Solusi Transportasi Jakarta November 7, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud, Transport.trackback
Iseng disela-sela kesibukan kerja ah… (refreshing:D)
Aku pengen nulis ini gara-gara dalam beberapa hari ini orang pada ngomongin macetnya jakarta (aku mah dah sebel sejak dulu-dulu:-(). Ditambah dengan tulisan di kompas yang mengatakan kerugian akibat transportasi sekitar Rp 43 trilyun/th (Aku agak gak percaya dengan analisanya. Tapi aku itung ulang informasinya, dengan sedikit koreksi, dapetnya ya sekitar 30 trilyun. Tetep gedhe!).
Ada beberapa hal yang terlintas dipikiranku :
Pertama, analisa transportasi itu tidak semata-mata bicara fasilitas ataupun teknologi!
Basis pertama analisa transportasi adalah demand (alias prediksi berapa besar permintaan untuk kebutuhan transportasi). Ketika melihat Jakarta yang macet, jangan langsung berpikir ini harus disediakan X, Y, Z, dll. Tapi harus dianalisa kenapa itu bisa terjadi. Lets say, kita udah bangun subway, monorail, busway, dll, ternyata hasil akhirnya adalah : semua transportasi massal tersebut penuh dan jakarta tetap macet, dan orang masih mengeluh tentang transportasi!
(Note: Ini hal yang mungkin terjadi lho!)
Dosenku, Pak Agus Salim, guru besar di S2 Transportasi ITB, pernah berkata “Jl. Gatot Subroto itu dari dulu sampai sekarang tingkat kepadatannya ya itu-itu juga. Bedanya, dulu cuman 2 jalur, sekarang sudah sekian banyak jalur + jalan tol. Menambah kapasitas transportasi tidak akan memecahkan masalah, hanya memecahkan sesaat. Karena orang akan langsung mengisi kapasitas tersebut“.
Jadi kalau mau menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta, jangan lupa analisa demand!
Kedua, apa alternatif solusi transportasi Jakarta?
Ada beberapa pilihan.
Pilihan pertama, sesuai dengan hukum demand transportasi. Kalau mau mengatasi kemacetan Jakarta, buat pertumbuhan negatif di kota Jakarta! Pertumbuhan negatif di jakarta tidak berarti pertumbuhan negatif nasional! Tetapi yang terjadi adalah PEMERATAAN EKONOMI! Karena bisnis yang dilarang tumbuh di Jakarta, akan tumbuh di daerah lain (Bekasi, Tangerang, Serang, Purwakarta, dll).
Bagaimana teknik melakukan pertumbuhan negatif? Gampang! Tinggal bikin aturan, tidak ada pembukaan perusahaan baru! Naikkan PBB untuk perkantoran dan gedung (terserah, mau semuanya atau untuk yang baru saja). Inilah perangkat yang dikuasai pemerintah untuk melakukan pertumbuhan negatif.
Tetapi harap dicatat, peraturan ketat di Jakarta ini hendaknya diikuti dengan peraturan mudah di daerah lain yang akan menampung limpahan opportunity dari Jakarta. Juga disediakan infrastruktur bisnis sehingga opportunity tadi tetap bisa jalan, meski tidak di Jakarta. Peraturan yang hanya dijalankan setengah, akan mengakibatkan permasalahan besar!
Pilihan kedua, langsung tembak pada transportasinya. Masalah di Jakarta adalah ekstrim, jadi solusinya pun harus ekstrim. Alternatif aturan yang bisa dikeluarkan adalah :
- Kendaraan pribadi dilarang beroperasi selama hari kerja. Hanya kendaraan umum, kendaraan dengan label perusahaan (misal, ada tulisan Garda Oto, Telkomsel, dll) yang boleh berjalan. Kendaraan milik perusahaan tanpa label, hanya boleh berjalan dengan adanya stiker khusus. Stiker khusus ini diperoleh dengan mengurus (gratis!) dengan memperlihatkan bukti-bukti perusahaan, dan dijatah 1 perusahaan maksimal 1 mobil (bisa juga dibuat aturan perbandingan jumlah mobil dan karyawan). atau,
- Aturan 3 in 1 diterapkan di seluruh jakarta (bukan hanya di Jalan protokol), dan berlaku dari jam 06:00 hingga 22:00. Kalau perlu ditingkatkan menjadi 4 in 1.
Note: ketika aturan diatas ditegakkan, harus diyakinkan bahwa transportasi umum juga siap untuk melayani masyarakat (dengan kenyamanan dan biaya yang sama dengan yang ditanggung oleh masyarakat jika menggunakan kendaraan pribadi)! Dengan aturan ini, maka masyarakat mendapat kenyamanan, angkutan umum akan tumbuh. Win-win solution!
Solusi ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, berbagai konflik kepentingan bisa menghambat aturan ini. Bayangkan.. apakah penjual mobil tidak akan menjerit (penjualan kendaraan mereka akan drop)? Apakah para pencuri mobil tidak akan menjerit? Apakah para elit borjuis tidak akan menjerit (mereka nggak bisa berpamer kekayaan dengan mudah:p)?
Kalau untuk masyarakat umum, pekerjaan sulit adalah sosialisasi. Karena masyarakat umum cenderungnya egois, hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri. Contoh kasus egoisme masyarakat, dalam kasus busway, dimana masih banyak penentangan. Para penentang ini (yang punya mobil pribadi dan nyaman) tidak pernah berpikir, bagaimana seandainya ada orang hamil yang nggak mampu, harus perjalanan dari blok M ke Kota, tanpa ada busway? Apakah mereka akan menyuruh orang itu naik di bus umum berdesak-desakan, tidak nyaman, panas dan lama? Itulah masyarakat yang egois!
Dalam hal planning sudah bagus, dan analisa oleh para ahli juga mengatakan itu solusi terbaik (note: dua syarat ini tidak boleh diabaikan), then langsung aja jalankan kebijakan itu.
Sosialisasi tetap perlu, karena masyarakat juga manusia. Tapi ketika penentangan-penentangan yang ada adalah berbasis egoisme, maka pemerintah harus jalan terus! Seperti yang dilakukan Sutiyoso dengan busway ketika orang banyak menentang. Toh setelah berjalan dengan lancar, masyarakat akhirnya akan mengerti. Apapun, keputusan pemerintah sebaiknya dengan memperhatikan kepentingan masyarakat banyak dan kurang mampu. Bukan segelintir elit yang mampu untuk berbuat berbagai hal.
Buat pembaca yang ada jalur ke Foke, boleh deh usulan ini disampaikan:-)
Mau nambahin …ada yang lupa dengan ekses kebijakan 3-in-1…joki makin nambah banyak donk pak? trus, berarti itu kan menstimulir pertumbuhan ‘positif’ donk? Kalau boleh usul…hapuskan bis kota konvensional dan mikrolet, bikin macet aja karena ngetem dan ugal-ugalan aja…perbaiki service dan tambah armada busway..para supir dari bis dan mikrolet bisa daftar jadi supir busway..kontrol pungli dan kesempatan korupsi di busway…karena seperti kita tahu pada semua birokrasi kita..ini kan membuat peluang korupsi dgn melakukan pungli dalam merekrut para crew busway.. dan…monorailnya kapan? .
Setuju!
1. Hapuskan atau minimal meremajakan unit transportasi massal selain bus Trans Jakarta. Buat satu sistem pelatihan/training tertentu untuk ‘meng-upgrade’ para supir bus konvensional/mikrolet tersebut.
2. Perbaiki infrastruktur, spt terminal, halte, trotoar, rambu2, keamanan, jalan raya. Saya lebih menyoroti dengan peremajaan trotoar untuk pejalan kaki, karena Jakarta sangat tidak ramah terhadap mereka.
3. Saya meng-adaptasi sistem transportasi di Seoul, dimana mereka menerapkan HANYA 4 jenis transportasi bus. Contoh: Bus warna merah (rute jarak jauh), melayani rute BSD/kota satelit lainnya-Sudirman/kws Segitiga Emas. Bus warna kuning (antar terminal bus-kereta api) melayani rute Ragunan-Dukuh Atas. Bus warna biru (antar terminal bus) melayani rute Blok M – Lb. Bulus. Bus warna hijau (antar 1 wilayah) hanya beroperasi di satu wilayah tertentu, misal: Jakarta Timur.
4. Ini yg paling penting. Kita butuh uang untuk membangun & MERAWAT infrastruktur2 tersebut, oleh karenanya beri hukuman seberat2nya terhadap para koruptor dan TEGAKKAN kedisiplinan masyarakat Indonesia khususnya Jakarta sebagai ibukota negara.
saya ma pendapatnya lain………
Menaggulangi lalin macet sbb :
- Kurangi urbanisasi dari luar Jkarta ke Jakarta dengan otda yang berkwalitas,
- Bangun transfortasi massal dan murah, mungkin railway, shapway dll.
- Kurangi pertumbuhan kendaraan baru dengan pengadaan STNK cara lelang,(adanya perbandingan panjang jalan dengan jumlah kendaraan).
- Lakukan baypas atau penambahan jaringan yang diperlukan (tergantung lokasi) dan bebaskan tanah-tanah di sudut jalan perapatan “T”.
- Lakukan pembatasan tahun produksi berlaku diseluruh DKI Jakarta
mudah-mudaha macet berlalu
wah.. 4 in1? he h he.. sebenarnya 3 in1 aja terbukti nggak efektif kok. terlihat dari banyaknya joki 3 in 1 yang masih saja berkeliaran. ini khan sebenarnya tidak mengurangi kemacetan yang ada.
kalau menurut saya kenapa gatot subroto bisa macet juga dikarenakan beberapa hal:
1. Satu jalur dihususkan untuk busway yang sudah tiga tahun lewat tidak kunjung beroperasi. sehingga pengguna jalan hanya dapat menggunakan 2 jalur. kalau pun ada yang menggunakan jalur busway, maka mereka harus hati-hati karena ada kemungkinan di tilang, dan bahaya menyerempet motor atau pun batas jalan.
2. bis-bis yang menaik-turunkan penumpang di daerah Komdak. hal ini terjadi secara alamiah karena jembatan semanggi merupakan titik akses ke banyak tempat.
2. kendaraan keluar masuk yang buat ruwet di plaza semanggi dan yang mau berbelok kiri dari jalan sudirman ke jalan gatot subroto.
3. Baru saja melewati kehancuran yang diciptakan oleh plaza semanggi. keruwetan yang juga ditambah dengan mobil yang hendak masuk ke tol, menghindari jalur bus way, dan kendaraan umum yang menaikturunkan penumpang.
Jika anda perhatikan jalan dari hotel sultan sampai taman ria senayan relatif tidak macet. tapi kemudian biasanya dari titik taman ria sampai slipi jalan akan macet karena:
1. jalan di perempatan slipi (dahulu bunderan slipi) menurun, sehingga otomatis orang akan memperlambat kendaraannya untuk menghindari tabrakan beruntun.
2. setelah melewati lampu merah di perempatan slipi terjadi 3 jenis penyebab kebuntetan:
-kendaraan dari sebelah kiri jalan yang hendak memotong ke kanan untuk mencapai gerbang tol,
-kendaraan umum dari sebelah kanan jalan yang memotong jalan ke kiri untuk menaikturunkan penumpang.
-kendaraan-kendaraan di tengah yang berusaha menghindar jalur bus way.
kemudian jika Anda mendekati slipi jaya.. kembali ada menemukan keruwetan yang disebabkan oleh:
1. Bis-bis besar yang keluar dari tol, tapi langsung menyeberang sampai ke sebelah kiri untuk menaikturunkan penumpang.
2. ojek-ojek nan kecil dan imut-imut yang melawan arus sehingga pengendara mobil hanya bisa mengelus dada dan bersabar.
solusi untuk masalah di atas adalah:
1. pindah pintu keluar masuk tol. karena di sinilah terjadi penyumbatan, terutama di gerbang tol semanggi ke arah cawang dan gerbang tol slipi ke arah tomang.
2. buatkan daerah khusus naik turun penumpang bus.
3. operasikan bus way secepatnya sehingga para pengguna jalan dapat menggunakan jasa busway dan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
4. tutup pintu masuk plaza semanggi di jalan gatot subroto.
5. terus tekan individu yang bertanggung jawab di jasa marga, transjakarta, dan polantas untuk bisa mengatasi keadaan ini. paparkan track record dan reputasi mereka di media massa sehingga mereka akan merasa karir mereka yang dipertaruhkan jika mereka tidak mengatasi masalah kemacetan di gatot subroto dengan segera.
Terimakasih masukannya Mas Bimo,
Menurut saya itu masih ide-ide sporadis (tapi sangat mungkin dijalankan). Mengingat kemacetan di Jakarta kan tidak hanya di jalur gatsu saja, dan transportasi sebagaimana saya uraikan di atas bukan hanya masalah infrastruktur (tapi juga ada masalah demand), maka penyelesaian masalah juga tidak bisa sporadis.
Harus ada grand design. Coba perhatikan, bahwa opsi yang saya tawarkan semua memiliki note yang harus diikuti. Artinya, ide itu tidak bisa dijalankan begitu saja tanpa memperhatikan note tersebut.
Regards,