jump to navigation

Enough is enough February 26, 2009

Posted by Tara in Ragam.
2 comments

Just a note for me.

Memutar Krisis Ekonomi menjadi titik tinggal landas February 24, 2009

Posted by Tara in Bisnis, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Ini habis baca-baca tentang krisis ekonomi, yang mengatakan krisis ekonomi saat ini lebih parah daripada Great Depression 1930-an.
Tiba-tiba aku teringat, bahwa setiap grafik penurunan, selalu ada titik balik. Krisis ekonomi di Indonesia th 97 ada titik baliknya. Great Depression pun juga ada titik baliknya. So, krisis ekonomi global ini pun aku yakin akan ada titik baliknya juga.
Mungkin aku tidak bisa menjelaskan seperti apa titik balik itu (kapan dan bagaimana situasinya). Hanya satu hal yang jelas, sekiranya kita bisa memanfaatkan, seiring dengan titik balik dunia itu, kita juga bisa memanfaatkannya.
Secara mikro, untuk diterapkan di diri masing-masing, yang paling mendasar adalah: JAGA KEYAKINAN. Selalu yakin lah bahwa krisis akan ada titik balik.
Yang kedua, baru kita buka mata, pertajam analisa untuk melihat peluang apa yang bisa dilakukan.
Yang ketiga, bertahan lah hingga titik balik itu muncul. Bertahan artinya: bertahan hidup dan terus mengasah kemampuan untuk full push pada saat yang tepat.

Itu adalah point-point sederhana yang bisa aku sarikan. Pada prakteknya, tergantung dimana teman-teman sekarang beraktifitas. Yang bergerak di IT, Advertising, manufaktur, dll.

Secara umum, ekonomi Indonesia selama ini mengandalkan buruh dan hasil alam. Secara sederhana bisa dikatakan ekonomi dengan margin rendah. Saat krisis ini, saat dimana negara-negara maju banyak orang depresi dan pertumbuhan mengkerut, adalah saat dimana orang-orang Indonesia mengupayakan menggeser dari margin rendah ke margin lebih tinggi.
Secara sederhana, ketika orang-orang di negara maju mengurangi pembelian barang-barang branded mahal, saatnya lah designer-designer kita meluncurkan produk dengan harga lebih murah. Note: maksud lebih murah ini adalah, produk designer baru (dari Indo) lebih murah daripada produk brand luar yang sudah established. Ini bagi Indonesia tetaplah suatu peningkatan, dari sebelumnya hanya sebagai kuli, meningkat sedikit masuk ke pasar designer. Wajarlah kalau pada saat awal belum bisa sekelas dengan papan atas dunia. Tapi, inilah saat memulai!
Designer diatas adalah suatu permisalan untuk berbagai bidang. Bisa design baju, mebel, IT, maupun produk-produk lain. Intinya: shifting dari level operator ke level supervisor, planner ataupun designer. Itu adalah shifting dari jenis pekerjaan.

Yang kedua adalah dari qualitas. Untuk produk-produk kualitas rendah, inilah saatnya untuk mengasah diri, shifting ke produk berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas, cenderung akan meningkatkan margin. Ini berlaku tidak hanya untuk yang bermain di pasar ekspor saja, tetapi juga yang bermain di pasar lokal. Hilangkan pikiran, bahwa lokal hanya mampu membayar kualitas rendah. Sekiranya ada kualitas yang lebih tinggi dengan harga yang sedikit lebih mahal (syukur2 tetap), aku yakin pasar akan mau membayar (note: kenaikannya layak ya..).

Yang ketiga, dari sisi jenis produk. Ketika selama ini mengandalkan hasil alam, sudah saatnya kita menggeser untuk memberi nilai tambah. Jangan menjual hasil alam begitu saja. Tambahkan sedikit proses lah pada produk itu.

Ini adalah analisa umum. Aku yakin temen-temen bisa memanfaatkan ini di bidang dimanapun bergerak, baik yang dalam posisi berbisnis ataupun sebagai karyawan. Akhirnya kembali pada kita semua, mau memandang krisis sebagai ancaman atau peluang? Saya memilih berdiri di kata peluang :)

*Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S 94, ayat 5-6)

Materialisme dan Feodalisme, penyakitnya Indonesia February 15, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
1 comment so far

Ada dua berita yang membuat aku terhenyak kemarin :

1. Ada orang yang bunuh diri karena korban Bank Century

2. Ada 3 orang pembersih jalan tol meninggal karena ditabrak.

Dua berita itu mengingatkanku tentang materialisme dan feodalisme yang menurutku mengakibatkan Indonesia sejelek saat ini!

Mungkin definisi saya tentang materialisme kurang tepat secara ilmiah. Yang saya maksudkan dalam tulisan ini tentang materialisme adalah: memandang/menghargai seseorang dari materi yang dimilikinya. Saya melihat hal ini banyak dianut (sadar ataupun tidak) oleh orang Indonesia, nggak peduli orang itu berpendidikan tinggi atau kurang berpendidikan, nggak peduli orang itu miskin atau kaya. I hate materialism! Akibat materialisme ini orang kemudian melakukan kejahatan, orang berbuat tidak etis, orang lupa untuk membangun.

Materialisme ini bukan hanya merusak orang yang berpandangan seperti itu, tetapi juga merusak masyarakat atau orang-orang yang mentalnya tidak kuat! Seseorang yang tadinya tidak jahat, karena risi dengan pandangan orang-orang, akhirnya dia terdorong untuk berbuat jahat (note: saya gunakan istilah kejahatan, untuk berbagai tindakan seperti korupsi, kecurangan, dll). Materialisme adalah pandangan yang menjijikkan, karena membutakan diri pada perilaku orang. Orang membutakan diri untuk melihat apakah seseorang ini curang atau tidak, etis atau tidak, dalam mendapatkan hartanya. Yang penting seseorang memiliki materi lebih, dia langsung dihormati. Orang melupakan bahwa seharusnya seseorang itu dilihat dari seberapa besar amal ibadahnya, seberapa banyak manfaat yang bisa dia berikan kepada lingkungannya. Sekiranya orang tidak mengacu pada materialisme, maka kasus bunuh diri karena korban Bank Century itu tidak akan terjadi (dan mungkin kasus Bank Century juga tidak akan terjadi).

Note: membenci materialisme tidak berarti bahwa kita harus hidup sengsara. Intinya adalah: bahwa materi itu bukan segalanya, dan bukan dasar untuk mengatakan seseorang itu hebat atau bukan, lebih baik atau lebih buruk. Berbuat baik terhadap sesama itulah yang lebih utama. Ketika saya konsentrasi untuk membuat mobil, berarti saya sudah berbuat baik untuk membantu sesama manusia dalam hal transportasi. Tapi kalau saya berlomba mewah-mewahan mobil dan merendahkan orang yang tidak punya mobil atau bermobil jelek, maka itulah materialisme yang buruk menurut saya.

Feodalisme, yang aku maksud disini adalah masyarakat yang memandang kasta. Yang memandang bahwa memang ada kelas tertentu yang layak menderita. Itulah yang menghinggapi banyak orang Indonesia, disadari ataupun tidak. Saya menyadari ketika habis melihat kehidupan di Jerman dan kemudian balik melihat kehidupan di Indo, saya makin merasa betapa disini feodalisme sangat tinggi. Waktu itu saya terhenyak ketika melihat pegawai PT. KAI mencabuti rumput dengan tangan. Saya sadar, bahwa salah satu maintenance jalan rel adalah membersihkan rumput. Tetapi, masa sejak jaman penjajahan belanda sampai saat ini masih juga mencabuti dengan tangan?? Tidak adakah penelitian supaya orang-orang ini bisa bekerja lebih bermartabat? Kemudian saya sadar, itu karena top management menganggap bahwa pekerjaan seperti itu layak bagi pegawai kelas rendahan! Akibatnya mereka tidak berpikir untuk meningkatkan harkat hidup pegawai rendahan tersebut. Alangkah memalukannya pikiran itu!

Di Jerman saya melihat bahwa ada maintenance untuk perbaikan jalan dan semacamnya. Namun orang-orangnya diperlengkapi dengan berbagai peralatan sehingga bekerja lebih manusiawi. Then, saya menganggap adalah suatu perbudakan ketika pekerja menggali kabel optik untuk telekomunikasi yang merupakan hasil teknologi terbaru, namun mereka masih menggunakan perangkat cangkul dan linggis, teknologi dari tahun jauh sebelum 1945 :( .

Sekiranya feodalisme bisa dikikis, maka kejadian 3 orang petugas kebersihan di jalan tol meninggal karena tertabrak itu bisa dihindari. Ketika menyadari bahayanya, tentunya management jalan tol tidak seenaknya menugaskan orang membersihkan jalan tol dengan perangkat yang sederhana. Investasilah untuk mobil penyapu jalan, dan gunakan itu untuk membersihkan jalan tol!

Pola pikir feodalisme itu, dari sisi ekonomi mungkin juga terpacu pemahaman padat karya secara salah. Padahal bayanganku, sekiranya feodalisme dihilangkan, maka akan didapat :

- Adanya riset untuk menghasilkan berbagai perangkat bantu. Then, terbuka lapangan kerja buat orang riset.

- Produktivitas pekerja meningkat, karena adanya alat bantu.

- Orang lain yang “diperkirakan” menganggur, “kemungkinan” justru akan bekerja di tempat lain, sehingga pembangunan bisa terjadi di banyak tempat. Pembangunan lebih bisa dinikmati banyak orang.

Glory of Love February 12, 2009

Posted by Tara in Ragam.
4 comments

Musik pengantar pagi ini, Peter Cetera :

Tonight it’s very clear

As we’re both lying here

 There’s so many things I want to say

I will always love you

I would never leave you alone

 

Sometimes I just forget

Say things I might regret

It breaks my heart to see you crying

I don’t wanna lose you

I could never make it alone

 

I am a man who will fight for your honor

I’ll be the hero you’re dreaming of

 We’ll live forever

Knowing together that we

Did it all for the glory of love

 

You’ll keep me standing tall

You’ll help me through it all

I’m always strong when you’re beside me

I have always needed you

I could never make it alone

 

I am a man who will fight for your honor

I’ll be the hero you’ve been dreaming of

We’ll live forever

Knowing together that we

Did it all for the glory of love

 

Just like a knight in shining armor

From a long time ago

Just in time I will save the day

Take you to my castle far away

 

I am a man who will fight for your honor

I’ll be the hero you’re dreaming of

We’re gonna live forever

Knowing together that we

Did it all for the glory of love

We’ll live forever

Knowing together that we

Did it all for the glory of love

We did it all for love

We did it all for love

We did it all for love

We did it all for love

PoliTIKUS tak tahu malu February 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
21 comments

Komentar ini buat Khofifah yang maju sebagai calon Gubernur di Jatim.
Nggak tahu ya, sejak awal Khofifah muncul di DPR aku kok udah nggak sreg. Melihat tingkah-tingkahnya dia sejauh ini kok ya aku tidak ada respect apapun. Dan melihat tingkah dia terakhir di Pilkada Jatim ini, aku makin muak deh.

Padahal menggunakan sedikit logika saja sudah jelas kok kalau dia kalah. Point-point yang dia sebut sebagai kecurangan itu, mestinya bukan sebagai kecurangan. Kecurangan itu kalau suatu tindakan dilakukan oleh pihak lawan secara tidak benar, menguntungkan pihak lawan dan merugikan diri sendiri.
Tapi kalau itu adalah suatu kondisi yang terjadi (katakanlah, keterbatasan yang ada), bukan tindakan dari pihak lawan, dan efeknya ke semua pihak sama saja, masa itu disebut kecurangan???
Tapi susah memang ngomong dengan orang-orang yang tak punya hati. Mikirnya seenak udel mereka sendiri, seolah udel mereka enak beneran .
Di dunia ini mungkin mereka akan melenggang dengan santainya. Tapi nggak tahu bagaimana di akhirat nanti. Apakah tindakannya itu merugikan masyarakat dan akan dimintai pertanggung jawaban oleh Tuhan? Mari kita saksikan di hari kemudian nanti..