Ada banyak orang yang aku lihat salah memandang krisis. Ada yang berpikir terlalu pesimis, takut Indonesia terkena krisis. Ada yang berpikir terlalu jauh, seolah-olah bangsa Amerika akan mengalami kehancuran.

Tergelitik hal itu, aku ingin mencoba menyederhanakan pemahaman tentang krisis.

Anggaplah ada beberapa orang, bernama Amerika, Indonesia, Jepang, Cina, dan Eropa (sementara untuk contoh, hanya disebutkan beberapa orang saja).

Si Amerika ini punya uang di kantongnya 100 ribu, si Jepang punya uang 110 ribu, si Cina punya uang 150 ribu, si Eropa punya uang 110 ribu, sementara si Indonesia hanya punya 10 ribu di kantongnya.

Mereka tiba-tiba menghadapi suatu krisis. Akibat krisis ini, si Amerika tiba-tiba duitnya jadi berkurang. Dari semula duit di kantong 100 ribu, sekarang dia terpaksa kehilangan duit 20 ribu, so duit di kantongnya dia tinggal 80 ribu. Si Jepang juga kehilangan duit 25 ribu, Eropa hilang 30 ribu, sementara si Cina cuman kehilangan 2 ribu. Si Indonesia, karena bukan sumber krisis, cuman kehilangan duit 250 perak.

So, inti dari cerita ini adalah :

1. Eropa, Amerika, Jepang, dan negara-negara maju lain boleh jadi mengalami krisis, dan kehilangan uang cukup besar. Tapi setelah kehilangan, tetap saja total duit di kantong mereka masih lebih banyak dari kantong Indonesia (meski Indonesia cuman kehilangan uang yang kecil).

2. Yang harus diperhatikan, dengan sumber daya yang dimiliki oleh negara maju : SDM, paten/ penelitian, infrastruktur, dll, negara maju akan tumbuh lagi setelah krisis berlalu. Potensi tumbuh mereka, bagaimanapun akan lebih tinggi dari Indonesia karena modal mereka lebih mantap.

3. Sebagai negara “miskin”, kehilangan yang “cuman” 250 perak (angka yang tidak seberapa dibandingin kerugian si Amerika), mungkin akan terasa sama atau lebih menyakitkan dibandingkan si Amerika yang kehilangan jauh lebih besar.

Angka-angka diatas bukan perbandingan angka sebenarnya. Tapi itu cukup menggambarkan situasi krisis dunia saat ini.