Marhaban Ya Ramadhan August 22, 2009
Posted by Tara in Religy.1 comment so far
Tak terasa, Ramadhan kembali menjelang. Kesempatan untuk memperbanyak ibadah, karena ini adalah waktu yang utama. Kesempatan untuk memohon ampun atas segala dosa kita dalam setahun ini (antara Ramadhan sekarang dan Ramadhan tahun sebelumnya)
Aku berpikir ibadah apa yang sebaiknya diperbanyak. Satu hal yang jelas, perbanyak baca Qur’an, perbanyak shalat sunnah, usahakan shalat berjamaah sesering mungkin. Perbanyak baca tasbih, takbir dan takhmid dalam keseharian.
Sebenarnya banyak banget kesempatan beribadah. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah.
Salah satu kebiasaanku sejak dulu, aku ingin ada suatu pencapaian dunia juga dalam bulan Ramadhan ini. Cukup banyak ulama-ulama yang menyelesaikan karya besarnya di bulan Ramadhan. Proklamasi Indonesia juga di bulan Ramadhan (kalau nggak salah ya, persisnya silahkan cek lagi). Aku belum tahu apa yang akan aku kerjakan dalam bulan Ramadhan ini. Kali menyelesaikan buku Panduan Konsultan (yang udah berapa tahun tak terselesaikan nih :p) dan mencoba buat Buku Panduan Business Analyst. Hmm.. coba lihat deh bagaimana nanti.
Apapun, selamat berpuasa buat rekan-rekan yang menjalaninya. Semoga kita semua bisa mengisi bulan Ramadhan ini dengan ibadah-ibadah yang akan menjadi tabungan kita di hari akhir nanti, Amien.. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah ke kita semua, Amien..
Mengenal Tuhan January 12, 2009
Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.2 comments
Apakah kalian percaya Presiden SBY ada? Saya rasa kita semua percaya penuh SBY itu ada. Kita tentunya tidak menganggap SBY itu hanya rekaan yang diciptakan oleh media (meski kita mungkin belum pernah berhadapan langsung dengan SBY).
Hal lain, kita tentu sering mendengar dia bicara di TV, membaca pidato / pesan-pesan yang dia sampaikan di koran atau media-media lain. Mungkin malah menerima SMS blast dari beliau (tentang narkoba). Bagaimana respon kita? Yah, berlalu bersama angin ajah.. Saya rasa sebagian besar bersikap seperti itu.
Nah, seperti itulah mungkin sebagian besar kita bersikap terhadap Allah. Kita tahu, percaya dan yakin Allah itu ada. Tapi keyakinan kita seperti keyakinan kita terhadap SBY itu ada. Nggak ada bedanya, nggak ada rasanya.
Sekarang bedakan antara mengenal SBY dan mengenal sahabat baik kita, atau saudara atau pacar, atau siapapun lah yang dekat dengan kita. Yang kita bisa menemuinya, berbicara langsung dengan dia, dan kita punya pandangan yang baik tentang dia. Jika ditanya apakah seseorang yang dekat dengan kita itu ada? Dengan sangat mantap kita akan menjawab ” ada! “, lha tiap hari ketemu dan ngobrol kok. Kemudian kalau seseorang tadi berbicara memberikan info misal “eh besok berangkatnya lebih pagi 10 menit, daripada kena macet“, atau “hati-hati, jangan makan xxxx karena itu tercemar melamin” besar kemungkinan kita akan mengikuti pesan itu karena kita tahu pasti siapa yang memberikan pesan dan pengirim pesan tidak akan main-main.
Nah, seperti mengenal orang yang dekat itulah kita mestinya mengenal Tuhan. Cobalah untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat baik yang ada di depan mata kita. Allah itu bukan di angan-angan, jauh di awang-awang. Mengutip Nabi, Allah bahkan sedekat urat leher kita (tolong jangan ditafsirkan aneh-aneh dulu ya..). Coba benar-benar praktekkan itu dulu: tanamkan dalam kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat kita.
Setelah tertanam di kesadaran bahwa Allah itu ada, maka pahamilah, bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk dari Allah yang diberikan kepada kita, sebagai panduan kita hidup di dunia. Al-Qur’an bukan buat Nabi lho, itu semacam surat yang dikirim untuk kita. Pengirimnya adalah Allah (ini real, bukan khayalan) melalui Rasul. Jadi Rasul itu seolah tak lebih dari seorang tukang pos (note: ini bukan untuk merendahkan Rasul ya, tapi memberikan pemahaman tentang sang pembawa pesan dan pengirim pesan. Dan dalam kasus ini, Allah sebagai pengirim pesan adalah jauh lebih tinggi daripada Rasul. Rasul tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah). Hanya saja Rasul mengantarkan pesan dari Allah untuk ummat manusia.
Jadi harus benar-benar kita pahami, bahwa Al-Qur’an itu turun untuk kita semua! Itu bukan untuk Rasul seorang. Al-Qur’an diturunkan karena Allah Rahman dan Rahim. Allah memberi tahu semua yang kita perlu tahu agar selamat mengarungi kehidupan ini.
Dengan pemahaman ini, aku jadi jauhhhhhh lebih menghargai Al-Qur’an! Al-Qur’an bukan lagi sebagai kata-kata suci yang malah menjadi di awang-awang. Al-Qur’an menjadi benar-benar sebuah buku panduan. Dengan pemahaman ini aku lebih meyakini tentang keberadaan Iblis. Kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an jadi jauh lebih hidup dalam pemahamanku karena aku percaya penuh semua yang disampaikan itu benar.
Entahlah, apakah rekan-rekan bisa memahami apa yang aku rasakan ini. Mungkin aku kurang bisa menuliskan dengan baik. Cara lain untuk bisa lebih tahu, selain dari membaca tulisanku ini.. berdoalah untuk diberi pemahaman oleh Allah, karena Allah lah pemberi ilmu kepada kita semua.
Oleh-oleh dari berhaji December 25, 2008
Posted by Tara in Religy, Semua tentang Aku.4 comments
Alhamdulillah kemarin Allah memberiku kesempatan menjalankan ibadah haji.
Secara umum, Alhamdulillah prosesi ibadah berjalan lancar. Tidak ada hal-hal aneh lah yang terjadi selama prosesi ibadah itu.
Hal utama yang kudapat selama di sana justru ILMU. Alhamdulillah selama di sana Allah membukakan hati dan pikiran sehingga aku lebih mengetahui Tauhid.
Ibadah Haji, disebut sebagai puncak ibadah, ternyata sesungguhnya adalah puncak meng-ESA-kan Allah. Cermati talbiah yang dikumandangkan selama haji :
“Labbaik Allahumma labbaik
Labbaika laa syarika laka labbaik
Innal hamda wa ni’mata laka wal mulk
Laa syarika laka”
“Aku datang memenuhi panggilanmu Ya Allah, Aku datang
Aku datang memenuhi panggilanmu tidak ada sekutu bagi-Mu Aku datang
Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kekuasaan semua pada-Mu
Tak ada sekutu bagi-Mu”
Jadi dengan ibadah haji, kita benar-benar mengakui bahwa tiada tuhan selain Allah. Pengakuan itu kita wujudkan dalam kesediaan kita datang ke Arafah, menjalankan berbagai rukun haji dan memperbanyak kalimat talbiah diatas. Padahal kalau menggunakan logika manusia, ngapain sih bersusah payah di padang pasir tengah hari bolong? Ngapain sih mesti nginap di Mina? Nggak di Mekkah aja? Ngapain sih mesti melempar batu? Itu semua kita lakukan sebagai bukti bahwa kita mengakui tiada tuhan selain Allah, dan kita ikuti perintah-Nya! Kita buang semua logika kita. Kita korbankan apa yang kita perlukan untuk menjalankan perintah Allah tersebut. Kita keluarkan energi, kita alokasikan waktu, semua untuk memenuhi perintah Allah! Tak ada sekutu bagi-Nya!
Di situ aku tersadar, ternyata konsekuensi Laa illaha illa Allah itu besar.
Dari situ aku memahami arti kata Alhamdulillah. Dari situ aku memahami arti doa.
Dengan kata Laa illaha illa Allah, maka ketika berobat (minum obat atau ke dokter), kita harus dengan kesadaran bahwa yang menyembuhkan sesungguhnya adalah Allah, bukan obat atau dokter! Ini aku lihat sebagai bentuk ke-syirik-an yang mungkin tanpa sengaja banyak kita terpeleset. Makanya ketika sakit disana, dan ketika minum obat, aku sangat berhati-hati dan meyakinkan niat bahwa kesembuhan hanya dari Allah. Obat aku minum aku anggap sama seperti makanan membuat aku kenyang, tidur membuat aku hilang lelah. Obah hanyalah suatu alat sebab akibat yang bisa memberi efek terhadap kesembuhan. Tapi kesembuhan sesungguhnya diberikan oleh Allah, entah melalui obat itu, melalui istirahat yang cukup, melalui air zamzam yang kuminum, atau melalui udara kering yang kuhirup, entahlah. Yang pasti, kesembuhan itu dari Allah asalnya! Itu adalah salah satu contoh.
Dalam segala kehidupan kita harus menterjemahkan bahwa semua yang kita terima itu dari Allah. Aku boleh menerima hadiah dari seseorang, tetapi hakekatnya itu dari Allah. Aku boleh mendapatkan kebahagiaan dari sesuatu, tetapi hakekatnya itu dari Allah. Dan sebagai ucapan terimakasih terhadap Allah, maka kita ucapkan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah). Tidak perlu repot mengidentifikasi pujian apapun, karena SEGALA puji yang kita ucapkan bagi Allah, sebagai ucapan terimakasih atas semua yang kita terima dari-Nya.
Konsekuensi dari Laa illaha illa Allah adalah dalam SELURUH kehidupan, kita harus selalu ingat Allah. Allah itu ada, dan Allah lah yang memberikan semuanya. Apapun itu. Dengan pemahaman ini, maka WAJIB lah bagi kita untuk berdoa meminta pada-Nya. Karena kalau kita tidak meminta pada-Nya, yang terjadi adalah kita mempercayai ada yang bisa memberi selain-Nya (entah itu kekuatan kita, entah itu orang lain), artinya kita terjebak pada syirik! Dengan pemahaman itu, aku mulai saat itu berdoa hingga ke hal-hal yang kecil-kecil. Dulu aku termasuk yang menganggap hal-hal kecil itu tidak layak dibawa ke doa, itu urusan sepele. Ternyata pemahamanku ini salah besar, dan terkoreksi dengan pemahaman baru selama ber-haji ini.
Itulah oleh-oleh berhaji yang aku dapatkan. Masih ada sih beberapa pemahaman yang aku dapat seperti:
1. Al-Qur’an itu petunjuk dari Allah untuk manusia, disampaikan melalui Rasul (kelihatannya sederhana ya? Tapi memahaminya ternyata luar biasa!)
2. Salah satu bukti kebesaran Allah adalah Zamzam yang tidak mengikuti hukum-hukum alam.
Sebagai penutup, aku tidak berganti nama. Aku tetaplah seorang Taufiq yang seperti kemarin. Tidak ada istilah Pak Haji. Ini aku sampaikan ke setiap teman yang meski bercanda menyebutkan istilah itu. Saat berhaji, niat yang adalah laa riya’an wala sum’ah (tidak ada riya dan tidak ada keinginan populer). Aku menuliskan ini sebagai penyampaian hikmah saja, berharap dapat bermanfaat bagi yang lain.
Tuhan telah memberiku banyak.. August 13, 2008
Posted by Tara in Religy, Semua tentang Aku.2 comments
Alhamdulillah,
Tuhan telah memberiku banyak
sesuatu yang mungkin tidak banyak orang menerimanya
Ke depan..
Aku percaya Tuhan akan terus memberiku
entah apa, aku tidak tahu
satu hal yang aku pasti
Tuhan akan memberi yang terbaik untukku
meski kebodohanku terus mempertanyakan: Apa?? Kapan??
Ditengah pertanyaan itu..
aku ingin menjadi orang yang mati
mati dengan kehendak
seperti alam
menerima semua yang ada
hanya dengan tasbih dan syukur
tanpa ada
pertanyaan APA dan KAPAN
hmm.. jadi ingat ucapan Ali, R.A.
“Waktu ibarat pedang, jika kamu tidak menggunakannya, dia akan memotongmu”
(kira-kira seperti itu lah bunyinya..)
mungkin, saat ini aku telah terpotong-potong
mungkin pula, ini belumlah masaku
dalam seperti ini, aku sadar
betapa manusia sangatlah bodoh
bahkan untuk satu menit ke depan pun tidak tahu apa yang akan terjadi
Tuhan.. kuatkanlah aku untuk terus bersyukur
atas semua nikmat yang kau berikan
Amien..
Takdir dan Hukum Alam April 24, 2008
Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.29 comments
Aku tiba-tiba menemukan sesuatu yang selama ini terasa tidak sreg dalam pembicaraanku dengan Budi.
Dalam beberapa kali (sering), Budi berkata bahwa Tuhan menjalankan takdir melalui hukum-hukum alam.
Aku merasa tidak nyaman karena aku menganggap bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak. Tuhan tidak akan diikat oleh hukum alam.
Nah, yang barusan terbetik dalam benakku adalah, bahwa kekuasaan Tuhan berjalan sesuai kekuasaan Tuhan itu! Tidak akan diikat oleh hukum alam! Tetapi hasil kekuasaan Tuhan itu akan dibaca oleh manusia sebagai hukum alam baru!
Misalkanlah, seseorang berjalan ke jurang, dan kemudian terjatuh ke dalam jurang. Secara hukum alam, dikatakan orang tersebut akan terus tertarik gravitasi hingga ke dasar jurang yang sangat dalam. Tapi menurutku, SANGAT MUNGKIN ternyata orang itu tiba-tiba terhenti pada suatu titik sebelum dasar, dan orang itu selamat. Dan ketika dicek, ternyata (MUNGKIN) baru diketahui bahwa hukum gravitasi memiliki perkecualian pada titik tertentu. (note: ilmu yang dimiliki manusia terus bergerak. Hukum gravitasi telah dikoreksi oleh E=MC^2. Hukum Einstein pun diperkirakan akan dikoreksi kembali, karena telah ditemukan materi yang kecepatannya melebihi cahaya).
Hal lain juga, Tuhan bisa menjalankan kekuasaannya melalui sesuatu yang kita sebut MUKJIZAT. Mukjizat ini merujuk kepada berbagai hal yang logika kita tidak bisa menjangkaunya. Harus disadari, bahwa ilmu yang telah dikuasai manusia masih sangatlah sedikit. Masih sangat banyak hal di alam ini yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Yang sederhana misalnya: mimpi! Ilmu pengetahuan baru bisa menjelaskan mimpi menurut teori Freud. Tapi teori Freud tidak bisa menjelaskan tentang mimpi yang berupa suatu penglihatan peristiwa yang PERSIS TERJADI di tempat yang jauh atau di masa depan! Teori Freud baru sebatas mimpi sebagai luapan bawah sadar. Di dunia kedokteran, pengetahuan tentang otak aja masih sangat sedikit. Di dunia fisika, hukum tunggal (unified theory) masih belum juga bisa ditemukan.
Mukjizat ini MUNGKIN juga berjalan dengan hukum alam, hanya saja dilakukan oleh sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Misalkan dalam kasus orang jatuh ke jurang, kok malah bisa terbang naik dengan sendirinya? (MISALKAN…) ternyata orang itu diangkat oleh Malaikat. Dalam peristiwa ini hukum gravitasi tetap berjalan seperti biasa, hanya saja terdapat kekuatan yang melawan (dilakukan oleh Malaikat) yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Contoh kasus yang jelas di sini adalah Isra’-Mi’raj. Secara logika manusia, hal ini tidak masuk akal (karena tidak ada kendaraan yang bisa melakukan itu). Tetapi dengan mempertimbangkan adanya Bouraq, maka hal ini menjadi bisa. Dalam kasus ini hukum gravitasi, hukum energi, dll mungkin masih berjalan. Hanya saja manusia belum mengenal Bouraq dengan segala karakteristiknya. Manusia baru sebatas mengenali sapi, kuda dan onta!
Selain itu MUNGKIN juga mukjizat itu benar-benar tidak mengikuti hukum alam, tetapi mengikuti KUN FAYAKUN (Jadilah! maka jadilah)! Jadi ketika Tuhan berkehendak itu terjadi, saat itu pula terjadi. Dan ini tanpa melalui hukum alam. Hal-hal sederhana misalnya dalam kasus orang sudah terdeteksi memiliki penyakit. Semua record (rontgen dan berbagai pemeriksaan) telah memastikan penyakit ini. Namun pada saat akan dioperasi, tiba-tiba penyakit sudah sembuh. Ini kejadian yang banyak dilaporkan.
Itulah bukti-bukti yang bisa kuperlihatkan bahwa Tuhan tidak diikat oleh hukum alam. Keputusan Tuhan lah yang akan dikenali manusia sebagai hukum alam baru. Atau akan dikenali sebagai suatu mukjizat karena dipengaruhi oleh unsur-unsur yang tidak diketahui manusia (misal: Malaikat), atau karena memang Tuhan langsung yang berkehendak (Kun fayakun).
To Budi:
Dengan penjelasan ini, maka SANGAT MUNGKIN suatu saat kita memahami bahwa 1+1 = 3 dan 1+1= 5, dan 2 = 3 = 5. Who knows 200 tahun lagi itu dipahami manusia:)
Takdir dan Kehendak Bebas Manusia March 20, 2008
Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.21 comments
Tulisan ini merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dilontarkan Budi. Tulisan ini dibuat hanya berdasar referensi-referensi yang pernah saya baca dan terus saya ingat, jadi bukan merupakan tulisan final hasil penelaahan mendalam. OK, start menulis!
Berbicara tentang takdir dan kehendak bebas, maka pertama kali yang akan diajukan pertanyaan adalah: Apa REFERENSI yang akan dijadikan patokan utama? Pada tulisan ini, karena saya seorang muslim, maka referensi utama yang akan saya pakai adalah Al-Qur’an. Lain-lain, sebagai tambahan aja.
Tentang TAKDIR, dalam Al-Qur’an ada dijelaskan bahwa semua yang terjadi TELAH TERTULIS seluruhnya dalam Kitab Lauhul Mahfudz (persis ayat dan suratnya aku lupa, silahkan kalau ada yang mau melengkapiJ). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 1 : Apa yang terjadi semua, tidak akan luput dari ketentuan-Nya.
Di sisi lain, dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an banyak dicantumkan perintah untuk bertindak (amal shalih, dll). Kemudian dijelaskan (sebagai persuasi kepada manusia) akibat dari tindakan-tindakannya (amal baik dan amal buruk). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 2: bahwa manusia diberi kebebasan untuk memilih/ berbuat.
SEPINTAS terlihat kontradiksi dari dua kesimpulan di atas. Bagaimana mungkin manusia mendapat kebebasan kalau semua yang terjadi sudah dituliskan dalam Lauhul Mahfudz? Artinya, manusia hanya berjalan sesuai dengan yang tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz, tanpa bisa memilih jalan yang lain! Ini merupakan keraguan yang muncul dari “kontradiksi” yang kita temukan dalam Al-Qur’an.
Sekarang kita coba lihat lebih teliti. Memang Al-Qur’an menerangkan tentang Lauhul Mahfudz sebagai Kitab yang mencatat semua takdir yang akan berlaku. Namun, TIDAK ADA SATUPUN ayat atau hadist yang menjelaskan bagaimana bentuk/ tulisan Lauhul Mahfudz itu. Dari sini muncul pertanyaan, apakah tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfudz itu berupa suatu deskripsi atau berupa formula/ hukum-hukum Allah ?
Ilustrasi berikut merupakan penjelasan dua kemungkinan diatas :
Kita misalkan ada seseorang bernama Amin yang akan bepergian. Jika tulisan dalam Lauhul Mahfudz berupa deskripsi, maka akan ditulis bahwa “Amin akan berada pada koordinat (2,2)”. Artinya, Amin tidak mungkin berada di tempat selain (2,2), artinya Amin tidak punya kebebasan sedikitpun untuk bisa memilih.
Tapi coba bayangkan, SEANDAINYA tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfuz berbunyi “Amin akan berada pada garis persamaan Y=X”.
Artinya, Amin bisa berada di titik (1,1), (2,2), (3,3) atau malah (5,5). Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Amin memiliki kebebasan untuk menentukan posisinya sendiri, namun masih dalam takdir Tuhan (yaitu di garis Y=X). Namun Amin tidak bisa sedikitpun bergeser dari takdir Tuhan. Amin tidak akan bisa ke posisi (2,3) meskipun dia ingin dan berusaha keras untuk itu.
Berbicara tentang kemungkinan takdir Tuhan ditulis dalam bentuk formula, bukan deskriptif, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah semua ketentuan Tuhan bersifat dinamis, tidak ada yang mutlak?
Mari kita review sebentar tentang formula. Formula itu ada yang sederhana dan ada yang kompleks. Contoh Y=X adalah formula yang SANGAT SEDERHANA. Y =((X.X.c.d.b.a + 2aX)^( X.c – (2t.a)^b ))* (50-t) merupakan contoh formula yang agak kompleks (definisi formula kompleks adalah: ketika kita melihat dan kita bingung, maka itu kompleks
)
Terkadang ada juga formula yang mau apapun juga tindakan kita, hasilnya pasti angka tertentu. Misalkan formula diatas, mau berapapun nilai X, a,b, c, dan d, pada saat “t=50” maka hasilnya pasti akan 0 (nol). Artinya, SEANDAINYA ketentuan Tuhan semua ditulis dalam bentuk formula, maka tetap saja keputusan mutlak Tuhan tetap dimungkinkan. Jadi, misalnya Tuhan mau mentakdirkan umur manusia cuman 50 tahun, sangat sangat mungkin itu diwujudkan dalam formula.
Tulisan ini bukanlah menggambarkan apa yang sebenarnya tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Tapi hanya SEBUAH KEMUNGKINAN tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Artinya, masih ada kemungkinan lain pula. Tapi point utamanya adalah, bahwa KESIMPULAN 1 dan KESIMPULAN 2 yang disebutkan di awal bukanlah suatu kontradiksi. Apa yang disampaikan Tuhan dalam Al-Qur’an pastilah benar. Artinya, Tuhan memiliki ketentuan yang PASTI akan berjalan, dan manusia pun juga memiliki kebebasan.
Pemikiran seperti ini muncul dari pengolahan semua yang pernah kuterima, baik bacaan ataupun pengalaman langsung. Aku sudah merasakan betapa kekuasaan Tuhan berbicara melebihi pemikiran manusia. Aku sudah merasakan betapa ketika aku mau memilih A, ternyata Tuhan memberiku B. Padahal semua usahaku mengarah pada A, sama sekali tidak mengarah ke B. Dan ternyata B ini merupakan sesuatu yang sangat vital buat perkembanganku kemudian. Dan ini bukan hanya satu kejadian. Ada beberapa.
Pemahaman-pemahaman ini lah yang kemudian membuat aku jauh lebih melunak dibandingkan dulu. Aku bukan lagi karang tajam yang melukai sekelilingku. Aku mungkin masih keras (kata banyak orang:p), tapi buat yang mengenalku dengan benar sejak dulu, akan tahu adanya perubahan ini. Tuhan sudah pernah menghancurkan diriku dan membentuk diriku kembali. Itulah salah satu kekuasaan Tuhan yang aku rasakanJ.
Peringatan dari Tuhan February 25, 2008
Posted by Tara in Religy.20 comments
Entah kenapa, aku lagi banyak merenung…
Aku termasuk orang yang merasa beruntung. Aku merasa betapa Tuhan sering memberikan peringatan ke aku. Setiap kali kakiku melangkah ke kiri, Tuhan memberikan kejadian-kejadian sebagai pengingatku.
Tanpa Rahman dan Rahim-Nya, mungkin aku telah sangat jauh tersesat.
Aku hanya berharap dan berdoa, semoga peringatan-peringatan Tuhan selalu turun ketika hatiku lalai.
BTW, sehabis ini aku kok pengen nulis tentang takdir dan kehendak bebas manusia, adakah kontradiksi di dalamnya?
Ini menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sering dilontarkan Budi. Coba deh aku cari waktu..
Pengingat February 24, 2008
Posted by Tara in Ragam, Religy.6 comments
Aku menemukan blog ini :
http://andri-irawan.blogspot.com/
Subhanallah, indah sekali..
Dapat membukakan mata kita pada kebesaran Illahi.
Membukakan mata hati kita…
Iqra’ January 5, 2008
Posted by Tara in Education, Pengetahuan Umum, Religy.5 comments
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Q. S Al-Alaq (1-5)
Aku ingin menuliskan tentang membaca.
Membaca itu sebenarnya adalah “mengartikan/ memahami tanda-tanda yang kita lihat“. Perhatikan gambar ini :

![]()
Pada mulanya kita melihat sebuah titik. Kemudian beberapa titik yang berdekatan, saking dekatnya kita melihat itu sebagai sebuah garis. Garis ada yang lurus ataupun melengkung. Pada tahap ini kita sudah selangkah lebih maju dari binatang, yaitu kita mengidentifikasi apa yang kita lihat.
Pada tahap selanjutnya, bentuk-bentuk tertentu kita artikan. Sehingga sebuah garis dengan bentuk tertentu kita “baca” sebagai huruf “a“. Maka membaca disini adalah “menafsirkan garis-garis dengan bentuk tertentu sebagai huruf a“. Langkah selanjutnya adalah beberapa huruf disusun menjadi satu kata. Beberapa kata disusun menjadi kalimat, selanjutnya menjadi parafgraf, dan akhirnya menjadi sebuah tulisan yang lengkap. Dan itulah membaca yang kita kenal selama ini, yaitu membaca tulisan/ dokumentasi.
Selain tulisan, kita juga mengenal simbol. Semisal tanda ini
akan kita baca sebagai senyum.
Pertanyaannya, apakah perintah Iqra’ yang terdapat pada S. Al-Alaq itu artinya membaca dokumen yang tertulis saja?
Saya tidak cenderung menafsirkan demikian. Saya cenderung mengartikan membaca adalah sesuai definisi dasarnya, yaitu “mengartikan/ memahami tanda-tanda yang kita lihat“. Tanda yang dapat dilihat tidak melulu garis ataupun titik buatan manusia. Tanda yang dilihat adalah semua yang ada di alam semesta ini. Kalau kita melihat gunung mengeluarkan ledakan-ledakan kecil, dan kita mengatakan gunung akan meletus, maka itu termasuk membaca! Kalau kita melihat awan hitam bergelung-gelung dan angin kencang, kita katakan bahwa akan terjadi hujan, maka itupun termasuk kita membaca!
Jadi membaca sebenarnya bisa dilakukan oleh semua manusia. Baik itu seorang nelayan di pedalaman ataupun profesor yang dikenal hebat. Semua bisa membaca.
Pertanyaan lain, sudahkah kita mampu membaca dengan benar hal-hal yang tertulis tidak dengan huruf-huruf ciptaan manusia? Ketika kita melihat bulan, bintang, hujan, kapal berlayar, manusia bersuku bangsa, dll, apa arti semua itu? Sebuah ayat ini barangkali bisa menjadi petunjuk bagi kita :
65. Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran). (Q.S. An- Nahl, ayat 65)
Capek?? December 5, 2007
Posted by Tara in Religy.1 comment so far
Apakah kalian sedang merasa capek dalam hidup?
Merasa banyak cobaan, kesusahan, dll yang memberatkan?
Then, bacalah Surat Al-Ankabut ayat 1-3 yang artinya sebagai berikut :
- Alif laam miim
- Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
- Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Subhanallah..
Aku dulu pernah di saat capek, rasanya pengen nangis aja. Kemudian aku membuka sembarang Al-Qur’an untuk mendapat hikmah. Ternyata ayat diatas yang kebetulan aku buka!
Lemas langsung badanku….
Aku yang tadinya capek, ingin sedikit bermanja dengan berkeluh kesah, ternyata mendapat tamparan dengan ayat itu! Mau melawan bagaimana lagi coba?!
Ketika kita merasa capek dengan takdir yang diberikan Tuhan, artinya kita tidak menyukai Tuhan! Artinya kita menolak takdir-Nya. Kalau baru sedikit cobaan saja, kita sudah berani mempertanyakan takdir-Nya, apakah layak kita mengaku beriman?
Then, tamparan ini “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” membuat aku lemas…. tidak bisa mengelak…. Tidak bisa bermanja-manja mengatakan diriku capek.
Astaghfirullah hal adziem.. betapa sering aku mengeluh dalam hidup ini, seolah menggugat takdir-Nya:(

