Takdir dan Kehendak Bebas Manusia March 20, 2008
Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Religy.trackback
Tulisan ini merupakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dilontarkan Budi. Tulisan ini dibuat hanya berdasar referensi-referensi yang pernah saya baca dan terus saya ingat, jadi bukan merupakan tulisan final hasil penelaahan mendalam. OK, start menulis!
Berbicara tentang takdir dan kehendak bebas, maka pertama kali yang akan diajukan pertanyaan adalah: Apa REFERENSI yang akan dijadikan patokan utama? Pada tulisan ini, karena saya seorang muslim, maka referensi utama yang akan saya pakai adalah Al-Qur’an. Lain-lain, sebagai tambahan aja.
Tentang TAKDIR, dalam Al-Qur’an ada dijelaskan bahwa semua yang terjadi TELAH TERTULIS seluruhnya dalam Kitab Lauhul Mahfudz (persis ayat dan suratnya aku lupa, silahkan kalau ada yang mau melengkapiJ). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 1 : Apa yang terjadi semua, tidak akan luput dari ketentuan-Nya.
Di sisi lain, dalam beberapa ayat di dalam Al-Qur’an banyak dicantumkan perintah untuk bertindak (amal shalih, dll). Kemudian dijelaskan (sebagai persuasi kepada manusia) akibat dari tindakan-tindakannya (amal baik dan amal buruk). Dari sini kita bisa tarik KESIMPULAN 2: bahwa manusia diberi kebebasan untuk memilih/ berbuat.
SEPINTAS terlihat kontradiksi dari dua kesimpulan di atas. Bagaimana mungkin manusia mendapat kebebasan kalau semua yang terjadi sudah dituliskan dalam Lauhul Mahfudz? Artinya, manusia hanya berjalan sesuai dengan yang tertulis pada kitab Lauhul Mahfudz, tanpa bisa memilih jalan yang lain! Ini merupakan keraguan yang muncul dari “kontradiksi” yang kita temukan dalam Al-Qur’an.
Sekarang kita coba lihat lebih teliti. Memang Al-Qur’an menerangkan tentang Lauhul Mahfudz sebagai Kitab yang mencatat semua takdir yang akan berlaku. Namun, TIDAK ADA SATUPUN ayat atau hadist yang menjelaskan bagaimana bentuk/ tulisan Lauhul Mahfudz itu. Dari sini muncul pertanyaan, apakah tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfudz itu berupa suatu deskripsi atau berupa formula/ hukum-hukum Allah ?
Ilustrasi berikut merupakan penjelasan dua kemungkinan diatas :
Kita misalkan ada seseorang bernama Amin yang akan bepergian. Jika tulisan dalam Lauhul Mahfudz berupa deskripsi, maka akan ditulis bahwa “Amin akan berada pada koordinat (2,2)”. Artinya, Amin tidak mungkin berada di tempat selain (2,2), artinya Amin tidak punya kebebasan sedikitpun untuk bisa memilih.
Tapi coba bayangkan, SEANDAINYA tulisan dalam Kitab Lauhul Mahfuz berbunyi “Amin akan berada pada garis persamaan Y=X”.
Artinya, Amin bisa berada di titik (1,1), (2,2), (3,3) atau malah (5,5). Dari sini kita bisa simpulkan bahwa Amin memiliki kebebasan untuk menentukan posisinya sendiri, namun masih dalam takdir Tuhan (yaitu di garis Y=X). Namun Amin tidak bisa sedikitpun bergeser dari takdir Tuhan. Amin tidak akan bisa ke posisi (2,3) meskipun dia ingin dan berusaha keras untuk itu.
Berbicara tentang kemungkinan takdir Tuhan ditulis dalam bentuk formula, bukan deskriptif, pertanyaan yang muncul adalah: Apakah semua ketentuan Tuhan bersifat dinamis, tidak ada yang mutlak?
Mari kita review sebentar tentang formula. Formula itu ada yang sederhana dan ada yang kompleks. Contoh Y=X adalah formula yang SANGAT SEDERHANA. Y =((X.X.c.d.b.a + 2aX)^( X.c – (2t.a)^b ))* (50-t) merupakan contoh formula yang agak kompleks (definisi formula kompleks adalah: ketika kita melihat dan kita bingung, maka itu kompleks
)
Terkadang ada juga formula yang mau apapun juga tindakan kita, hasilnya pasti angka tertentu. Misalkan formula diatas, mau berapapun nilai X, a,b, c, dan d, pada saat “t=50” maka hasilnya pasti akan 0 (nol). Artinya, SEANDAINYA ketentuan Tuhan semua ditulis dalam bentuk formula, maka tetap saja keputusan mutlak Tuhan tetap dimungkinkan. Jadi, misalnya Tuhan mau mentakdirkan umur manusia cuman 50 tahun, sangat sangat mungkin itu diwujudkan dalam formula.
Tulisan ini bukanlah menggambarkan apa yang sebenarnya tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Tapi hanya SEBUAH KEMUNGKINAN tentang Kitab Lauhul Mahfudz. Artinya, masih ada kemungkinan lain pula. Tapi point utamanya adalah, bahwa KESIMPULAN 1 dan KESIMPULAN 2 yang disebutkan di awal bukanlah suatu kontradiksi. Apa yang disampaikan Tuhan dalam Al-Qur’an pastilah benar. Artinya, Tuhan memiliki ketentuan yang PASTI akan berjalan, dan manusia pun juga memiliki kebebasan.
Pemikiran seperti ini muncul dari pengolahan semua yang pernah kuterima, baik bacaan ataupun pengalaman langsung. Aku sudah merasakan betapa kekuasaan Tuhan berbicara melebihi pemikiran manusia. Aku sudah merasakan betapa ketika aku mau memilih A, ternyata Tuhan memberiku B. Padahal semua usahaku mengarah pada A, sama sekali tidak mengarah ke B. Dan ternyata B ini merupakan sesuatu yang sangat vital buat perkembanganku kemudian. Dan ini bukan hanya satu kejadian. Ada beberapa.
Pemahaman-pemahaman ini lah yang kemudian membuat aku jauh lebih melunak dibandingkan dulu. Aku bukan lagi karang tajam yang melukai sekelilingku. Aku mungkin masih keras (kata banyak orang:p), tapi buat yang mengenalku dengan benar sejak dulu, akan tahu adanya perubahan ini. Tuhan sudah pernah menghancurkan diriku dan membentuk diriku kembali. Itulah salah satu kekuasaan Tuhan yang aku rasakanJ.


Sip2. Kayaknya aku juga bakal cari waktu utk buat tulisan tentang ini juga. Btw, tentang waktu kematian apakah bisa digeser2 juga?
[...] pernyataan ini? dan hari ini saya membaca satu blog membahas tentang takdir, take a look: ”takdir” itu dapat [...]
Hehehe.. ulasan yg bagus sekali bung. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kita tau itu takdir atau bukan sebelum kita menjalaninya sampai selesai?? Apakah ada yg ditakdirkan utk miskin terus sepanjang hidup?? (saya tanya ini krn hal ini yg paling dominan di pertentangkan org2)
@Budi
Tentang waktu kematian dan kelahiran, sepertinya ada Hadist atau Al Qur’an (lupa aku) mengatakan waktunya sudah ditentukan fix. Tapi di sisi lain ada juga beberapa kisah yang menceritakan bahwa waktu kematian bisa digeser. Aku belum tahu persisnya.
Artinya, kalau mau berkomentar tentang itu, aku mesti lihat dulu ayat ataupun hadist lengkapnya dengan segala penjelasan yang ada, baru bisa menarik kesimpulan.
Cuman dari sisi formula, SEANDAINYA pun ternyata Tuhan menghendaki waktu kematian berupa sebuah formula yang fleksibel, tentunya sangat-sangat mudah dan mungkin. Bahwa kok terlihat ada kontradiksi antara waktu kematian tetap dan fleksibel (kalau bener kontrakdisi ya..), MUNGKIN saja ada suatu formula misalkan (50 – x + A), dimana A itu adalah hal yang sangat-sangat kecil kemungkinannya terjadi. Dan dalam komunikasi, hal-hal yang sangat mungkin tejadi itu umumnya dianggap nol dan hanya diungkapkan dalam situasi khusus saja. Makanya sampai ada beberapa kasus khusus yang diceritakan bahwa Tuhan memanjangkan umur seseorang (note: aku belum tahu kesahihan cerita itu ya..)
@CY
Yang aku uraikan ini adalah KEMUNGKINAN penulisan takdir oleh Tuhan. Jadi bukan PASTInya penulisan takdir oleh Tuhan.
Hal lain.. seandainya kemungkinan yang aku ungkap ini ternyata benar, tidak satupun aku katakan bahwa kita bisa mengetahui takdir sebelum sesuatu itu terjadi. Karena sudah jelas bahwa Kitab Lauhul Mahfudz itu tersimpan oleh Tuhan dan tidak ada satupun mahluk yang bisa melihatnya. Bahwa ada beberapa orang yang “sepertinya” tahu tentang masa depan, itu tidak lebih dari (kalau menurut Al-Qur’an ya..), suatu curi-curi dengar oleh Jin yang disampaikan ke manusia (bukan curi-curi lihat ke Kitab Lauhul Mahfudz). Artinya curi-curi, maka yang didapatpun hanya sepotong-sepotong, bukan gambaran lengkap.
Hal lain lagi, mau ditakdirkan miskin atau kaya atau apapun.. tentunya sebagai manusia kita tidak bisa berbuat apapun kan:-). Dan itu tidak ada efeknya dalam hubungan manusia-Tuhan.
@Tara
Kalo itu dianggap “suatu curi2 dengar oleh Jin yg disampaikan ke manusia”, bagaimana dgn Yusuf yg bermimpi disembah oleh saudara2nya?? dan mimpi tentang kelaparan yg akan menimpa negeri Mesir?? Jin kah yg memberi mimpi ke Yusuf?? bung Tara pasti tau jawabannya
Menurut saya sih itu lebih ke sebuah talenta, tergantung pribadi orgnya mau dimanfaatkan berguna atau menyesatkan. Saya sih ga berani mengklaim itu “bisikan jin”…
pendapat seperti itu bisa saja salah. Kalau ditakdirkan miskin dan ga bisa buat apa2 lagi utk apa capek2 kerja cari duit?? Bukankah lebih mencerahkan kalau disebut kehidupan miskin itu hanya pilihan kita (sebelum turun) utk menikmati sekaligus mempelajari apa arti “keterbatasan materi dan gerak” plus kesempatan utk membayar karma buruk dimasa lalu??
Kemarin saya dapat buku di Qb, judulnya untaian mutiara 165 hari oleh Ary Ginanjar. Ada kata-kata bagus disana “shalat adalah seutas tali panjang yang berfungsi sebagai garis orbit hingga akhir hayat kita, jangan pernah melepaskan tali penuntun itu”
*gak nyambung dengan topik ttg takdir yah*
@Budi
Mana suaramu Bud?
Biasanya kamu ribut ama aku urusan ginian:p
@Rindu
Kemarin aku tahu masih ada luka.. Kenapa tidak ditutup aja luka kecil itu bersamaan luka besar yang sudah kamu tutup? Bukankah kita sekarang hidup baru
Meski sekedar aksara, ketika terus ada itu bisa membuka luka.
@CY
Miskin atau kaya itu semua ketentuan Tuhan! Ada orang yang usahanya mati-matian, tetapi tetap rejekinya “kelihatan” kecil. Ada juga yang orang usahanya santai-santai, tapi rejekinya “kelihatan” banyak. Ini semua ketentuan Tuhan. Bahwa manusia boleh berusaha atau tidak berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan hasil akhirnya. Aku sudah banyak mengalami kejadian, dimana aku berusaha keras tetapi tidak tercapai dan disisi lain aku tidak berusaha tapi malah mendapatkan. Dan di akhir aku evaluasi, ternyata yang aku terima semua itu adalah lebih baik dari apa yang aku pikirkan. Terlihat sekali kekuasaan Tuhan pada kejadian tersebut.
So, nggak usahlah membicarakan materi. Materi hanyalah sekedar konsekuensi hukum alam dan ketentuan Tuhan. Yang akan Tuhan lihat adalah seberapa besar syukur kita, seberapa besar sabar kita, seberapa besar dan lurus (Lillahi ta’ala) usaha kita, dll. Tuhan tidak akan menilai berapa banyak materi yang kita kumpulkan (tetapi malah menghakimi, apa yang kita lakukan dengan materi yang kita dapatkan).
@Rindu lagi..
Aku rindu chat nih.. Sayangnya waktuku bener-bener padat sekarang-sekarang ini..
Sik2. Sedang dapat takdir sibuk
Saya online, tapi tidak berani menyapa … takut melukai
Hai rindu,,,,
jangan takut untuk menyapa, menyapa bukanlah suatu persoalan yang memberatkan tapi jadikanlah menyapa itu silaturahmi yang kuat sesama manusia.
Salam Kenal
dari
Juchri
Ah Rindu, tak berani nyapa…..
Jadi Deng(RIN) sambil (DU)duk-duduk….!
Dasar pengecut…..!
Maklum cewek, sok perasa….
Tapi ini adalah takdir….
Ingan satu bait dari lagunya Iwan Fals yang berjudul “Yakinlah”,
“……bukan kutak mau, melantunkan laguku, kutakut menyakiti telingamu, bukan kutak mau memainkan gitarku, karena cinta bukan hanya nada…..”
Mirip dikit sama RINDU mungkin….!
saya suka penjabaran secara ilmiah.please email saya artikel yang menjelaskannya dengan nalar dan matematis.wassalam
Wah terimakasih atas perhatiannya Mas Ali Syehan.
Mohon maaf, kemampuan ilmiah saya ya hanya sebatas yang saya tulis ini. Barangkali jika Mas Ali memiliki uraian yang lebih ilmiah, boleh deh saya di-share.
BTW, karena tulisan ini tidak mendapat protes dari Budi, berarti Budi ikut sepakat ya:D
Wah, aku harus protes?!
Katanya kamu mau nulis tentang ini juga. Mana?? Masih takdir sibuk terus ya?
Bud, kapan-kapan aku mampir ke rumahmu ya? Paling agendanya nantang catur sih:p
Ayo! Papan caturku taksimpan di kantor. Mending ke kantor saja
Kang Budi yahoo ID-nya apa?
Saya juga mulai sering maen catur, nih; terutama nungguin subuh. Soalnya subuh di Jepang sekarang ini jam 3 pagi.
@ trisetyarso
Lho bukannya udah ada? budi241
takdir itu rahasia Allah. coba bayangkan kalo kita tau takdir kita. misal, kita tau kita akan mati dalam keadaan sholat, suci (pokoknya oke-lah), maka kita nggak bakal repot2 berusaha semaksimal mungkin karena kita tau keadaan kita waktu sang maut menjemput ntar. tapi bayangkan kalo kita tau ditakdirkan mati dalam keadaan menenggak minuman keras. kita pasti akan berputus asa karena apapun yang kita lakukan, kita akan meninggal pada saat melakukan perbuatan dosa.
so temans, baik deskripsi maupun formula, sebaik-baik manusia adalah yang sekuat tenaga berusaha untuk ridho Allah.
percaya qodlo n qodar WAJIB HUKUMNYA, kita bisa merubah taqdir kita,tapi atas kehendak Allah (karena Allah menetapkan taqdir dalam ukuran yang sama di antara manusia) tinggal sejauh mana usaha kita…Ok, Allah Maha Kuasa Atas Segala Sesuatu, jdi bukan hal yang sulit bagi Allah tuk merubah takdir kita,n tentunya untuk memudahkannya harus dengan usaha kita.Al Lail: 5 – 10
23 Juli 2009 @ 21:06