ? Kalau melihat berbagai berita dengan berbagai versi ini, jelas terlihat berbagai pihak saling membuat alasan untuk lepas dari jeratan hukum. Dan lucunya, alasan masing-masing pihak ini tidak sinkron, kontradiktif, sehingga patut DIDUGA KUAT terjadi pelanggaran hukum, melakukan penyadapan untuk kepentingan pribadi.
Inilah republik pelawak, dengan komisi pelawak, meski lawakan yang dihasilkan adalah lawakan satir dan menjijikkan. Betapa alat investasi negara digunakan untuk keperluan pribadi yang menjijikkan. Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh lagi
Interaksi antara system dan budaya May 13, 2009
Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.add a comment
Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!
Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.
Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!
(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)
Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.
Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!
Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!
Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.
Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!
Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!
Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.
Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat
Cukup sudah untuk pemilu!!!! May 3, 2009
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.6 comments
Beberapa waktu yang lalu aku sudah menuliskan tentang biaya pemilu :
http://dotindo.wordpress.com/2009/04/03/sekilas-tentang-ekonomi-pemilu/
Betapa besarnya biaya yang sebenarnya ditanggung bangsa Indonesia ini demi sebuah pemilu. Lha kok sekarang para politisi sepertinya mau mengarahkan pemilu presiden 2 kali? Mau berapa banyak lagi dana yang harus dikeluarkan???
Duh para politisi, coba hitung produktivitas yang terbuang sia-sia untuk kampanye, cetak brosur, iklan, pemilu, penghitungan suara, dll. Dan semua itu kemudian menjadi asap, alias tidak ada sisanya yang bisa dimanfaatkan
.
Buat para capres yang kaya, daripada uang anda hanya untuk memicu pemilu (yang memancing bangsa ini untuk mengeluarkan uang jauh lebih besar daripada yang anda keluarkan), lebih baik jika uang anda itu diinvestasikan yang positif! Silahkan buka pertanian modern kedelai, pedagang tempe di Indonesia akan diuntungkan, buruh tani diuntungkan, dan devisa bisa dihemat (tidak perlu membiayai impor kedele lagi). Silahkan bangun pasar yang bagus untuk pedagang pasar, aku yakin pedagang akan berterimakasih dan investasi tetap akan menguntungkan. Silahkan investasikan uang anda untuk membeli kapal-kapal, sehingga ikan Indonesia bisa diolah sendiri, tidak dicuri oleh kapal-kapal asing. Masih banyak lagi peluang investasi yang lain (telekomunikasi, perkebunan, transportasi, pertambangan, dll).
Masih banyak sebenarnya agenda-agenda yang harus diperhatikan bangsa ini. Jangan lupakan krisis ekonomi dunia, jangan berpikir bahwa itu tidak akan menyentuh Indonesia! Coba lihat data export-import di Tanjung Priok, mestinya itu sudah membuat kita waspada. Belum lagi kasus flu babi, korupsi, pendidikan, energi, dll. Sangat banyak agenda yang harus diberikan perhatian. Jadi, kenapa kita harus membuang banyak energi sia-sia untuk pemilu??
Seandainya para politisi itu anak-anak kecil yang gampang diketok kepalanya, rasanya aku pengen ngetok kepala mereka satu demi satu deh
. Sayangnya mereka banyak yang jendral-jendral, jangankan mau diketok, mau mendekat aja udah ditahan pengawalnya
(.
Pilpres 1 putaran sebenarnya bisa dicapai dengan cara :
1. Hanya ada 2 capres
2. Ubah UU pemilu, sehingga suara terbanyak (mau berapapun capresnya, dan berapapun perolehan suaranya) langsung dijadikan presiden.
3. Para capres mau habis-habisan kampanye sehingga Pilpres 1 putaran tercapai.
Pendaftaran capres kalau nggak salah tgl 16 Mei ya? Aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk menyampaikan ideku ini ke para politisi. Berharap mereka mau “sedikit” berjiwa besar, benar-benar berpikir yang terbaik bagi bangsa, dan mengorbankan ego mereka. Bayanganku seandainya Koalisi Besar itu mau mengajukan hanya 1 calon demi kepentingan bangsa ini, maka mereka potensinya menang cukup besar. Tapi kalau demi egoisme pribadi, kemudian mencoba mengatur strategi agar terjadi pilpres 2 putaran, meski mungkin menang, tapi satu hal yang pasti: minimal akan ada 1 orang (aku sendiri) yang akan mengutuk kelakuan mereka sebagai menyengsarakan bangsa! (note: seandainya ada rekan-rekan yang ikut mengutuk, maka lebih dari satu orang!).
Seandainya teman-teman yang membaca ini ada akses ke Prabowo, Mega, JK, SBY, Wiranto, dll, aku sangat berharap ide ini bisa dimasukkan ke mereka. Please.. beri yang terbaik buat bangsa dengan 1 kali pilpres saja!
Sekilas tentang ekonomi pemilu April 3, 2009
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.4 comments
Ekonomi, pengertian dasarnya adalah: pemilihan resource yang ada, digunakan untuk apa, bagi siapa.
Pada sosialisme, pilihan produksi dan distribusi diatur oleh negara (seperti di Soviet dulu), sedangkan pada kapitalisme, pilihan diserahkan pada pasar (terserah masing-masing pihak mau bikin apa aja, mau dijual ke siapa aja).
Sekarang kita lihat pada pemilu ini. Secara kasat mata terlihat jelas penggunaan resource SDM, material (kain, cat, BBM, dll), mesin (transportasi, mesin cetak, dll) digunakan selama masa kampanye ini. Dan hasilnya? Secara fisik : 0. Bandingkan misalnya resource yang sekian banyak itu misalnya digunakan untuk membuka lahan kedelai, menanam sawit, menambang batubara, dll. Hal ini yang kemarin mengusik pikiranku ketika melihat sekian banyak bendera partai berjejeran di mana-mana. Terbayang betapa semua resource itu akan menguap bersama berlalunya pemilu.
Pertanyaan mengusik akibat kesadaran itu adalah :
1. Berapa persisnya angka yang terbuang itu? Seperti dikatakan Ubed, almost impossible to count it. Paling menghitung secara kasar : misal, caleg DPR rata-rata akan menghabiskan X rupiah, Caleg DPRD I akan menghabiskan Y rupiah, Caleg DPRD II akan menghabiskan Z rupiah, terus dikalikan dengan jumlah caleg yang ada.
Tambahkan pula: iklan2 yang masuk TV, radio, koran, dll.
Tambahkan biaya-biaya kampanye, dengan jumlah massanya.
Aku tidak akan heran kalau angkanya mencapai diatas 10 trilyun rupiah.
2. Apa yang akan didapat dengan itu semua? Seharusnya jawaban idealnya adalah: mendapatkan anggota legislatif yang berkualitas (jujur, pinter, dll). Hanya saja, de facto, akankah itu terjadi? Dengan segala hormat, seandainya didapat 30% saja anggota legislatif berkualitas, aku akan bersyulur banget. Ini tentunya penilaian subyektif, bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi tentunya itu bukan asal ngomong, tapi karena melihat kecenderungan memang seperti itu. Bukti : apa yang melandasi para caleg itu mau mengeluarkan uang sekian besarnya untuk ikut pemilu? Sebagian kecil mungkin memang ada karena ingin memperjuangkan idealisme mereka. Tapi sebagian besar, aku curiga karena hukum-hukum ekonomi. Artinya, dengan pengeluaran X untuk kampanye, mereka berharap ketika terpilih, itu akan kembali sebesar XXXXX…. (kalau perlu sebanyak2nya X :p).
3. Apakah layak pengorbanan itu? Biaya yang dikeluarkan dibanding dengan yang di dapat? Kalau secara sepintas mungkin komentarnya adalah: mahal banget, sangat tidak layak! Tetapi kalau kita mau bicara hitung-hitungan ekonomi yang bener, maka itu harus dibandingkan dengan alternatif lain sekiranya tidak ada pemilu. Dan untuk itu, ngitungnya agak repot euy. So, akhirnya dianggap aja lah biaya itu meski sangat-sangat mahal, tetapi adalah biaya yang TERPAKSA harus dibayar. Ibarat orang sakit, meski obat sedemikian mahal, ya terpaksa dibayar dan dianggap layak
.
Dengan semua itu, what’s next?
Bayanganku, hendaknya semua pihak mulai memikirkan bagaimana pemilu yang lebih efisien nantinya. Mungkin dipublikasikan aturan, bahwa kampanye itu 5 tahun. Bentuk kampanye adalah dengan kerja nyata, dan boleh disebutkan itu tabungan untuk pemilu yang akan datang. Kemudian pada saatnya pemilu, ditentukan: tidak ada aktifitas pengumpulan massa; atau jumlah bendera / iklan dibatasi; dll. Intinya agar tidak terjadi pembuangan sumberdaya besar-besaran ke kampanye sesaat yang banyak mengandung kesia-siaan, diubah dengan kampanye jangka panjang yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak.
Itulah secuil pikiranku, semoga manfaat. Maaf tulisan tidak disertai angka-angka yang benar.
Sekali lagi: ketidak adilan internasional March 20, 2009
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.4 comments
Beberapa waktu lalu, saat desakan untuk berbagai pihak di Israel diajukan ke ICC (International Court Criminal), karena kejahatan perang sewaktu penyerangan Gaza, para ahli hukum (termasuk dari ICC kalau nggak salah. Untuk lebih pasti, silahkan googling deh) mengatakan bahwa Israel tidak bisa diadili karena mereka tidak masuk sebagai anggota ICC.
Yah, meski harus menahan gondok, oke lah..
Yang menarik, barusan aku membaca berita ini :
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/03/20/05212744/icc.sarat.kepentingan.politik.abaikan.hukum
copy text sebagai berikut :
===
Hal itu dikatakan Ketua Asosiasi Pengacara Sudan Fathi Khalil dan Duta Besar Sudan untuk Indonesia Ibrahim Bushra Mohamed Ali, Kamis (19/3) di Jakarta.
Fathi menegaskan, Sudan bukan anggota Mahkamah Kejahatan Internasional (International Criminal Court/ICC) dan tak terikat keputusan ICC.
====
Inikah standar ganda pengadilan internasional?
Bagaimana mungkin untuk Israel karena tidak termasuk anggota kemudian tidak diadili, sementara Sudan yang juga bukan anggota tetap diadili?
(note: tulisan ini masih tidak membicarakan, apakah pengadilan berjalan fair atau tidak yah.)
Sekiranya sistem keadilan internasional adalah seperti ini, maka semua output dari ICC jadi dipertanyakan, seberapa independen dan fair mereka sebenarnya???
Maulid Nabi dan Libur March 6, 2009
Posted by Tara in Ragam.3 comments
Senin besok, libur. Judulnya karena perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.
Tadi pas sholat Jum’at, Khatib bertutur cukup bagus. Khatib menyampaikan betapa besar yang telah dilakukan Rasul untuk ummat, dan sebagai rasa terimakasih yang perlu kita lakukan cukup mengikuti ajaran-ajaran beliau. Sami’na waato’na (kami dengar dan kami taat).
Saya sangat-sangat setuju dengan hal yang terlihat sangat sederhana itu.
Yang kemudian berkelebat di kepalaku adalah: libur dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, perlukah?
Saya berpikir, apa yang akan dilakukan orang-orang? Bukankah tidak ada ibadah yang perlu dilakukan secara khusus? Kalaupun perayaan, yang PERLU dilakukan bukanlah merayakan, tetapi justru mengikuti ajaran Rasul dalam seluruh kehidupan kita. So, kenapa jadi ada hari libur? Aku masih tidak paham arti libur itu.