Belajar.. December 8, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.1 comment so far
Aku mungkin selama ini jarang berhubungan sosial. Aku menghabiskan hari-hari cuman dengan kerjaan, teman asrama, komputer, dan pernak-pernik.
Dalam beberapa hari ini kebetulan aku berinteraksi dengan berbagai orang. Dan aku mulai belajar untuk memahami perilaku orang-orang tersebut. Aku sedang tidak ingin menyebutkan orang-orang golongan apa itu, tapi cukup jauh lah dari bayangan ideal:(. Meski begitu, aku tetap harus mencoba memahaminya, karena bagaimanapun mereka ada (note: memahami tidak berarti membenarkan perilaku menyimpang ya! Memahami disini dalam arti sebenarnya, mencoba mencari tahu bagaimana perilaku sesungguhnya, kenapa, dll, sehingga bisa mengambil kesimpulan selanjutnya)
Hal lain yang aku pelajari, aku sempat dua kali memberi comment di blog lain, salah satunya disini. Ternyata respon yang kudapat sungguh jauh dari dugaan:(. Sekali lagi aku harus belajar, bahwa manusia itu beragam:(. Mungkin sesungguhnya aku memang bodoh, selalu menganggap semua orang sama:(.
Seputar AIDS December 7, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.1 comment so far
Barusan aku gondok banget baca tulisan di detik ini :
SBY: Kasus HIV/AIDS Indonesia Sudah Lampu Merah
Fitraya Ramadhanny – detikcomJakarta – 33,2 Juta rakyat Indonesia terkena HIV-AIDS. Menurut Presiden SBY, HIV-AIDS sudah lampu merah.
“Statistik ini lampu kuning, bahkan sudah lampu merah. Ini harus kita stop,” kata SBY dalam pidato peringatan Hari AIDS Sedunia di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta, Jumat (7/12/2007).
Menurut SBY penderita HIV-AIDS di Indonesia bertambah 2,5 juta orang setiap tahun. Setiap hari ada 5.000 penderita baru berusia 5-25 tahun.
“Perlu gerakan global untuk menanggulangi masalah ini,” imbuhnya.
Aku kaget berat. Angka 2.5 jt per tahun, itu SANGAT SANGAT LUAR BIASA! Jauh lebih mengerikan daripada flu burung! Penasaran, aku coba cari-cari lagi. Masih di detik juga, aku menemukan ini :
Data terbaru dari Departemen Kesehatan menyebutkan, sejak tahun 1987 hingga saat ini, sekitar 5.904 orang terinfeksi HIV. Sementara penderita AIDS yang dilaporkan adalah 10.384, di antaranya 2.287 orang telah meninggal dunia.
Jumlah penularan yang belum didata kemungkinan jauh lebih besar. Pada tahun 2006 sekitar 176.000 hingga 247.000 orang tertular virus HIV, sebagian di antara mereka sudah menikah atau sudah merencanakan akan menikah.
Coba perhatikan angka dari dua berita diatas.
Ini yang salah Detik atau SBY atau Depkes????
Kalau melihat kata-kata SBY, sepertinya sih SBY yang salah. Namun kesalahan sebegitu besar kok nggak terasa:(. Kasihan SBY yang terlalu sibuk kali ya…
Kalau ternyata yang salah Detik, ya sudah.. Paling kita cuman menilai aja.
Berbicara tentang HIV/AIDS, aku sebenernya menyimpan tanda tanya di hal lain, yaitu masalah keberanian dan budaya bangsa. Terkait kampanye kondom, apakah itu tepat? Apakah itu sesuai dengan budaya bangsa kita? Kenapa kita harus selalu tunduk pada budaya asing?
Apa dasarnya/logikanya sehingga untuk melawan AIDS harus dengan kondom? Apakah tidak ada cara lain? Bukankah kita bisa kampanye untuk “kebiri semua pria dan wanita”, atau kita kampanye “stop seks bebas”, atau kita kampanye “keluarga idaman”, atau kita kampanye “cukup 1 selingkuhan”. Aku tidak akan menilai satu demi satu topik tersebut. Namun yang aku lihat adalah, bahwa ada banyak option. Yang menjadi masalah adalah, apakah semua option tersebut telah dievaluasi, sehingga muncul program “kondomisasi nasional”?
Rasanya seperti tidak rela, melihat kampanye kondom sampe membagikan kondom yang ada rasanya segala:(. Tidak rela membayangkan seandainya dana itu untuk proyek irigasi suatu desa daripada nyumbang kondom. Tidak rela membayangkan seandainya dana itu disalurkan untuk beasiswa daripada nyumbang kondom.
Sekali lagi, inti permasalahannya ada pada budaya bangsa. Mungkin yang benar memang kita ini tidak punya budaya:(. Atau.. para pengambil kebijakan itu tidak berbudaya:(. Duh.. nothing I can do:((
Capek?? December 5, 2007
Posted by Tara in Religy.1 comment so far
Apakah kalian sedang merasa capek dalam hidup?
Merasa banyak cobaan, kesusahan, dll yang memberatkan?
Then, bacalah Surat Al-Ankabut ayat 1-3 yang artinya sebagai berikut :
- Alif laam miim
- Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?
- Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Subhanallah..
Aku dulu pernah di saat capek, rasanya pengen nangis aja. Kemudian aku membuka sembarang Al-Qur’an untuk mendapat hikmah. Ternyata ayat diatas yang kebetulan aku buka!
Lemas langsung badanku….
Aku yang tadinya capek, ingin sedikit bermanja dengan berkeluh kesah, ternyata mendapat tamparan dengan ayat itu! Mau melawan bagaimana lagi coba?!
Ketika kita merasa capek dengan takdir yang diberikan Tuhan, artinya kita tidak menyukai Tuhan! Artinya kita menolak takdir-Nya. Kalau baru sedikit cobaan saja, kita sudah berani mempertanyakan takdir-Nya, apakah layak kita mengaku beriman?
Then, tamparan ini “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” membuat aku lemas…. tidak bisa mengelak…. Tidak bisa bermanja-manja mengatakan diriku capek.
Astaghfirullah hal adziem.. betapa sering aku mengeluh dalam hidup ini, seolah menggugat takdir-Nya:(
Kehalusan hati Umar Bin Khattab December 3, 2007
Posted by Tara in Religy.add a comment
Tadi aku melewati beberapa masjid, dan melihat pengajian di sana. Aku kok jadi terpanggil, mengapa aku tidak memanfaatkan apa yang ada di aku? Bukankah Nabi bersabda, kira-kira terjemahan bebasnya adalah sebagai berikut ”Sampaikanlah dariku walau 1 ayat“. Dan aku tergerak untuk mengisi blog ini dengan lebih banyak.
Saat ini terlintas di benakku untuk menulis tentang Ummar. Kita mungkin mengenal Ummar, sahabat Rasul, sebagai orang yang garang, orang yang ditakuti. Nah, pada saat aku kebetulan membaca Surat Thaaha, aku teringat kasus Ummar masuk Islam. Aku penasaran dan kemudian aku mencoba mempelajari, apa yang membuat Ummar bisa berubah dari akan membunuh Nabi menjadi masuk Islam setelah membaca Surat Thaaha.
Dengan memposisikan diriku sebagai Ummar pada waktu marah itu, aku kemudian membaca Surat Thaaha. Dan, subhanallah.. Luar biasa Surat Thaaha itu! Dan aku bisa memahami bagaimana Ummar sebagai lelaki yang kuat di masa itu sampai jatuh lemas setelah membacanya.
Mari kita lihat terjemahan surat tersebut :
1. Thaahaa
2. Tidaklah Aku turunkan Al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah
3. Kecuali sebagai peringatan bagi orang yang takut
4. Diturunkan dari yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi
5. Yang Maha Pemurah, yang bersemayam diatas Arsy
Mari kita bayangkan apa yang dialami Ummar.
Ummar pada saat membaca itu, dia sedang marah, galau karena Nabi Muhammad dianggapnya sebagai pemecah belah suku Quraisy. Maka dia menghunus pedang untuk membunuh Nabi Muhammad. Ketika membaca ayat pertama diatas, mungkin dia tidak bereaksi apapun (tidak memahami artinya).
Pada saat membaca ayat kedua, dia menurun emosinya. Karena dia melihat penjelasan bahwa Al-Qur’an bukan untuk memberatkan manusia.
Pada ayat ke tiga, dia mulai berhati-hati, karena dikatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan bagi orang-orang yang takut. Artinya orang yang tidak takut, tidak apa dong! Namun dia harus berhati-hati, karena kalimat ini masih terbuka.
Pada ayat ke empat, mulailah dia jatuh! Karena ini adalah lanjutan dari ayat ke-tiga. Al-Qur’an adalah peringatan bagi orang-orang yang takut, dan peringatan ini dikeluarkan dari yang mencipakan langit dan bumi! Siapakah kita ini sih? Pada saat itu, dia menyadari bahwa yang dihadapinya adalah Tuhan.
“Untuk lebih membayangkan kejadian ini, bayangkan saja ada seorang polisi kroco yang iseng mencoba memalak sebuah mobil. Dan ketika mobil dibuka, terlihatlah topi jendral di situ. Maka, jatuh lemas lah sang polisi kurang ajaran itu.
Ummar, sebagai seorang hamba yang bodoh, tidaklah berbeda dengan kasus polisi konyol diatas. Dia awalnya mau petentengan (sok, pamer kekuaran), mau membunuh Nabi. Namun setelah melihat Tuhan, langsung jatuh terduduk, karena kuasa Tuhan jauhhhh lebih tinggi daripada seorang jendral.
Ayat ke lima, semakin menggambarkan kuasanya Allah. Kuasa, namun tetap Maha Pemurah!
Subhanallah.. hampir menangis aku membayangkan peristiwa itu. Peristiwa itu merupakan penterjemahan sendiri dari aku, jadi entah benar entah tidak. Sekurang-kurangnya itulah perasaan yang akan muncul di aku, sekiranya aku menjadi Ummar pada saat itu.
Jadi siapa bilang Ummar berhati garang? Hati yang tidak lembut, tidak akan sanggup menangkap pesan yang sedemikian halus dari Tuhan.