jump to navigation

Interaksi antara system dan budaya May 13, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!

Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.

Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!

(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)

Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.

Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!

Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!

Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.

Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!

Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!

Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.

Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Kalkulus dalam kehidupan sehari-hari January 24, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum.
5 comments

Aku tadi habis ngobrol dengan Rosihan. Kok terus ingat salah satu hasil perenunganku dulu.
Dulu tuh waktu kuliah Kalkulus III kalau nggak salah, dosennya waktu itu bicara “kalau sampai setelah kuliah ini kalian cuman bisa mengoperasikan rumus-rumus kalkulus ini, maka kalian tidak mendapatkan ilmu kalkulus”. Udah cuman ngomong gitu doang, terus dia pergi.
Aku penasaran dengan kalimat itu, kemudian aku mencoba meng-eksplore lebih jauh, akhirnya aku menyimpulkan beberapa hal berikut :

1. Pelajaran dari integral.
Prinsip dasar integral adalah : untuk menghitung suatu luas, pecahlah suatu wilayah yang bentuknya tak beraturan menjadi pecahan kecil-kecil, sedemikian kecil sehingga luas tiap bagian bisa dihitung sebagai perkalian Panjang x Lebar. Kemudian gabungkan semua hasil perkalian, maka didapat luas keseluruhan.
Pelajaran yang ditarik dari prinsip ini adalah : setiap bertemu masalah yang besar dan rumit, maka: pecah masalah itu menjadi masalah-masalah yang kecil yang mudah dipecahkan, kemudian selesaikan tiap-tiap masalah kecil tersebut. Kemudian gabungkan semua permasalahan tersebut. Then, big problem solved :-) .

2. Limit X mendekati …
Di Kalkulus kita ada pelajaran menghitung nilai X di limit mendekati titik tertentu (yang sering dipakai: limit mendekati tak terhingga).
Pelajaran dari sini adalah: ketika kita dilanda suatu keraguan (misal bingung antara ya atau tidak) maka ambillah proyeksi limit mendekati tak hingga. Dengan proyeksi seperti itu kita bisa menilai, ternyata kondisi masa depan adalah seperti itu. Maka kita bisa ambil keputusan untuk mengabil pilihan yang mana. Contoh kasus: kita akan ambil tawaran kerjaan di perusahaan minyak dengan ditempatkan di lautan dekat Kutub Utara. Ketika bingung untuk menerima atau tidak, ekstrapolasikan aja situasi jauh ke depan. Misal: 5 tahun kedepan kalau kita terus disitu apa yang terjadi? Ternyata jawaban kita adalah :
- Kita akan melakukan adaptasi sehingga enjoy menjalani kehidupan sehari-hari
- Kita bisa mengumpulkan tabungan yang significant yang bisa dimanfaatkan untuk A, B,C, dll.
Dengan kondisi demikian, maka kemungkinan besar pilihan adalah: ambil.
Tapi kalau ternyata situasi ke depan dalam bayangan kita adalah :
- Stress, sehingga harus masuk perawatan RS Jiwa
- Nggak ada tabungan, karena uang habis untuk pengobatan
- Nggak ada ilmu apapun, karena hanya diperlakukan sebagai operator terdidik.
Then, bisa jadi kita memilih untuk tidak mengambil tawaran tersebut.

Itulah hasil perenunganku dulu, dan sampai sekarang prinsip-prinsip itu terus kupakai. Semoga sharing-nya ini bermanfaat :-)

Kontradiksi dan Non-Kontradiksi January 12, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum.
5 comments

Ini adalah issue lama antara aku dan Budi. Aku percaya penuh bahwa Tuhan itu Maha Besar, tidak diikat oleh logika. Sehingga hukum kontrakdisi atau non kontradiksi tidak mengikat Tuhan.

Dulu-dulu aku hanya berbicara tentang keyakinan, tanpa sanggup memberikan bukti riil tentang kontradiksi.

Sekarang aku punya bukti riil kontradiksi. Yaitu tentang air. Kita semua tahulah tentang siklus air, bagaimana air berasal. Nah, sekarang bagaimana dengan Zamzam?

Aku kemarin berpikir panjang tentang zamzam dan tidak menemukan penjelasannya secara logika. Berikut adalah fakta :

1. Sebuah sumber air, umumnya lingkungan disekitarnya dijaga. Ketika lingkungan sekitarnya rusak, maka yang terjadi sumber air itu akan rusak dan berhenti mengeluarkan air. Fakta di air Zamzam : di sekeliling area itu dipenuhi dengan hotel-hotel bertingkat tinggi (artinya ada penggalian tanah yang dalam untuk pondasi), termasuk jalan-jalan bawah tanah di sekitar Masjidil Haram. Ini adalah sesuatu yang berkontradiksi dengan hukum alam (dalam pemikiran manusia).

2. Ada sebagian berpendapat bahwa air Zamzam itu berasal dari laut yang terfilter lapisan tanah, sehingga mata air Zamzam tidak akan pernah habis. Pertanyaan sederhana : seberapa cepat sih rembesan air melalui tanah? Kalau mau coba, buat tumpukan tanah satu drum, kemudian taruh air satu liter di atasnya. Kemudian lihat seberapa cepat air turun. Akan lebih cepat kita menuang air daripada air turun! Nah, bayangkan untuk kebutuhan selama 1 bulan (anggap selama prosesi haji), dibutuhkan 40 juta liter air zamzam. Bayangkan, bagaimana air melalui laut menembus tanah, apakah bisa menghadapi sedotan pompa sedemikian kencang? Dugaanku, nggak akan bisa!

3. Seandainya lah Zamzam ternyata air purba (air tersimpan dibawah tanah, seperti minyak), kemudian bisa keluar dengan kecepatan pancar mengikut kecepatan sedot 40 juta liter dalam 1 bulan. Pertanyaannya, seberapa besar cadangan air ini? Dan, kenapa setelah musim haji selesai, dia tidak memancar dengan kapasitas yang tetap? Lihat lumpur porong, terus menerus itu keluar dari permukaan bumi. Kalau mengikuti logika maka seharusnya Makkah sudah kebanjiran dari dulu karena air Zamzam terus menerus keluar dengan kapasitas luar biasa.

So, gimana komentarmu tentang prinsip non kontradiksi dalam kasus ini Bud? Ditunggu comment-nya:p

Mengenal Tuhan January 12, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.
2 comments

Apakah kalian percaya Presiden SBY ada? Saya rasa kita semua percaya penuh SBY itu ada. Kita tentunya tidak menganggap SBY itu hanya rekaan yang diciptakan oleh media (meski kita mungkin belum pernah berhadapan langsung dengan SBY).

Hal lain, kita tentu sering mendengar dia bicara di TV, membaca pidato / pesan-pesan yang dia sampaikan di koran atau media-media lain. Mungkin malah menerima SMS blast dari beliau (tentang narkoba). Bagaimana respon kita?  Yah, berlalu bersama angin ajah.. Saya rasa sebagian besar bersikap seperti itu.

Nah, seperti itulah mungkin sebagian besar kita bersikap terhadap Allah. Kita tahu, percaya dan yakin Allah itu ada. Tapi keyakinan kita seperti keyakinan kita terhadap SBY itu ada. Nggak ada bedanya, nggak ada rasanya.

Sekarang bedakan antara mengenal SBY dan mengenal sahabat baik kita, atau saudara atau pacar, atau siapapun lah yang dekat dengan kita. Yang kita bisa menemuinya, berbicara langsung dengan dia, dan kita punya pandangan yang baik tentang dia. Jika ditanya apakah seseorang yang dekat dengan kita itu ada? Dengan sangat mantap kita akan menjawab ” ada! “, lha tiap hari ketemu dan ngobrol kok.  Kemudian kalau seseorang tadi berbicara memberikan info misal “eh besok berangkatnya lebih pagi 10 menit, daripada kena macet“, atau “hati-hati, jangan makan xxxx karena itu tercemar melamin” besar kemungkinan kita akan mengikuti pesan itu karena kita tahu pasti siapa yang memberikan pesan dan pengirim pesan tidak akan main-main.

Nah, seperti mengenal orang yang dekat itulah kita mestinya mengenal Tuhan. Cobalah untuk menanamkan kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat baik yang ada di depan mata kita. Allah itu bukan di angan-angan, jauh di awang-awang. Mengutip Nabi, Allah bahkan sedekat urat leher kita (tolong jangan ditafsirkan aneh-aneh dulu ya..).  Coba benar-benar praktekkan itu dulu: tanamkan dalam kesadaran bahwa Allah itu ada, senyata sahabat kita.

Setelah tertanam di kesadaran bahwa Allah itu ada, maka pahamilah, bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk dari Allah yang diberikan kepada kita, sebagai panduan kita hidup di dunia. Al-Qur’an bukan buat Nabi lho, itu semacam surat yang dikirim untuk kita. Pengirimnya adalah Allah (ini real, bukan khayalan) melalui Rasul. Jadi Rasul itu seolah tak lebih dari seorang tukang pos (note: ini bukan untuk merendahkan Rasul ya, tapi memberikan pemahaman tentang sang pembawa pesan dan pengirim pesan. Dan dalam kasus ini, Allah sebagai pengirim pesan adalah jauh lebih tinggi daripada Rasul. Rasul tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah). Hanya saja Rasul mengantarkan pesan dari Allah untuk ummat manusia.

Jadi harus benar-benar kita pahami, bahwa Al-Qur’an itu turun untuk kita semua! Itu bukan untuk Rasul seorang. Al-Qur’an diturunkan karena Allah Rahman dan Rahim. Allah memberi tahu semua yang kita perlu tahu agar selamat mengarungi kehidupan ini.

Dengan pemahaman ini, aku jadi jauhhhhhh lebih menghargai Al-Qur’an! Al-Qur’an bukan lagi sebagai kata-kata suci yang malah menjadi di awang-awang. Al-Qur’an menjadi benar-benar sebuah buku panduan. Dengan pemahaman ini aku lebih meyakini tentang keberadaan Iblis. Kisah-kisah yang ada di dalam Al-Qur’an jadi jauh lebih hidup dalam pemahamanku karena aku percaya penuh semua yang disampaikan itu benar.

Entahlah, apakah rekan-rekan bisa memahami apa yang aku rasakan ini. Mungkin aku kurang bisa menuliskan dengan baik. Cara lain untuk bisa lebih tahu, selain dari membaca tulisanku ini.. berdoalah untuk diberi pemahaman oleh Allah, karena Allah lah pemberi ilmu kepada kita semua.

arti off line July 14, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum.
3 comments

Off line artinya tidak terhubung secara langsung.

Tidak terhubung secara langsung, artinya kita tidak tahu kondisi yang ada ditempat lain, persis pada saat ini dimana kita berada.

Contoh sederhana adalah: jika kita di suatu pulau kecil. Tidak ada penerbangan, yang ada hanya laut. Perjalanan membutuhkan waktu 20 hari. Telpon atau internet tidak ada. Maka.. kita hanya bisa tahu kondisi pulau sekitar 20 hari yang lalu. kondisi pada saat ini persis.. kita tidak tahu. Jadi kita tidak tahu siapa yang mati pada saat ini. Kita tidak tahu kemajuan ekonomi yang ada saat ini. Dll..

Mau contoh lebih ekstrem?

http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/14/17473228/mesin.kosmos.produktif.hasilkan.4.000.bintang.setahun

Tuh.. galaksi yang jaraknya 12,3 milyar tahun cahaya!

Artinya… yang kita lihat adalah kejadian 12,3 milyar tahun lalu!

Artinya.. kita tidak tahu sudah berapa banyak bintang yang ada di galaksi tersebut saat ini, karena kita hanya menerima berita “basi”, kejadian 12,3 milyar tahun lalu. Kita tidak tahu apakah disana terdapat mahluk yang setara manusia pada saat ini. Karena kemunculan manusia pun belum mencapai 1 milyar tahun.

Pada saat seperti ini, terasa betapa terbatasnya manusia. Masih jauh alam semesta ini yang harus kita explore.

Subhanallah…

München: BMW supremasi dari kekuatan teori May 2, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.
18 comments

Aku menemukan tulisan ini di milis. Cukup menarik, jadi aku posting di blog ini. Berikut tulisan lengkapnya :

(Tulisan ini untuk mengejek diri sendiri)…
Praktisi idiot! Saya tidak percaya dengan para praktisi! Hanya para mahasiswa snobbish yang belum punya pengalaman kerjalah yang percaya bahwa para praktisi itu adalah orang yang ilmunya mumpuni, menjadi panutan dan paling bertanggung jawab dengan kredibilitas perusahaan.

Sampeyan boleh tidak percaya dengan statement saya. Apalagi jika sampeyan praktisi, sampeyan pasti misuh-2 (coro njowone: memaki-maki) karena saya “menghina” para praktisi dengan kata “idiot!”.

Saya terima semua komplain sampeyan atas ketidaksetujannya terhadap saya. Tapi mohon jangan membenci saya. Saya juga praktisi, jelek-2 begini saya berstatus Project Manager dan SAP Consultant. Jadi, saat saya menulis “praktisi idiot,” saya sedang meledek diri sendiri… =))

XXX

Hamburg. Shubuh dini hari. Sayang sekali tidak ada ayam jantan berkokok di sini. Check in sebentar di Bandara. Setelah proses tetek bengek security selesai, mulailah merebahkan badan yang masih mengatuk di kursi Business Class Lufthansa menuju München. Lumayan 1 jam perjalanan bisa melanjutkan mimpi indah…

BMW mengundang saya bertemu untuk Vorstellungsgespräch (wawancara) sebuah posisi lowong bidang SAP. Fantastis, untuk sebuah wawancara kerja mereka memfasilitasi Lufthansa Business Class lengkap dengan Sofitel Hotel, Acord Chain Management. Pikir saya, BMW ini pasti sinting! Saya toh belum tentu memenuhi kualifikasi mereka, tapi mereka
sudah buang-2 uang untuk hanya sebuah proses “sepele”: wawancara penerimaan karyawan baru… :) )

Tapi itu belum seberapa…

München. Beberapa saat keluar dari U-Bahn (subway) Olympia stasiun, disinilah supermasi kedigdaya BMW flamboyant gagah berada. Lambang mobil paling prestius itu elegan terlihat di kejauhan tepat persis di atap Headquarter-nya. Gedung kembar 4, dengan fenomena silindris. Di dalam gedung itulah saya akan bertemu dengan beberapa orang untuk sebuah meeting…

Tepat jam 10, wawancara dimulai. Demi Tuhan, ini sih bukan wawancara pekerjaan. Ini lebih tepat seperti sidang promosi doktor :) )

Di depan saya ada 5 orang dalam satu meja bundar kecil. Satu persatu, mereka memperkenalkan diri dari mulai konsultan SDM, Manajer Projek, Manajer Akuntansi, Manajer Controlling dan Manajer IT. Yang membuat saya tercengang, semuanya bergelar DOKTOR! alias berpendidikan S-3. Jadi, saat itu saya sedang berhadapan dengan 5 orang Doktor.

Saya sudah bersentuhan dengan beberapa perusahaan Jerman seperti TH Winkel, Otto Versandt, T-System International, BASF IT Service, dll. Dan BMW telah semakin menambah keyakinan saya tentang sesuatu yang unik dari tradisi perusahaan-2 raksasa di Jerman.

Satu hal yang paling menonjol dari perusahaan Jerman. Mereka memperkerjakan puluhan bahkan ratusan karyawan berpendidikan DOKTOR! Jumlah karyawan Doktor mereka tidak kalah banyak dengan jumlah Doktor di Universitas elit di Indonesia.

XXX

Mari kita lihat Astra Internasional, perusahaan terbaik dan sangat profesional dalam pengembangan SDM di Indonesia. Lihatlah, apakah mereka memiliki karyawan berpendidikkan Doktor? (mohon dicatat doktor dari Universitas kredible bukan Doktor dari Univ rumah toko).

Makanya, meskipun Astra itu selalu untung dengan omset gila. Itu perusahaan pengecut! Hanya jago kandang! Perusahaan awak bawang, kelas assembly tanpa inovasi! Karyawannya cuma level STM, Insinyur dan es-e (baca: sarjana ekonomi) kelas teri!

(Seperti saya yang juga berpendidikan minimalis), innovasi apa yang bisa diharapkan dari karyawan yang cuma berpendidikan insinyur dan es-e kelas teri? (Bei allem Respekt, dengan segala hormat, mohon maaf buat para insinyur dan es-e serta pada diri saya sendiri tentu saja.
Mohon agar statement saya dilihat dari spirit positifnya supaya putra-putri sampeyan juga saya perlu sekolah sampe doctor :) ).

(Seperti saya yang juga berpendidikan minimalis), teori apa sih yang dikuasai oleh para insinyur dan es-e yang kuliahnya paling-2 cuma baca diktat tipis di kampus? Otak mereka itu kosong dengan teori. Akibatnya, mereka „tidak tahu apa-2″. Mereka paling-2 menjalankan business as usual. Tanpa keberanian menemukan inovasi teknologi baru untuk memenangkan pertarungan kapitalis global.

Lihatlah perusahaan kebanggaan Orde Baru, model Pertamina. Adakah karyawan yang berpendidikan doktor disana? Makanya Pertamina itu benar-2 perusahaan memalukan yang memiliki perfomance njelehi. Puluhan tahun berpengalaman di bidang pertambangan, baru ketemu anak bau kencur ABG kemarin sore model Petronas, Pertamina keok seperti ayam sayur.

Pertamina itu benar-2 perusahaan lugu (lutju tur guoblok:)). Mosok sih para karyawan Pertamina itu ndak punya malu, bisa kalah dengan anak bau kencur ABG model Petronas? Inilah akibatnya, jika perusahaan besar dikelola oleh para „praktisi idiot amatiran”. Tidak menguasai teori. Jadilah perusahaan-2 dengan omset raksasa tidak lebih dari ayam sayur =))

XXX

Seperti yang terjadi pada diri saya, para insinyur dan es-e itu tidak lebih seperti serdadu-serdadu „sepak pantat”. Layaknya para serdadu, jika berperang itu cuma dijadikan „umpan” ke musuh agar mati duluan. Mereka bukanlah ahli-2 strategi yang menguasai teori dan visi masa depan. Makanya mereka hanya mampu melihat beberapa meter dari panca indera mereka. Mereka melihat persoalan dengan mata bukan dengan otak!

Keterbatasan penguasaan teori dan tools-2 manajemen dan teknologi pada para karyawannnya membuat perusahaan-2 cap „Melayu Njowo” tidak siap bertarung frontal dengan lawannya perusahaan-2 cap „Londo Bule”.

Sementara sang lawan model BMW, Airbus, T-System, BASF, Otto Versandt, SAP didukung oleh ratusan doktor yang berkerja secara sinerji dan kolaboratif. Memang jika 1 doktor itu itu tidak bisa banyak berbuat. Tapi jika 50 atau 100 doktor dengan kemampuan berbagai bidang bersatu dalam kolaborasi sebuah sistem, maka berbagai innovasi masa depan pasti terlahir dari mereka. Seperti sebuah orkestra yang melahirkan kreasi nada-nada inovasi teknologi.

XXX

Doktor itu adalah kapten-kapten industri yang akan memimpin peradaban masa depan. Tanpa mereka, sebuah perusahaan akan mandul dari kreativitas. Mereka hanya mampu berkompetisi dengan kaedah manajemen primitif tradisional.

Apa kelebihan para doktor dibandingkan para insinyur dan es-e kelas teri? Kumpulan para doktor dengan pemahaman teorinya akan mampu membuat kondisi lingkungan industri dan bisnis yang uncertainty menjadi certainty. Mereka mampu menurunkan berbagai simpton-2 persoalan abstrak menjadi sebuah model yang ter-standarisasi.

Dari model yang certainty inilah mereka bisa membuat tools manajemen seperti business intelligent, early warning system, performance measurement, balance score card, dll. Akibatnya berbagai prediksi masa depan, analisa dan solusi sudah bisa dibuat jauh sebelum masalah itu terjadi dengan presisi yang sangat akurat.

Disinilah perlunya para akdemisi berpendidikkan doktor bekerja di perusahaan. Dan menurut saya inilah kunci suksesnya kenapa perusahaan-2 di Jerman bisa menjadi pemenang dalam kapitalis global.

XXX

Saya benar-benar bermimpi di suatu masa nanti, Astra Internasional, Telkom, BNI, Garuda, dll memiliki puluhan atau bahkan ratusan karyawan berpendidikan doktor. Saya berharap dari kumpulan para doktor inilah, beserta innovasi yang terlahir darinya, akan memimpin kita mengalahkan BMW, Mercedes Benz, Deutsche Bank, T-System, RWE Groups, BASF, Siemens, dsb.

Anda menuduh saya saat ini sedang bermimpi dan uthopia? Yah biarin aja… Pokoknya semua tuduhan anda akan saya terima dengan ikhlas :)
Salam hormat,

Ferizal Ramli
Praktisi Industri dan Konsultan IT

Takdir dan Hukum Alam April 24, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.
29 comments

Aku tiba-tiba menemukan sesuatu yang selama ini terasa tidak sreg dalam pembicaraanku dengan Budi.
Dalam beberapa kali (sering), Budi berkata bahwa Tuhan menjalankan takdir melalui hukum-hukum alam.
Aku merasa tidak nyaman karena aku menganggap bahwa kekuasaan Tuhan itu mutlak. Tuhan tidak akan diikat oleh hukum alam.

Nah, yang barusan terbetik dalam benakku adalah, bahwa kekuasaan Tuhan berjalan sesuai kekuasaan Tuhan itu! Tidak akan diikat oleh hukum alam! Tetapi hasil kekuasaan Tuhan itu akan dibaca oleh manusia sebagai hukum alam baru!
Misalkanlah, seseorang berjalan ke jurang, dan kemudian terjatuh ke dalam jurang. Secara hukum alam, dikatakan orang tersebut akan terus tertarik gravitasi hingga ke dasar jurang yang sangat dalam. Tapi menurutku, SANGAT MUNGKIN ternyata orang itu tiba-tiba terhenti pada suatu titik sebelum dasar, dan orang itu selamat. Dan ketika dicek, ternyata (MUNGKIN) baru diketahui bahwa hukum gravitasi memiliki perkecualian pada titik tertentu. (note: ilmu yang dimiliki manusia terus bergerak. Hukum gravitasi telah dikoreksi oleh E=MC^2. Hukum Einstein pun diperkirakan akan dikoreksi kembali, karena telah ditemukan materi yang kecepatannya melebihi cahaya).

Hal lain juga, Tuhan bisa menjalankan kekuasaannya melalui sesuatu yang kita sebut MUKJIZAT. Mukjizat ini merujuk kepada berbagai hal yang logika kita tidak bisa menjangkaunya. Harus disadari, bahwa ilmu yang telah dikuasai manusia masih sangatlah sedikit. Masih sangat banyak hal di alam ini yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Yang sederhana misalnya: mimpi! Ilmu pengetahuan baru bisa menjelaskan mimpi menurut teori Freud. Tapi teori Freud tidak bisa menjelaskan tentang mimpi yang berupa suatu penglihatan peristiwa yang PERSIS TERJADI di tempat yang jauh atau di masa depan! Teori Freud baru sebatas mimpi sebagai luapan bawah sadar. Di dunia kedokteran, pengetahuan tentang otak aja masih sangat sedikit. Di dunia fisika, hukum tunggal (unified theory) masih belum juga bisa ditemukan.
Mukjizat ini MUNGKIN juga berjalan dengan hukum alam, hanya saja dilakukan oleh sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Misalkan dalam kasus orang jatuh ke jurang, kok malah bisa terbang naik dengan sendirinya? (MISALKAN…) ternyata orang itu diangkat oleh Malaikat. Dalam peristiwa ini hukum gravitasi tetap berjalan seperti biasa, hanya saja terdapat kekuatan yang melawan (dilakukan oleh Malaikat) yang tidak bisa diketahui oleh manusia. Contoh kasus yang jelas di sini adalah Isra’-Mi’raj. Secara logika manusia, hal ini tidak masuk akal (karena tidak ada kendaraan yang bisa melakukan itu). Tetapi dengan mempertimbangkan adanya Bouraq, maka hal ini menjadi bisa. Dalam kasus ini hukum gravitasi, hukum energi, dll mungkin masih berjalan. Hanya saja manusia belum mengenal Bouraq dengan segala karakteristiknya. Manusia baru sebatas mengenali sapi, kuda dan onta!

Selain itu MUNGKIN juga mukjizat itu benar-benar tidak mengikuti hukum alam, tetapi mengikuti KUN FAYAKUN (Jadilah! maka jadilah)! Jadi ketika Tuhan berkehendak itu terjadi, saat itu pula terjadi. Dan ini tanpa melalui hukum alam. Hal-hal sederhana misalnya dalam kasus orang sudah terdeteksi memiliki penyakit. Semua record (rontgen dan berbagai pemeriksaan) telah memastikan penyakit ini. Namun pada saat akan dioperasi, tiba-tiba penyakit sudah sembuh. Ini kejadian yang banyak dilaporkan.

Itulah bukti-bukti yang bisa kuperlihatkan bahwa Tuhan tidak diikat oleh hukum alam. Keputusan Tuhan lah yang akan dikenali manusia sebagai hukum alam baru. Atau akan dikenali sebagai suatu mukjizat karena dipengaruhi oleh unsur-unsur yang tidak diketahui manusia (misal: Malaikat), atau karena memang Tuhan langsung yang berkehendak (Kun fayakun).

To Budi:
Dengan penjelasan ini, maka SANGAT MUNGKIN suatu saat kita memahami bahwa 1+1 = 3 dan 1+1= 5, dan 2 = 3 = 5. Who knows 200 tahun lagi itu dipahami manusia:)

Takdir dan Kehendak Bebas Manusia March 20, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.
21 comments

Tulisan ini merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dilontarkan Budi. Tulisan ini dibuat hanya berdasar referensi-referensi yang pernah saya baca dan terus saya ingat, jadi bukan merupakan tulisan final hasil penelaahan mendalam. OK, start menulis!

Berbicara tentang takdir dan kehendak bebas, maka pertama kali yang akan diajukan pertanyaan adalah: Apa REFERENSI yang akan dijadikan patokan utama? Pada tulisan ini, karena saya seorang muslim, maka referensi utama yang akan saya pakai adalah Al-Qur’an. Lain-lain, sebagai tambahan aja.

Tentang TAKDIR, dalam Al-Qur’an ada dijelaskan bahwa semua yang terjadi TELAH TERTULIS seluruhnya dalam Kitab Lauhul Mahfudz (persis ayat dan suratnya aku lupa, silahkan kalau ada yang mau melengkapiJ). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 1 : Apa yang terjadi semua, tidak akan luput dari ketentuan-Nya.

Di sisi lain, dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an banyak dicantumkan perintah untuk bertindak (amal shalih, dll). Kemudian dijelaskan (sebagai persuasi kepada manusia) akibat dari tindakan-tindakannya (amal baik dan amal buruk). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 2: bahwa manusia diberi kebebasan untuk memilih/ berbuat.

SEPINTAS terlihat kontradiksi dari dua kesimpulan di atas. Bagaimana mungkin manusia mendapat kebebasan kalau semua yang terjadi sudah dituliskan dalam Lauhul Mahfudz? Artinya, manusia hanya berjalan sesuai dengan yang tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz, tanpa bisa memilih jalan yang lain! Ini merupakan keraguan yang muncul dari “kontradiksi” yang kita temukan dalam Al-Qur’an.

Sekarang kita coba lihat lebih teliti. Memang Al-Qur’an menerangkan tentang Lauhul Mahfudz sebagai Kitab yang mencatat semua takdir yang akan berlaku. Namun, TIDAK ADA SATUPUN ayat atau hadist yang menjelaskan bagaimana bentuk/ tulisan Lauhul Mahfudz itu. Dari sini muncul pertanyaan, apakah tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfudz itu berupa suatu deskripsi atau berupa formula/ hukum-hukum Allah ?

Ilustrasi berikut merupakan penjelasan dua kemungkinan diatas :

pict1.jpg

Kita misalkan ada seseorang bernama Amin yang akan bepergian. Jika tulisan dalam Lauhul Mahfudz berupa deskripsi, maka akan ditulis bahwa “Amin akan berada pada koordinat (2,2)”. Artinya, Amin tidak mungkin berada di tempat selain (2,2), artinya Amin tidak punya kebebasan sedikitpun untuk bisa memilih.

Tapi coba bayangkan, SEANDAINYA tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfuz berbunyi “Amin akan berada pada garis persamaan Y=X”.

pict2.jpg

Artinya, Amin bisa berada di titik (1,1), (2,2), (3,3) atau malah (5,5). Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Amin memiliki kebebasan untuk menentukan posisinya sendiri, namun masih dalam takdir Tuhan (yaitu di garis Y=X). Namun Amin tidak bisa sedikitpun bergeser dari takdir Tuhan. Amin tidak akan bisa ke posisi (2,3) meskipun dia ingin dan berusaha keras untuk itu.

Berbicara tentang kemungkinan takdir Tuhan ditulis dalam bentuk formula, bukan deskriptif, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah semua ketentuan Tuhan bersifat dinamis, tidak ada yang mutlak?

Mari kita review sebentar tentang formula. Formula itu ada yang sederhana dan ada yang kompleks. Contoh Y=X adalah formula yang SANGAT SEDERHANA. Y =((X.X.c.d.b.a + 2aX)^( X.c – (2t.a)^b ))* (50-t) merupakan contoh formula yang agak kompleks (definisi formula kompleks adalah: ketika kita melihat dan kita bingung, maka itu kompleks :D )

Terkadang ada juga formula yang mau apapun juga tindakan kita, hasilnya pasti angka tertentu. Misalkan formula diatas, mau berapapun nilai X, a,b, c, dan d, pada saat “t=50” maka hasilnya pasti akan 0 (nol). Artinya, SEANDAINYA ketentuan Tuhan semua ditulis dalam bentuk formula, maka tetap saja keputusan mutlak Tuhan tetap dimungkinkan. Jadi, misalnya Tuhan mau mentakdirkan umur manusia cuman 50 tahun, sangat sangat mungkin itu diwujudkan dalam formula.

Tulisan ini bukanlah menggambarkan apa yang sebenarnya tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Tapi hanya SEBUAH KEMUNGKINAN tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Artinya, masih ada kemungkinan lain pula. Tapi point utamanya adalah, bahwa KESIMPULAN 1 dan KESIMPULAN 2 yang disebutkan di awal bukanlah suatu kontradiksi. Apa yang disampaikan Tuhan dalam Al-Qur’an pastilah benar. Artinya, Tuhan memiliki ketentuan yang PASTI akan berjalan, dan manusia pun juga memiliki kebebasan.

Pemikiran seperti ini muncul dari pengolahan semua yang pernah kuterima, baik bacaan ataupun pengalaman langsung. Aku sudah merasakan betapa kekuasaan Tuhan berbicara melebihi pemikiran manusia. Aku sudah merasakan betapa ketika aku mau memilih A, ternyata Tuhan memberiku B. Padahal semua usahaku mengarah pada A, sama sekali tidak mengarah ke B. Dan ternyata B ini merupakan sesuatu yang sangat vital buat perkembanganku kemudian. Dan ini bukan hanya satu kejadian. Ada beberapa.

Pemahaman-pemahaman ini lah yang kemudian membuat aku jauh lebih melunak dibandingkan dulu. Aku bukan lagi karang tajam yang melukai sekelilingku. Aku mungkin masih keras (kata banyak orang:p), tapi buat yang mengenalku dengan benar sejak dulu, akan tahu adanya perubahan ini. Tuhan sudah pernah menghancurkan diriku dan membentuk diriku kembali. Itulah salah satu kekuasaan Tuhan yang aku rasakanJ.

Costing January 9, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum.
1 comment so far

Judulnya aja dulu yah:D

Pengen nulis ini sebenernya. Lihat nanti deh..

Sabar January 8, 2008

Posted by Tara in Pengetahuan Umum.
7 comments

Masalah terbesarku sebenernya adalah kata SABAR.

Sabar ini bukan berarti tidak ngamukan (meski kata orang aku ngamukan juga sih:p), tetapi sabar mengikuti proses yang ada. Aku selalu terburu nafsu:(. Selalu ingin cepat.

Memang sih, nafsu/ keinginan lebih cepat/lebih baik, itu merupakan pendorong kemajuan. Coba kalau orang nggak ada nafsu untuk lebih cepat, mungkin tidak akan ditemukan alat-alat transportasi. Mungkin tidak akan ditemukan komputer yang canggih. Hanya saja, tidak semuanya bisa dibuat cepat. Ada hal-hal tertentu kalau dipaksa melebihi kecepatan standar malah akan jadi bermasalah. Misalkan lah menggoreng telur, nggak bisa kita gedein apinya dan hanya dalam waktu 1 detik langsung matang. Karena untuk proses menjadi matang bukan semata urusan suhu. Hal-hal semacam ini ada banyak rupa dalam kehidupan. Dan aku cukup sering tidak sabar dan menghajar waktu. Akibatnya justru muncul masalah-masalah.

Semoga dilain waktu aku bisa lebih berhati-hati dan tidak terburu nafsu, Amien…