You are currently browsing the category archive for the ‘Education’ category.
Tadi malam aku ngobrol dengan sepupuku. Dia kuliah di Bandung, di STMB. Dalam perbincangan itu aku menyampaikan ke dia untuk mengembangkan diri. Beberapa point yang aku sampaikan adalah :
1. Baca Qur’an (terjemahnya atau tafsirnya). Hal ini sebagai dasar dari seluruh pengambilan keputusan nantinya. Sepupuku ini udah sering khatam Al-Qur’an, tapi cuman baca arabnya aja. Padahal Al-Qur’an bukan untuk ibadah lisan saja, tetapi sebagai panduan hidup yang harus dimengerti. Tafsir bisa baca Ibnu Katsir, Hamka , Quraish Shihab atau lainnya.
2. Aku minta dia belajar pengantar filsafat. Mempelajari filsafat berguna untuk mempertajam analisa. Sedikit beruntung ternyata di STMB ada matakuliah pengantar filsafat (hebat juga ternyata STMB). Hanya saja sayangnya yang mengajar masih S2, perkiraanku pengajarannya tidak optimal (maaf ini judgment hanya berdasar tingkat pendidikan, belum melihat langsung). Dulu pengalaman aku belajar filsafat yang mengajar doktor yang memang bagus penguasaannya.
3. Aku minta dia untuk mengurangi tidur. Tidurnya dia saat ini 7 jam (jam 22-05). Aku minta kurangi 4-5 jam per hari. Terserah apa mulainya tidur jam 12 atau bangun jam 3. Kalau tidurnya lebih malam, gunakan untuk baca buku atau nge-game. Kalau bangun jam 3 gunakan untuk tahajud dan belajar.
4. Aku minta dia untuk aktif mengikuti kegiatan-kegiatan yang banyak di Bandung. Jangan cuman terkungkung di dalam kampus. Bandung memiliki banyak warna. Ada ITB, Unpad, UPI, dll. Masing-masing kampus memiliki kelebihan. Juga banyak kelebihan lain di luar Bandung. Dia mesti melihat itu semua sehingga bisa menyerap kebaikan yang ada di Bandung.
5. Aku minta dia untuk menajamkan fokusnya. Identifikasi kemana dia nanti akan berkembang. Fokus pengembangan adalah bidang dimana “suka” / interest dan kemampuan bersatu.
Itulah beberapa nasehat yang sempat aku lontarkan dalam pembicaraan kami. Aku menuliskan disini, barangkali saja ada yang juga ingin mengembangkan diri, mungkin point-point ini bisa membantu mengidentifikasi langkah-langkah pengembangan diri.
Saya teringat, betapa dulu saya didampingi oleh dosen statistik saya untuk mencerna suatu kuliah tamu. Dari pendampingan itulah saya benar-benar terbuka arti statistik. Dengan statistik, kita bisa menemukan kebenaran. Dengan statistik kita juga bisa membongkar kesalahan.
Statistik dalam penerapannya juga tidak lepas dari logika. Pak Gunawan dulu memberikan contoh “Jika penjualan kue comro di depan IPTN ternyata datanya dalam analisa korelasi memperlihatkan korelasi yang kuat dengan penjualan pesawat IPTN, bisakah disimpulkan bahwa penjualan comro berhubungan dengan penjualan pesawat? Jawabnya adalah TIDAK! Karena statistik itu bukan sekedar permainan data. Harus ada logika yang membangunnya terlebih dahulu, baru dilakukan analisa statistik.” Kira-kira seperti itulah ucapan dari Pak Gunawan.
Sekarang untuk melanjutkan ilmu beliau, saya ajak rekan-rekan untuk melihat bagaimana statistik diterapkan. Kita bisa mencermati berita ini sebagai ajang latihan : http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/10/161610/1162850/700/dpt-pilpres-diduga-rawan-penggelembungan
====
“Ditemukan 13 persen dari 800 TPS yang terdapat pemilih menggunakan KTP dan Kartu Keluarga (KK). Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7 persen dari pemilih yang terdaftar DPT,” ujar Jeirry.
====
Meski ini menggunakan contoh TPS, tapi ini tidak berbicara politik yah
.
Perhatikan kalimat pertama diatas: 13% dari 800 TPS terdapat pemilih menggunakan KTP dan KK. Artinya sekitar 104 TPS terdapat pemilih ber-KTP dan KK.
Kemudian perhatikan kalimat ke2 di atas: Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7% dari pemilih terdaftar di DPT. Artinya, misal tiap TPS ada 100 DPT. Artinya dari 800 TPS, terdapat 80 ribu pemilih. 7% pemilih berKTP artinya sekitar 5600 pemilih.
Sekarang kita gabungkan kalimat 1 dan kalimat 2. 104 TPS bearti sekitar 10400 pemilih. Ternyata di TPS ini, jumlah pemakai KTP mencapai 5600, atau 50% lebih banyak dari DPT.
Mari kita nilai, benarkah kalimat di atas? Kalau kita bayangkan situasi TPS dengan 50% pemilih menggunakan KTP, maka yang akan terjadi adalah chaos. Dan chaos seperti ini terjadi di 13% TPS, tentunya akan menjadi berita besar mengingat media dan berbagai pihak meliput proses pemilu ini. Tetapi, ternyata kita tidak menemukan adanya chaos gara-gara pemilih ber-KTP kan? Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa kalimat ke-dua yang menggunakan awalan kata “DIPERKIRAKAN” adalah salah. Artinya, kesimpulannya tidak bisa kita percayai.
Itulah contoh sederhana kita untuk menggunakan ilmu-ilmu statistik mencermati suatu informasi
.
Lanjutan berita berikutnya dapat digunakan untuk menganalisa logika :
====
27 persen saksi dari 800 TPS tidak diberi salinan DPT, hal ini semakin menjelaskan modus penggelembungan suara,” keluh Jeirry
====
Perhatikan kalimat bagian awal dan bagian akhir. “27% saksi tidak diberi salinan DPT” disimpulkan sebagai “modus penggelembungan suara”. Mari gunakan logika, bagaimana mungkin saksi tidak menerima salinan DPT dianggap sebagai bukti penggelembungan suara?
Sama dengan penjualan pesawat dikaitkan dengan penjualan kue comro, nggak nyambung! Penjualan pesawat dikalitkan penjualan baja masih mungkin. Dikaitkan dengan penjualan sparepart juga masih mungkin. Tapi dengan kue comro, jelas tidak ada logikanya! Begitu juga saksi tidak menerima salinan DPT dengan Penggelembungan suara, nggak nyambung! Kalau ada orang yang beberapa kali memilih dan namanya ada terus di DPT, boleh lah itu disebut sebagai penggelembungan.
Sekian sharing untuk statistik dan logika. Contoh ini dapat digunakan untuk mencermati berbagai hal, mengingat penipuan banyak dengan menggunakan statistik. Penipuan dengan statistik cenderung dipercaya orang karena kelihatan ilmiah, ada buktinya. Padahal salah mencermati, akan salah mengambil kesimpulan.
Karena ini sharing untuk statistik dan logika, tag saya hanya untuk Education, tidak Pol-ek-sos-bud.
Dalam ilmu perencanaan, paling awal dilakukan adalah melakukan proyeksi tentang situasi ke depan.
Harus dipahami, itu hanyalah prosedur standar, dalam kondisi normal.
Dalam kondisi tertentu, proyeksi bisa diabaikan. Ini adalah ketika visi masuk. Contoh kasus disini adalah Telekomunikasi, jaman dahulu waktu pemain masih man Telkom, di jaman Pak Susilo Sudarman menjadi Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi. Ini ilmu dan cerita aku dapat dari Pak Agus Salim, dosen di TI ITB.
Pada waktu tersebut, dengan menggunakan berbagai foemulasi, proyeksi pemasangan telepon tetap dirumah-rumah hanya mencapai 300-400 ribu. Ketika hal ini dipresentasikan ke Pak Susilo, beliau marah, dan komentarnya adalah “kalau terus seperti ini, maka Indonesia akan terus tertinggal”. Kemudian beliau membalik. Beliau sampaikan,”Target berikutnya adalah, bukan 300 atau 400 ribu. Tapi 1 juta! Sekarang tugas konsultan dan lain-lainnya adalah, bagaimana agar itu bisa terlaksana”. Nah, inilah yang namanya visi. Meski proyeksi dengan berbagai skenario, yang paling positif pun cuman menghasilkan angka 400 ribu, tapi itu bukanlah suatu patokan. Visi masih bisa mengubahnya!
Dengan adanya visi itu, akhirnya dilakukan berbagai perubahan di dalam Telkom. Dan hasilnya dicapai angka 800 ribu. Memang, masih belum terkejar target 1 juta, tetapi itu sudah suatu lonjakan dari angka proyeksi terbaik yang cuman 400 ribu.
Note: angka-angka yang ditulis, mungkin tidak persis itu. Itu cerita udah bertahun-tahun lalu. Tapi message-nya Insyaallah benar.

Recent Comments