Learning from Germany (2) November 5, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.trackback
Seri tulisan :
Learning from Germany (1), Learning from Germany (2), Learning from Germany (3)
B. Peluang Bisnis
Membangun bisnis (secara khusus bisnis IT) di Jerman ataupun outsourcing dari Jerman ke Indo tidaklah mudah. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam outsourcing adalah sebagai berikut :
- Capability Trust
Ini masalah yang basic. Budaya orang Jerman adalah tidak mau coba-coba. Mereka lebih baik mahal tapi pasti daripada coba-coba dan beresiko. Artinya, kita harus bisa membuktikan bahwa kemampuan kita bisa diandalkan.
- Security
Security ini sangat penting karena karakteristik bisnis di Jerman adalah bisnis masa depan. Perhatikan karakteristik industri otomotif, telekomunikasi, dll. Pekerjaan yang dilakukan sekarang adalah untuk pertempuran di pasar dalam beberapa tahu ke depan. Maka mereka sangat konsentrasi agar apa yang mereka lakukan tidak bisa ditebak oleh kompetitor mereka. Security ini harus diperhatikan baik dalam hal hubungan antar perusahaan maupun dalam hubungan antara perusahaan dengan karyawannya.
Dengan batasan diatas, maka jika ingin menjalankan bisnis outsourcing adalah :
- Membangun bisnis outsourcing dengan basis di Jerman terlebih dahulu. Setelah jalan beberapa tahun, mungkin 3-5 tahunan, baru bisa dipindahkan ke Indo.
- Mengajak perusahaan Jerman membangun outsourcing di Indonesia, dan kita yang manage.
Kemudian untuk membuka perusahaan di Jerman, yang harus diperhatikan adalah :
- Perpajakan. Jerman pajaknya tinggi, baik pajak perusahaan ataupun pajak gaji karyawan.
- Jerman negara yang teratur, termasuk penataan wilayahnya ketat. Sehingga jika ingin membuka perusahaan akan dievaluasi lokasinya terkait lokasi tenaga kerja dan lokasi pasar.
- Business plan akan dievaluasi untuk Pemerintah Jerman memberikan ijin.
Dari kedatangan ke Cebit di Hannover, tidak terlihat prospektif juga bagi usaha kecil. Tidak terlihat banyak buyer yang datang ke sana. Berbeda untuk bisnis besar. Sebagian besar peserta Cebit adalah pihak yang jualan.
Next time jika ingin ke Cebit, bisa dilakukan jika kita ingin mencari partner untuk dijual, bukan partner untuk menjualkan produk kita. Jika kita akan ke Cebit juga, harus memiliki key point yang bisa membedakan kita dengan negara-negara lain semacam Iran, India, Filipina, dan negara-negara Eropa Timur yang juga menawarkan tarif rendah. Strategi lain untuk ke Cebit adalah, untuk menemui orang-orang Indo dari perusahaan besar yang ingin belanja di Cebit. Kita dekati mereka agar pembelian tidak dilakukan ke asing tapi ke kita
.
Kemudian ada rencana untuk bertemu dengan Pak Herman, orang Indo yang memiliki perusahaan Consultant di Muenchen. Tapi kebetulan waktunya nggak match sehingga tidak bertemu. Pak Herman ini mempunyai karyawan sekitar 10-an orang. Itulah informasi terkait bisnis yang didapat dari pengamatan dan percakapan dengan beberapa orang.
C. Peluang Kerja
Dari pembicaraan dengan beberapa orang student disini, peluang kerja sambil kuliah itu mungkin, tetapi itu di tahun ke dua. Tahun pertama dibutuhkan untuk kuliah yang full, belajar bahasa, adaptasi dan menjalin network. Pada tahun ke dua baru bisa mencari pekerjaan. Tapi ini sifatnya juga untung-untungan, artinya tergantung kepandaian / flexibilitas kita dalam mencari kerja.
D. Peluang Sekolah
Dari pembicaraan dengan Pak Agus (www.agussutanto.com) terbetik ide, ada baiknya sekolah dimana aku bisa sambil membuat software yang kemudian bisa dijual oleh Dot System. Anggap saja kerja dapat titel, sekaligus belajar bahasa. Iseng-iseng berhadiah
.Sejauh ini sih, pilihan pertama sepertinya tetap di Freiburg, Master of Econimic and Politic.
Bagaimanapun pilihan terbaik adalah sekolah yang kita senang.
(note : udah 3 tahun berlalu, dan aku masih belum sempat juga kuliah:(. Masih sibuk dengan urusan kerjaan:(()
Comments»
No comments yet — be the first.