You are currently browsing the category archive for the ‘Religy’ category.

Pemahamanku atas doa ternyata terus berevolusi.

Di awal sekali aku berpendapat bahwa doa itu tidak ada artinya. Semua sudah ada takdirnya, sehingga berdoa ataupun tidak, tidak memberikan pengaruh. Bisa lihat di tulisan pada tanggal 21Des 2006 ini.  Kemudian setelah membaca bukunya Ibnul Qayim Al Jauziyah pendapatku berubah, pada tanggal 15 Mei 2007 aku menulis bahwa doa bisa mengubah takdir. Namun pemahaman ini masih terasa mentah juga, karena belum membaca dengan benar.

Perubahan yang cukup drastis akhirnya terasa ketika proses berhaji, pemahaman yang didapat karena telah mengenal Tuhan (akhir 2008). Bahwa sesungguhnya Tuhan itu benar-benar ada, bahwa sesungguhnya semua adalah karunia-Nya, sehingga dalam segalanya kita harus berdoa memohon pada-Nya. Jadi, doa selain suatu permohonan, adalah pengakuan dari kehambaan kita.

Yang menarik, bersamaan dengan pemahamanku yang terakhir (pada akhir 2008), selain meningkatkan doaku dalam seluruh kehidupan, aku juga mengubah redaksiku berdoa. Terkait hal jodoh (note: yang nulis masih single nih :p), aku berdoa agar Tuhan memberikanku pasangan hidup yang cantik, lembut, bla bla bla…. Aku merasa, seluruh doaku itu merupakan pengakuanku terhadap Tuhan, bahwa hanya kepada Tuhan lah kita memohon. Jadi kumohonkan lah semua yang ada dipikiranku.

Ternyata, sekarang ini aku mendapatkan pemahaman baru. Benar bahwa kita harus meminta semua pada Tuhan. Dan Tuhan pun tidak akan turun derajatnya karena kita mintain segala tetek bengek dalam kehidupan. Namun kesadaran yang sekarang muncul dibenakku adalah : berdoalah yang pantas!

Tidak salah aku berdoa memohon pasangan hidup yg cantik, bla bla bla.. Tetapi doaku itu ibaratnya adalah permintaan anak kecil yang manja, kolokan pada orang tuanya yang powerfull.

Islam mengajarkan tentang menahan nafsu. Islam mengajarkan tentang berserah diri, tawakkal. Menggabungkan ajaran ini dan doa, maka kesimpulannya adalah : hilangkan nafsu-nafsu duniawi dalam doa! Meminta pasangan hidup yang cantik, lembut, dll dll.. itu semua adalah nafsu pribadiku. Sebagai seorang hamba, yang percaya bahwa Tuhan Maha Pengasih, Pengabul semua doa, tidaklah layak mempertontonkan nafsu pribadi yang seharusnya dikendalikan. Bahwa kita memiliki kebutuhan, YA perlu kita berdoa! Namun doa tanpa nafsu pribadi. Dalam kasus doaku diatas, akhirnya aku hapuskan semua nafsu pribadi, yang tersisa adalah yang sesuai ajaran-Nya : memohon diberikan pasangan hidup yang sholikhah, yang akan mendorong kita lebih ke jalan-Nya, yang memberikan putra-putri yang sholeh/ sholikhah, dan memberikan ketentraman batin.

Jadi itulah arti pantas, berdoa memohon kebaikan (sesuai tuntunan-Nya), dan menghindarkan nafsu pribadi.

Bersamaan dengan pemahamanku atas doa tersebut, Tuhan menganugerahi aku pemahaman atas cinta. Ketika berbicara cinta, cinta yang ideal adalah cinta terhadap Tuhan sebagai yang pertama, dan yang lain-lainnya adalah kemudian. Namun de facto, mari kita ukur apakah diri kita sudah seperti idealisme tersebut? Berapa persen kita berpikir tentang Tuhan dibandingkan tentang “orang” ? De facto, pribadiku masih belum bisa menempatkan Tuhan pada tempat pertama. Dan ini telah mengusikku sejak dahulu kala.

Namun Alhamdulillah kemarin aku mendapat pemahaman, aku bisa lebih merasakan cinta terhadap Allah mengalahkan cinta terhadap manusia. Hal ini dipicu dalam hari-hari terakhir ini aku Alhamdulillah diberikan kesempatan melakkan sholat tahajjud dan witir. Dalam sholat itu aku terus berdoa, dan kepikiran akankah sholat malamku ini terganggu jika aku mengalami patah hati di kemudian hari?  Alhamdulillah ternyata kemudian Tuhan membuatku berkesimpulan bahwa sholat malamku haruslah terus aku lakukan, tak peduli apa yang menimpa aku. Itulah bukti cintaku pada-Nya. Aku tidak bisa menganalisa lebih jauh, karena ini semua murni masalah jiwa. Aku tidak bisa menggunakan logika, karena tidak ada bangun logika di sini. Mungkin lain waktu aku akan coba menuliskan lebih rinci.

Tak terasa, Ramadhan kembali menjelang. Kesempatan untuk memperbanyak ibadah, karena ini adalah waktu yang utama. Kesempatan untuk memohon ampun atas segala dosa kita dalam setahun ini (antara Ramadhan sekarang dan Ramadhan tahun sebelumnya)

Aku berpikir ibadah apa yang sebaiknya diperbanyak. Satu hal yang jelas, perbanyak baca Qur’an, perbanyak shalat sunnah, usahakan shalat berjamaah sesering mungkin. Perbanyak baca tasbih, takbir dan takhmid dalam keseharian.

Sebenarnya banyak banget kesempatan beribadah. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah.

Salah satu kebiasaanku sejak dulu, aku ingin ada suatu pencapaian dunia juga dalam bulan Ramadhan ini. Cukup banyak ulama-ulama yang menyelesaikan karya besarnya di bulan Ramadhan. Proklamasi Indonesia juga di bulan Ramadhan (kalau nggak salah ya, persisnya silahkan cek lagi). Aku belum tahu apa yang akan aku kerjakan dalam bulan Ramadhan ini. Kali menyelesaikan buku Panduan Konsultan (yang udah berapa tahun tak terselesaikan nih :p) dan mencoba buat Buku Panduan Business Analyst. Hmm.. coba lihat deh bagaimana nanti.

Apapun, selamat berpuasa buat rekan-rekan yang menjalaninya. Semoga kita semua bisa mengisi bulan Ramadhan ini dengan ibadah-ibadah yang akan menjadi tabungan kita di hari akhir nanti, Amien.. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah ke kita semua, Amien..

Apakah kalian percaya Presiden SBY ada? Saya rasa kita semua percaya penuh SBY itu ada. Kita tentunya tidak menganggap SBY itu hanya rekaan yang diciptakan oleh media (meski kita mungkin belum pernah berhadapan langsung dengan SBY).

Hal lain, kita tentu sering mendengar dia bicara di TV, membaca pidato / pesan-pesan yang dia sampaikan di koran atau media-media lain. Mungkin malah menerima SMS blast dari beliau (tentang narkoba). Bagaimana respon kita?  Yah, berlalu bersama angin ajah.. Saya rasa sebagian besar bersikap seperti itu.

Nah, seperti itulah mungkin sebagian besar kita bersikap terhadap Allah. Kita tahu, percaya dan yakin Allah itu ada. Tapi keyakinan kita seperti keyakinan kita terhadap SBY itu ada. Nggak ada bedanya, nggak ada rasanya.

Sekarang bedakan antara mengenal SBY dan mengenal sahabat baik kita, atau saudara atau pacar, atau siapapun lah yang dekat dengan kita. Yang kita bisa menemuinya, berbicara langsung dengan dia, dan kita punya pandangan yang baik tentang dia. Jika ditanya apakah seseorang yang dekat dengan kita itu ada? Dengan sangat mantap kita akan menjawab ” ada! “, lha tiap hari ketemu dan ngobrol kok.  Kemudian kalau seseorang tadi berbicara memberikan info misal “eh besok berangkatnya lebih pagi 10 menit, daripada kena macet“, atau “hati-hati, jangan makan xxxx karena itu tercemar melamin” besar kemungkinan kita akan mengikuti pesan itu karena kita tahu pasti siapa yang memberikan pesan dan pengirim pesan tidak akan main-main.

Nah, seperti mengenal orang yang dekat itulah kita mestinya mengenal Tuhan. Cobalah untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat baik yang ada di depan mata kita. Allah itu bukan di angan-angan, jauh di awang-awang. Mengutip Nabi, Allah bahkan sedekat urat leher kita (tolong jangan ditafsirkan aneh-aneh dulu ya..).  Coba benar-benar praktekkan itu dulu: tanamkan dalam kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat kita.

Setelah tertanam di kesadaran bahwa Allah itu ada, maka pahamilah, bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk dari Allah yang diberikan kepada kita, sebagai panduan kita hidup di dunia. Al-Qur’an bukan buat Nabi lho, itu semacam surat yang dikirim untuk kita. Pengirimnya adalah Allah (ini real, bukan khayalan) melalui Rasul. Jadi Rasul itu seolah tak lebih dari seorang tukang pos (note: ini bukan untuk merendahkan Rasul ya, tapi memberikan pemahaman tentang sang pembawa pesan dan pengirim pesan. Dan dalam kasus ini, Allah sebagai pengirim pesan adalah jauh lebih tinggi daripada Rasul. Rasul tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah). Hanya saja Rasul mengantarkan pesan dari Allah untuk ummat manusia.

Jadi harus benar-benar kita pahami, bahwa Al-Qur’an itu turun untuk kita semua! Itu bukan untuk Rasul seorang. Al-Qur’an diturunkan karena Allah Rahman dan Rahim. Allah memberi tahu semua yang kita perlu tahu agar selamat mengarungi kehidupan ini.

Dengan pemahaman ini, aku jadi jauhhhhhh lebih menghargai Al-Qur’an! Al-Qur’an bukan lagi sebagai kata-kata suci yang malah menjadi di awang-awang. Al-Qur’an menjadi benar-benar sebuah buku panduan. Dengan pemahaman ini aku lebih meyakini tentang keberadaan Iblis. Kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an jadi jauh lebih hidup dalam pemahamanku karena aku percaya penuh semua yang disampaikan itu benar.

Entahlah, apakah rekan-rekan bisa memahami apa yang aku rasakan ini. Mungkin aku kurang bisa menuliskan dengan baik. Cara lain untuk bisa lebih tahu, selain dari membaca tulisanku ini.. berdoalah untuk diberi pemahaman oleh Allah, karena Allah lah pemberi ilmu kepada kita semua.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.