jump to navigation

Tatanan masyarakat baru December 19, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Sangat menarik membaca berita ini :
====

Sperm Donor Dad Has 400 Children Rachel Lehmann-Haupt
By Rachel Lehmann-Haupt

KOMPAS.com – It’s a crisp fall day in Northville, Mich., a small suburb of Ann Arbor, and Kirk Maxey, a soft-spoken, graying baby boomer with a classic square jaw, is watching his 12-year-old son chase a soccer ball toward the goal. Maxey is doing what he does every Saturday, along with hundreds of other family men and women across the country, but he’s not your average soccer dad. Maxey, 51, happens to be one of the most prolific sperm donors in the country. Between 1980 and 1994, he donated at a Michigan clinic twice a week.

He’s looked at the records of his donations, multiplied by the number of individual vials each donation produced, and estimated the success of each vial resulting in a pregnancy. By his own calculations, he concluded that he is the biological father of nearly 400 children, spread across the state and possibly the country.

When Maxey was a medical student at the University of Michigan, his first wife, a nurse at a fertility clinic, persuaded him to start donating sperm to infertile couples. Maxey became the go-to stud for the clinic because his sperm had a high success rate of making women pregnant, which brought in good money for the clinic. Maxey himself made about $20 a donation, but says he was motivated to donate more out of a strong paternal instinct and sense of altruism.

“I loved having kids, and to have these women doomed to wandering around with no family didn’t seem right, and it’s easy to come up with a semen donation,” he says. “You would get a personal phone call from a nurse saying, ‘The situation is urgent! We have a woman ovulating this morning. Can you be here in a half hour?’ “

Maxey, now the CEO of Cayman Chemical, a 300-person global pharmaceutical company, says back then he just “didn’t think about it a lot.” He didn’t have to. When he began volunteering, he wasn’t asked to take any genetic tests and received no psychological screening or counseling.

He merely signed a waiver of anonymity, locked himself in a room with a cup and a sexy magazine, and didn’t consider the emotional or genetic consequences for another 30 years. Both his cavalier attitude and the clinic’s lax standards, Maxey says, explain why he may have so many offspring.

But now a fierce conscience is catching with his robust procreative drive. When he’s not running his company, Maxey has become a devoted advocate for better government regulation of the sperm-donor business. He is also making his genome public through Harvard’s Personal Genome Project, and hopes that the information collected there might one day help his offspring and their mothers.

“I think it was quite reckless that sperm banks created so many offspring without keeping track of their or my health status,” he says. “Since there could be [many families] that could have to know information about my health, this is my effort to correct the wrong.”

Maxey began donating before sperm banking became the big visible business it is today, where single women and couples can purchase STD-free, Ivy League, celebrity-look-alike sperm that has been quarantined and meets FDA mandates. But, in the ’70s and ’80s, the business operated behind a veil of secrecy.

A man could clandestinely make some extra cash by donating to an infertile couple, and more often than not the ob-gyn, not the prospective families, would choose the sperm—his favorite tennis partner, perhaps, or in the case of Kirk Maxey, the handsome, blue-eyed, Nordic husband of his nurse.

Now the confluence of genetic science and an increased awareness around the consequences of sperm donation is changing the game—and potentially the lives of Maxey’s offspring. Today sperm donation is no longer a shadow business, partially because infertility, single motherhood, and homosexual parenting have become more socially acceptable. (The California Cryobank alone now sells an average of 30,000 vials of sperm a year.)

At the same time, donors and offspring have begun to connect though genetic testing and Web sites like the Donor Sibling Registry. In 2007 two of Maxey’s offspring, Ashley and Caitlyn Swetland, who are now 21 and 18, used the site to find Maxey, who had been a registered user since 2005.

The sisters lived just 45 minutes away from Maxey, and soon began visiting a few times a year, going rock climbing with Maxey and his son or meeting up at an old-fashioned-style ice-cream parlor. No other children have come forward, but as Maxey’s relationship with Ashley and Caitlyn progressed, he began to think about the consequences of his earlier donations.

“I had this ‘Oh my God’ moment, thinking, how many kids have been produced?” he says. “I thought the doctors were keeping track of each birth, but when I realized they weren’t, I began to worry. What if they start dating one another?” He also began to worry about their genetic health. “I wanted to know if I have anything totally lethal or deranged or recessive in my genes that I may have passed along.”

These were questions that neither the sperm bank nor the government was asking. Several times Maxey tried to contact IVF Michigan, the bank where he made most of his donations, but it refused to release any information, noting that he signed a waiver to give up his rights to know who used his sperm.

That’s still common practice among sperm banks unless a donor has agreed to be an “identity release” donor, which gives his offspring the right to get in touch when they turn 18. Even today, sperm banking is not strictly regulated. Currently, there are only recommended guidelines put in place by the American Society for Reproductive Medicine that say a donor should be required to provide a complete medical history to rule out “genetic abnormalities” or a family history of inherited disease and should receive proper counseling.

Rachel Lehmann-Haupt is the author of In Her Own Sweet TIme: Unexpected Adventures in Finding, Love, Commitment and Motherhood (Basic Books, 2009)
======
Sangat menarik pertanyaan diatas : bagaimana jika anak-anak hasil bank sperma dengan ayah yang sama kemudian menikah?
Sepertinya akan ada suatu tatanan masyarakat baru, dimana ayah legal adalah ayah yang mengasuh, dan ayah biologis adalah pemilik sperma yang digunakan (dan untuk menjaga anonimity, hanya menggunakan kode yang tidak bisa dilacak pemilik aslinya).

Note: ini aku belum membahas sisi agama ya..

Kemungkinan kejahatan di kasus Century December 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
1 comment so far

Melihat ramainya kasus century, jadi ingin ikut-ikutan nulis juga euy.

Disini aku cuman ingin menuliskan KEMUNGKINAN kejahatan yang terjadi pada kasus Century. Aku menuliskan ini karena melihat banyak omongan orang kok melenceng ke kiri dan kanan.

Mencermati kasus talangan dana century, aku mengidentifikasi KEMUNGKINAN kejahatan dalam bentuk :

1. Pemerasan kepada nasabah yang takut kehilangan uang.

Sebagai ilustrasi, misalkan seseorang memiliki simpanan di Century senilai Rp 200 milyar. Jika Century sampai ditutup, yang terjadi adalah duit Rp 200 milyar itu akan hilang, hanya diganti sebesar Rp 2 milyar. Jelas si orang ini akan keberatan kalau Century ditutup. Nah, misalkan orang ini kemudian diperas oleh seseorang yang memiliki kekuasaan: dia mesti setor Rp 50 milyar, maka duitnya dia balik. Dengan seperti ini maka orang ini akan terpaksa memberikan uang Rp 50 milyar sebagai setoran. Logika yang dia pegang: lebih baik kehilangan cuman 50 milyar deh daripada kehilangan 198 milyar.

Dalam kasus ini, bagaimana PPATK mendeteksi? Gampang: cukup cari pencairan (ataupun aktifitas transfer/ pemecahan rekening) yang secara kumulatif cukup besar dari satu rekening tertentu. Kemudian lacak pergerakan uang tersebut, lari ke mana saja. Kemungkinan akan ada yang lari ke rekening pihak tertentu. Hanya saja, sayang sekali, ternyata PPATK dibatasi hanya menelusuri sampai 7 lapis transaksi. Aku nggak tahu kenapa ada batasan ini, apakah teknis atau hukum. Cuman seandainya aku seorang penipu/ pemeras dan tahu batasan ini, dengan mudah aku bisa membuat 10 lapis transaksi dan transaksi uang pemerasannya pada transaksi ke-11, jadi tidak ketahuan.

2. Pencairan dana kepada yang tidak berhak.

Model kejahatan ini cara mudahnya adalah secara tiba-tiba muncul account di Century. Misalkan aku sebenarnya tidak pernah punya tabungan di Century. Tapi pas saat itu tiba-tiba saja aku jadi memiliki tabungan Rp 50 milyar (tentu saja ini tabungan palsu). Kemudian aku melakukan pengambilan uang tersebut.

Atau cara lain: Century disaat krisis tersebut malah memberikan kredit kepada perusahaan antah berantah dalam jumlah besar (misal: Rp 50 milyar). Perusahaan ini tidak jelas siapa pemilik, management maupun alamatnya. Dan kredit tidak melalui proses yang benar. Maka bocorlah uang dari bank Century ke perusahaan bodong tersebut.

Untuk mengetahui ini maka yang diperlukan adalah audit terhadap Bank Century. Adakah perilaku-perilaku menyimpang di dalamnya. Siapa yang bisa melakukan audit? Kemungkinan adalah KAP (Kantor Akuntan Publik) atau BPK.

3. Transaksi merugi

Misalkan Century ingin membocorkan duit, Century membuat transaksi jual beli valas sehingga posisi Century merugi. Transaksi ini bisa dalam waktu 1 hari ataupun 1 minggu, tetapi sudah diatur agar tujuannya Century merugi dan pihak lawan transaksinya beruntung. Proses ini tidak harus diwujudkan melalui 1 pihak lain, bisa saja melaui dua perusahaan, misal A dan B. Jadi century membeli valas ke A, kemudian jual valas ke B. Kemudian A dan B melakukan transaksi tersendiri.

Untuk mencermati kejadian ini, maka yang diperlukan adalah proses audit oleh KAP atau BPK. Cek apakah posisi transaksi valas merugi. Jika tidak ada kerugian, maka tidak perlu dilakukan cek (artinya tidak ada kejahatan melalui ini). Jika ternyata posisinya merugi, kemudian dilacak apakah proses transaksi telah dilakukan dengan benar. Perhatikan lawan transaksi Century siapa, kemudian pada saat dilakukan transaksi tersebut, kondisi pasar umumnya seperti apa.

Itulah beberapa KEMUNGKINAN kejahatan dalam kasus bailout Century senilai 6.7 trilyun ini. Sekali lagi, ini hanyalah suatu KEMUNGKINAN. Persisnya, ya harus dicek lagi. Dari tulisan ini terlihat, bahwa untuk membuka kejahatan-kejahatan di Century, PPATK hanya memungkinkan menelusuri kasus 1. Sementara kasus 2 dan 3 harus dengan bantuan BPK atau KAP. Jadi, memang tidak bisa terlalu berharap hanya pada PPATK.

Hasil Rekomendasi Tim 8 November 18, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Mencermati kasus Penahanan Ketua KPK non aktif November 1, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
1 comment so far

Aku menemukan link yang menarik :
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/10/31/fakta-fakta-kemunafikan-polri-dalam-mengasuskan-bibit-dan-chandra/

Analisanya bagus, cukup komplit.

Kalau saya, secara logika sederhana saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa logika polisi itu salah. Logika sederhananya adalah :

Bagaimana mungkin pihak yang JELAS mengeluarkan uang untuk suap (Anggodo) HANYA MENJADI SAKSI, sementara pihak yang KATANYA disuap, namun TIDAK ADA BUKTI satupun tentang suap masuk ke mereka, malah menjadi TERSANGKA??

Bagi saya, jika dengan logika sederhana saja sudah jelas terlihat salah, saya tidak mau mencari-cari lebih rumit lagi. Analisa lebih dalam tidak akan mengubah hasil analisa sederhana (jadi sekali sudah dikatakan logikanya salah, dianalisa lebih dalam pasti juga tetap salah!). Analisa lebih dalam hanya menghasilkan pemahaman lebih dalam dari berbagai sisinya.

Pertanyaan lanjutan adalah, kemana perkembangan situasi ini? Jika melihat respons masyarakat, seperti yang muncul di facebook ini : http://www.facebook.com/posted.php?id=169178211590&share_id=169582240901&comments=1#/group.php?gid=169178211590 saya memprediksi perlawanan masyarakat akan membesar. Tidak tertutup kemungkinan ini akan menjadi gerakan massa, dan kasus 1998 akan terulang kembali.

Adakah jalan damai untuk menyelesaikan ini? Jalan damai mungkin dilakukan dengan adanya pembekuan semua kasus korupsi yang sudah terjadi, dan fokus untuk pencegahan korupsi di depan. Itu yang kelihatannya mungkin. Secara logika, dengan tuduhan korupsi yang sedemikian banyak, sekiranya KPK bekerja dengan benar dan semua terbukti, maka hasilnya akan mengerikan bagi Pemerintah saat ini. Perhatikan dari link diatas, saya cantumkan kutipannya di bawah ini, terdapat 4 menteri di kabinet baru ini yang tersangkut kasus Joko Tcandra :

Fakta yang nyata adalah Bibit Samad Rianto melakukan pencabutan cekal pada Joko Tjandra karena sebelumnya KPK memperkirakan terjadi aliran USD 1 juta (Rp 10 miliar) dari Joko Tjandra kepada Arthalyta Suryani. Namun ternyata dana Rp 10 miliar dari Joko Tjandra, sang buronan koruptor ini mengalir ke Yayasan Kesetiakawanan dan  Kepedulian (YKDK) milik Mars. (Purn) TNI Djoko Suyanto, Mantan Kapolri Jend (Purn) Sutanto, dan mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan mantan Ketua KADIN MS Hidayat. Djoko Suyanto sendiri merupakan Wakil Ketua Kampanye SBY-Boediono, dan entah kebetulan atau tidak YKDK mulai beraktivitas (kegiatan sosial) di Januari 2009, tepat bersamaan dengan gencarnya iklan Demokrat-SBY pada periode sama hingga Juli 2009.

Jika menjadi suatu gerakan massa, apa yang akan terjadi kemudian? Analisa saya, gerakan massa akan melahirkan langkah-langkah strategis dan kompromis dari Pemerintah, karena jika tidak ada langkah kompromis, yang terjadi Indonesia bisa hancur lagi Pemerintahannya. Dan akan ada kesulitan mencari Presiden baru, then permasalahan akan kompleks. Dan dalam kondisi kekacauan politik tersebut, peranan Pemerintah dalam ekonomi akan jauh dari optimal.

Rasanya berat untuk menganalisa lebih jauh lagi. Satu, berat hati. Yang kedua, analisisnya juga berat.

So, sementara ini saya hanya bisa mengucapkan : selamat berjuang Pak Bibit dan Pak Chandra, selamat menjadi martir perjuangan bangsa. Namamu terukir di hati banyak orang Indonesia. Semoga Tuhan memberikan kekuatan pada kalian berdua, Amien..

Dan semoga bangsa ini bisa terus maju, menyelesaikan masalah-masalah yang ada tanpa merusak langkah yang telah dicapai, Amien..

Republik Pelawak, dengan Komisi Pelawak June 23, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Aku mengelus dada dalam beberapa hari ini.

Sekitar seminggu lalu aku membaca buku pledooi dari Iqbal, mantan Ketua KPPU yang tertangkap tangan saat menerima suap. Satu hal yang menarik aku cermati di pledooi itu, yaitu surat perintah penyadapan terhadap Iqbal dan Billy ternyata 1 bulan sebelum mereka berkenalan. Mereka berkenalan ketika diperkenalkan oleh Tadjudin Noer Said. Kira-kira seperti itulah isinya (maaf, hanya resume aja, lengkapnya silahkan cari buku tersebut). SEANDAINYA (tolong perhatikan kata SEANDAINYA ini dengan baik!) hal itu benar, maka besar kemungkinan ada upaya penjerumusan / penjebakan atas seseorang, dan ini melibatkan KPK! (sebagai pihak yang melakukan penyadapan).

Belum selesai keprihatinanku, beberapa hari kemudian muncul berita: KPK menyadap telephone Nasrudin (korban yang diduga dibunuh atas perintah Antasari, mantan ketua KPK) dan Rhani (perempuan, kisah segitiga Antasari, Nasrudin dan Rhani). Dan perintah penyadapan ini ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK, Chandra Hamzah.

Ketika dilakukan konfirmasi, mulailah berbagai komentar lucu muncul dari para pelaku ini :

1. Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/175856/1152204/10/antasari-tak-perintahkan-sadap-tapi-cek-hp-nasrudin-rhani

“Jadi menurut Pak Antasari tadi kepada penyidik, tidak pernah perintahkan secara lisan maupun tulisan untuk menyadap nomor tersebut. Pak Antasari hanya meminta mengecek dua nomor itu,” kata pengacara Antasari, Maqdir Ismail, usai mendampingi pemeriksaan Antasari di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (22/6/2009).

Bisakah dijelaskan, “meminta mengecek” itu memangnya seperti apa? Apakah petugas KPK disuruh telpon ke nomor itu dan tanya: “anda siapa ya?”. Sebodoh dan seidiot itu kah???

2.  Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/171007/1152134/10/kpk-penyadapan-yang-kami-lakukan-tidak-langgar-kode-etik

Dalam jumpa pers ini, Chandra juga mengungkapkan bahwa KPK memang menyadap sejumlah nomor telepon yang diberikan Antasari Azhar. Nomor-nomor telepon itu yang digunakan pelaku teror terhadap istri Antasari Azhar. Salah satu teror yang diterima istrinya, Antasari diminta tidak melanjutkan pengusutan sebuah kasus korupsi.

Kenapa begitu mudahnya KPK mengatakan bahwa itu teror berbahaya, sehingga harus disadap no hp tersebut? Bukankah Antasari tahu kalau orang tersebut adalah Nasrudin dan Rhani? Kenapa tidak langsung ditangkap saja orang tersebut atas tuduhan teror? Kenapa KPK langsung melakukan penyadapan? Kalau memang karena teror, memangnya KPK boleh menyadap untuk mengungkap teror? Bukankah yang berhak menangani teror adalah Polisi? Kalaupun karena kecurigaan adanya kasus korupsi yang melibatkan Rhani (seorang caddy gitu loh..),  kenapa semudah itu para pimpinan KPK mengijinkan penyadapan? Bukankah kasus Agus Condro yang jelas-jelas di depan mata aja, masih ditunda-tunda penyelesaiannya?

3. Another version : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/142838/1151994/10/kpk-nomor-yang-disadap-bukan-milik-rhani-atau-nasrudin

Komentar sederhana, kalau memang benar itu untuk pemeriksaan penyadapan kasus korupsi, kenapa Antasari pake ngeles-ngeles (lihat point 1 di atas) bahwa tidak dilakukan penyadapan, tetapi ”hanya perintah nge-check” ? Kalau melihat berbagai berita dengan berbagai versi ini, jelas terlihat berbagai pihak saling membuat alasan untuk lepas dari jeratan hukum. Dan lucunya, alasan masing-masing pihak ini tidak sinkron, kontradiktif, sehingga patut DIDUGA KUAT terjadi pelanggaran hukum, melakukan penyadapan untuk kepentingan pribadi.

Inilah republik pelawak, dengan komisi pelawak, meski lawakan yang dihasilkan adalah lawakan satir dan menjijikkan. Betapa alat investasi negara digunakan untuk keperluan pribadi yang menjijikkan. Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh lagi :(

Interaksi antara system dan budaya May 13, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!

Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.

Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!

(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)

Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.

Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!

Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!

Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.

Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!

Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!

Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.

Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Cukup sudah untuk pemilu!!!! May 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
6 comments

Beberapa waktu yang lalu aku sudah menuliskan tentang biaya pemilu :
http://dotindo.wordpress.com/2009/04/03/sekilas-tentang-ekonomi-pemilu/

Betapa besarnya biaya yang sebenarnya ditanggung bangsa Indonesia ini demi sebuah pemilu. Lha kok sekarang para politisi sepertinya mau mengarahkan pemilu presiden 2 kali? Mau berapa banyak lagi dana yang harus dikeluarkan???

Duh para politisi, coba hitung produktivitas yang terbuang sia-sia untuk kampanye, cetak brosur, iklan, pemilu, penghitungan suara, dll. Dan semua itu kemudian menjadi asap, alias tidak ada sisanya yang bisa dimanfaatkan :( .

Buat para capres yang kaya, daripada uang anda hanya untuk memicu pemilu (yang memancing bangsa ini untuk mengeluarkan uang jauh lebih besar daripada yang anda keluarkan), lebih baik jika uang anda itu diinvestasikan yang positif! Silahkan buka pertanian modern kedelai, pedagang tempe di Indonesia akan diuntungkan, buruh tani diuntungkan, dan devisa bisa dihemat (tidak perlu membiayai impor kedele lagi). Silahkan bangun pasar yang bagus untuk pedagang pasar, aku yakin pedagang akan berterimakasih dan investasi tetap akan menguntungkan. Silahkan investasikan uang anda untuk membeli kapal-kapal, sehingga ikan Indonesia bisa diolah sendiri, tidak dicuri oleh kapal-kapal asing. Masih banyak lagi peluang investasi yang lain (telekomunikasi, perkebunan, transportasi, pertambangan, dll).

Masih banyak sebenarnya agenda-agenda yang harus diperhatikan bangsa ini. Jangan lupakan krisis ekonomi dunia, jangan berpikir bahwa itu tidak akan menyentuh Indonesia! Coba lihat data export-import di Tanjung Priok, mestinya itu sudah membuat kita waspada. Belum lagi kasus flu babi, korupsi, pendidikan, energi, dll. Sangat banyak agenda yang harus diberikan perhatian. Jadi, kenapa kita harus membuang banyak energi sia-sia untuk pemilu??

Seandainya para politisi itu anak-anak kecil yang gampang diketok kepalanya, rasanya aku pengen ngetok kepala mereka satu demi satu deh :( . Sayangnya mereka banyak yang jendral-jendral, jangankan mau diketok, mau mendekat aja udah ditahan pengawalnya :( (.

Pilpres 1 putaran sebenarnya bisa dicapai dengan cara :
1. Hanya ada 2 capres
2. Ubah UU pemilu, sehingga suara terbanyak (mau berapapun capresnya, dan berapapun perolehan suaranya) langsung dijadikan presiden.
3. Para capres mau habis-habisan kampanye sehingga Pilpres 1 putaran tercapai.

Pendaftaran capres kalau nggak salah tgl 16 Mei ya? Aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk menyampaikan ideku ini ke para politisi. Berharap mereka mau “sedikit” berjiwa besar, benar-benar berpikir yang terbaik bagi bangsa, dan mengorbankan ego mereka. Bayanganku seandainya Koalisi Besar itu mau mengajukan hanya 1 calon demi kepentingan bangsa ini, maka mereka potensinya menang cukup besar. Tapi kalau demi egoisme pribadi, kemudian mencoba mengatur strategi agar terjadi pilpres 2 putaran, meski mungkin menang, tapi satu hal yang pasti: minimal akan ada 1 orang (aku sendiri) yang akan mengutuk kelakuan mereka sebagai menyengsarakan bangsa! (note: seandainya ada rekan-rekan yang ikut mengutuk, maka lebih dari satu orang!).

Seandainya teman-teman yang membaca ini ada akses ke Prabowo, Mega, JK, SBY, Wiranto, dll, aku sangat berharap ide ini bisa dimasukkan ke mereka. Please.. beri yang terbaik buat bangsa dengan 1 kali pilpres saja!

Sekilas tentang ekonomi pemilu April 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
4 comments

Ekonomi, pengertian dasarnya adalah: pemilihan resource yang ada, digunakan untuk apa, bagi siapa.
Pada sosialisme, pilihan produksi dan distribusi diatur oleh negara (seperti di Soviet dulu), sedangkan pada kapitalisme, pilihan diserahkan pada pasar (terserah masing-masing pihak mau bikin apa aja, mau dijual ke siapa aja).

Sekarang kita lihat pada pemilu ini. Secara kasat mata terlihat jelas penggunaan resource SDM, material (kain, cat, BBM, dll), mesin (transportasi, mesin cetak, dll) digunakan selama masa kampanye ini. Dan hasilnya? Secara fisik : 0. Bandingkan misalnya resource yang sekian banyak itu misalnya digunakan untuk membuka lahan kedelai, menanam sawit, menambang batubara, dll. Hal ini yang kemarin mengusik pikiranku ketika melihat sekian banyak bendera partai berjejeran di mana-mana. Terbayang betapa semua resource itu akan menguap bersama berlalunya pemilu.

Pertanyaan mengusik akibat kesadaran itu adalah :
1. Berapa persisnya angka yang terbuang itu? Seperti dikatakan Ubed, almost impossible to count it. Paling menghitung secara kasar : misal, caleg DPR rata-rata akan menghabiskan X rupiah, Caleg DPRD I akan menghabiskan Y rupiah, Caleg DPRD II akan menghabiskan Z rupiah, terus dikalikan dengan jumlah caleg yang ada.
Tambahkan pula: iklan2 yang masuk TV, radio, koran, dll.
Tambahkan biaya-biaya kampanye, dengan jumlah massanya.
Aku tidak akan heran kalau angkanya mencapai diatas 10 trilyun rupiah.

2. Apa yang akan didapat dengan itu semua? Seharusnya jawaban idealnya adalah: mendapatkan anggota legislatif yang berkualitas (jujur, pinter, dll). Hanya saja, de facto, akankah itu terjadi? Dengan segala hormat, seandainya didapat 30% saja anggota legislatif berkualitas, aku akan bersyulur banget. Ini tentunya penilaian subyektif, bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi tentunya itu bukan asal ngomong, tapi karena melihat kecenderungan memang seperti itu. Bukti : apa yang melandasi para caleg itu mau mengeluarkan uang sekian besarnya untuk ikut pemilu? Sebagian kecil mungkin memang ada karena ingin memperjuangkan idealisme mereka. Tapi sebagian besar, aku curiga karena hukum-hukum ekonomi. Artinya, dengan pengeluaran X untuk kampanye, mereka berharap ketika terpilih, itu akan kembali sebesar XXXXX…. (kalau perlu sebanyak2nya X :p).

3. Apakah layak pengorbanan itu? Biaya yang dikeluarkan dibanding dengan yang di dapat? Kalau secara sepintas mungkin komentarnya adalah: mahal banget, sangat tidak layak! Tetapi kalau kita mau bicara hitung-hitungan ekonomi yang bener, maka itu harus dibandingkan dengan alternatif lain sekiranya tidak ada pemilu. Dan untuk itu, ngitungnya agak repot euy. So, akhirnya dianggap aja lah biaya itu meski sangat-sangat mahal, tetapi adalah biaya yang TERPAKSA harus dibayar. Ibarat orang sakit, meski obat sedemikian mahal, ya terpaksa dibayar dan dianggap layak :( .

Dengan semua itu, what’s next?
Bayanganku, hendaknya semua pihak mulai memikirkan bagaimana pemilu yang lebih efisien nantinya. Mungkin dipublikasikan aturan, bahwa kampanye itu 5 tahun. Bentuk kampanye adalah dengan kerja nyata, dan boleh disebutkan itu tabungan untuk pemilu yang akan datang. Kemudian pada saatnya pemilu, ditentukan: tidak ada aktifitas pengumpulan massa; atau jumlah bendera / iklan dibatasi; dll. Intinya agar tidak terjadi pembuangan sumberdaya besar-besaran ke kampanye sesaat yang banyak mengandung kesia-siaan, diubah dengan kampanye jangka panjang yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak.

Itulah secuil pikiranku, semoga manfaat. Maaf tulisan tidak disertai angka-angka yang benar.

Sekali lagi: ketidak adilan internasional March 20, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
4 comments

Beberapa waktu lalu, saat desakan untuk berbagai pihak di Israel diajukan ke ICC (International Court Criminal), karena kejahatan perang sewaktu penyerangan Gaza, para ahli hukum (termasuk dari ICC kalau nggak salah. Untuk lebih pasti, silahkan googling deh) mengatakan bahwa Israel tidak bisa diadili karena mereka tidak masuk sebagai anggota ICC.
Yah, meski harus menahan gondok, oke lah..

Yang menarik, barusan aku membaca berita ini :

http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/03/20/05212744/icc.sarat.kepentingan.politik.abaikan.hukum

copy text sebagai berikut :
===
Hal itu dikatakan Ketua Asosiasi Pengacara Sudan Fathi Khalil dan Duta Besar Sudan untuk Indonesia Ibrahim Bushra Mohamed Ali, Kamis (19/3) di Jakarta.

Fathi menegaskan, Sudan bukan anggota Mahkamah Kejahatan Internasional (International Criminal Court/ICC) dan tak terikat keputusan ICC.
====

Inikah standar ganda pengadilan internasional?
Bagaimana mungkin untuk Israel karena tidak termasuk anggota kemudian tidak diadili, sementara Sudan yang juga bukan anggota tetap diadili?
(note: tulisan ini masih tidak membicarakan, apakah pengadilan berjalan fair atau tidak yah.)

Sekiranya sistem keadilan internasional adalah seperti ini, maka semua output dari ICC jadi dipertanyakan, seberapa independen dan fair mereka sebenarnya???

Ekonomi Islam di CNN March 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Semalem pas nonton di CNN, melihat pembahasan tentang ekonomi Islam. Saat itu CNN sedang mengulas masalah jatuhnya pasar finansial di US, bagaimana berbagai institusi (bank, asuransi, dll) mengalami kerugian besar-besaran. Di tengah kerugian itu, ternyata bank-bank yang menjalankan syariah Islam diuraikan sebagai tangguh menghadapi krisis. Kabar terbaru, bahkan pemerintah Inggris berencana mengeluarkan SUKUK!

Hal yang menarik, aku melihat bagaimana CNN bisa menguraikan ekonomi Islam dengan sederhana. Dia katakan, sistem perbankan Islam memiliki aturan :
1. Tidak ada riba. Yang ada adalah berbagi keuntungan (termasuk jika kondisi debitor rugi).
2. Uang tidak ditanamkan untuk usaha yang spekulatif
Aku lupa, ada tambahan lain lagi atau tidak. Hanya saja aku menyoroti itu yang disampaikan secara sederhana.

Komentarku adalah: CNN bisa melihat prinsip ekonomi Islam dengan tepat. Jadi ekonomi Islam itu bukan berarti ekonomi yang anti pasar, bukan berarti penggunaan uang dinar/ mata uang emas, tetapi pada prinsip-prinsip yang dianutnya!

Sistem ekonomi kapitalis/ pasar bebas sejatinya adalah istilah untuk sistem ekonomi yang :
1. Memberikan kebebasan berusaha kepada tiap individu.
2. Memberikan pengakuan atas hak milik individu.
Dan hal ini pun ada pada saat jaman Nabi. Bukankah Nabi dan para sahabat juga berdagang? So, jangan dikatakan bahwa sistem ekonomi Islam itu berbeda dengan sistem pasar bebas.
Hanya saja dalam sistem perbankan-nya, terdapat perbedaan NILAI/ Aturan. Yah point-point yang diuraikan CNN itu lah.

Apakah sistem ekonomi dengan nilai-nilai Islam membawa inflasi? DUGAAN saya adalah: YA!
Karena ekonomi Islam tidak berbeda dengan sistem pasar yang ada saat ini, hanya berbeda nilai (please note: berbeda nilai/ niat, dalam Islam cukup significant. Itu bisa mengubah 100 perak yang diterima dari haram menjadi halal). Secara matematis, disisi konsumen tetap berinteraksi seperti biasa dengan berbagai perusahaan. Tetap terjadi transaksi jual beli dengan margin keuntungan yang normal. Kemudian secara matematis, hubungan antara perusahaan dengan perbankan juga normal, tetap ada sekian rupiah yang dibayarkan untuk pembagian keuntungan dari perusahaan ke bank. Dari sini aku simpulkan, inflasi tetap akan ada. Tetapi yang terjadi adalah inflasi yang sehat! Artinya, inflasi yang memang benar-benar dibutuhkan oleh pasar, bukan inflasi yang berlebihan akibat transaksi spekulaitf.

Ketika inflasi terjadi, maka mata uang berbasis emas menjadi tidak bisa diterapkan. Penjelasan sederhananya, karena mata uang emas tidak bisa mengalami inflasi. Sebagai gambaran sederhana, misalkan suatu negara punya 1000 ayam dan 1 kg emas. Akibatnya 1 ekor ayam dihargai dengan 1 gr emas. Namun ternyata peternakan ayam berkembang lebih tinggi daripada penambangan emas. Akibatnya, sekian tahun kemudian, ketika negara memiliki 3000 ayam dan 1.5 kg emas, yang terjadi 1 ekor ayam akan dihargai 1/2 gram emas. Akibatnya justru deflasi, yang mengakibatkan orang malas untuk beternak ayam, padahal disisi lain penduduk bertambah sehingga kebutuhan ayam bertambah.

Aku menulis ini untuk memberi sedikit ilustrasi bagi teman-teman yang masih berpikiran seolah ekonomi Islam adalah penerapan uang dinar/ emas. Sekali lagi, ekonomi Islam adalah pada aturan-aturannya. Bukan masalah mata uangnya.