You are currently browsing the monthly archive for November 2007.

Judul itu adalah kata-kata Sahabat Ali bin Abi Tholib. Seorang Sahabat Nabi yang ilmunya luar biasa hingga digelari oleh Rasul sebagai “Gerbangnya Ilmu”

Judul diatas dijadikan sebuah judul buku yang berisi kutipan-kutipan kalimat Ali.

Menarik buku itu. Sebagai penghibur hati dan pengolah jiwa. Meskipun kelihatrannya kalimat sepotong-sepotong, namun isinya luar biasa! Kata-kata Ali kurasakan sebagai indah, dalam, dan.. telak!

Indah, coba deh kalian baca. Akan kalian temukan bahasa-bahasa yang seindah air mengalir di sungai. Lincah meliuk.

Dalam, kata-kata Ali sangat sarat makna. Membongkar banyak kebenaran terdalam. Lagu Tombo Ati  (dinyanyikan Emha Ainun Nadjib) / Obat hati (dinyanyikan Opick) sebenarnya kan mengambil dari ujar-ujar Ali. sangat dalam kan isinya? Masih banyak lagi ujar-ujar Ali yang dalam.

Telak, karena kata-kata Ali banyak yang menohok diri kita. Seolah itu suatu pukulan yang menghantam titik terlemah diri kita. Menghantam telak kesalahan-kesalahan kita. Kata-katanya mengungkap kebenaran yang tak dapat disanggah. Suka tidak suka, kita terpaksa harus menerima/ mengakuinya.

Sebagai contoh, Ali berkata sebagai berikut (kurang lebihnya) :

“Berkacalah kamu. Jika yang kamu lihat adalah wajah yang baik, maka anggaplah itu buruk, karena kamu telah menaruh keburukan (dosa) diatas wajah yang baik. Jika yang kamu lihat adalah wajah yang buruk, maka anggaplah itu tetap buruk, karena dua keburukan telah kamu kumpulkan (wajah buruk + dosa)”

Aku membaca kalimat diatas dengan perasaan geli, mangkel, jengkel, dan… tak bisa melawan kebenaran dalam kalimat itu:)).

Judul diatas untuk warga Pondok Indah yang mencoba menghalangi pembangunan jalur busway!

Sama menjijikkannya adalah para lawyer yang mau bekerja untuk mereka!

Nggak perlu disebutkan lagi kenapa menjijikkan kan?

Iseng disela-sela kesibukan kerja ah… (refreshing:D)

Aku pengen nulis ini gara-gara dalam beberapa hari ini orang pada ngomongin macetnya jakarta (aku mah dah sebel sejak dulu-dulu:-(). Ditambah dengan tulisan di kompas yang mengatakan kerugian akibat transportasi sekitar Rp 43 trilyun/th (Aku agak gak percaya dengan analisanya. Tapi aku itung ulang informasinya, dengan sedikit koreksi, dapetnya ya sekitar 30 trilyun. Tetep gedhe!).

Ada beberapa hal yang terlintas dipikiranku :

Pertama, analisa transportasi itu tidak semata-mata bicara fasilitas ataupun teknologi! 

Basis pertama analisa transportasi adalah demand (alias prediksi berapa besar permintaan untuk kebutuhan transportasi). Ketika melihat Jakarta yang macet, jangan langsung berpikir  ini harus disediakan X, Y, Z, dll. Tapi harus dianalisa kenapa itu bisa terjadi. Lets say, kita udah bangun subway, monorail, busway, dll, ternyata hasil akhirnya adalah : semua transportasi massal tersebut penuh dan jakarta tetap macet, dan orang masih mengeluh tentang transportasi!

(Note: Ini hal yang mungkin terjadi lho!)

Dosenku, Pak Agus Salim, guru besar di S2 Transportasi ITB, pernah berkata “Jl. Gatot Subroto itu dari dulu sampai sekarang tingkat kepadatannya ya itu-itu juga. Bedanya, dulu cuman 2 jalur, sekarang sudah sekian banyak jalur + jalan tol. Menambah kapasitas transportasi tidak akan memecahkan masalah, hanya memecahkan sesaat. Karena orang akan langsung mengisi kapasitas tersebut“.

Jadi kalau mau menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta, jangan lupa analisa demand!

Kedua, apa alternatif solusi transportasi Jakarta?

Ada beberapa pilihan.

Pilihan pertama, sesuai dengan hukum demand transportasi. Kalau mau mengatasi kemacetan Jakarta, buat pertumbuhan negatif di kota Jakarta! Pertumbuhan negatif di jakarta tidak berarti pertumbuhan negatif nasional! Tetapi yang terjadi adalah PEMERATAAN EKONOMI! Karena bisnis yang dilarang tumbuh di Jakarta, akan tumbuh di daerah lain (Bekasi, Tangerang, Serang, Purwakarta, dll).

Bagaimana teknik melakukan pertumbuhan negatif? Gampang! Tinggal bikin aturan, tidak ada pembukaan perusahaan baru! Naikkan PBB untuk perkantoran dan gedung (terserah, mau semuanya atau untuk yang baru saja). Inilah perangkat yang dikuasai pemerintah untuk melakukan pertumbuhan negatif.

Tetapi harap dicatat, peraturan ketat di Jakarta ini hendaknya diikuti dengan peraturan mudah di daerah lain yang akan menampung limpahan opportunity dari Jakarta. Juga disediakan infrastruktur bisnis sehingga opportunity tadi tetap bisa jalan, meski tidak di Jakarta. Peraturan yang hanya dijalankan setengah, akan mengakibatkan permasalahan besar!

Pilihan kedua, langsung tembak pada transportasinya. Masalah di Jakarta adalah ekstrim, jadi solusinya pun harus ekstrim. Alternatif aturan yang bisa dikeluarkan adalah :

  1. Kendaraan pribadi dilarang beroperasi selama hari kerja. Hanya kendaraan umum, kendaraan dengan label perusahaan (misal, ada tulisan Garda  Oto, Telkomsel, dll) yang boleh berjalan. Kendaraan milik perusahaan tanpa label, hanya boleh berjalan dengan adanya stiker khusus. Stiker khusus ini diperoleh dengan mengurus (gratis!) dengan memperlihatkan bukti-bukti perusahaan, dan dijatah 1 perusahaan maksimal 1 mobil (bisa juga dibuat aturan perbandingan jumlah mobil dan karyawan). atau,
  2. Aturan 3 in 1 diterapkan di seluruh jakarta (bukan hanya di Jalan protokol), dan berlaku dari jam 06:00 hingga 22:00. Kalau perlu ditingkatkan menjadi 4 in 1.

Note: ketika aturan diatas ditegakkan, harus diyakinkan bahwa transportasi umum juga siap untuk melayani masyarakat (dengan kenyamanan dan biaya yang sama dengan yang ditanggung oleh masyarakat jika menggunakan kendaraan pribadi)! Dengan aturan ini, maka masyarakat mendapat kenyamanan, angkutan umum akan tumbuh. Win-win solution!

Solusi ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, berbagai konflik kepentingan bisa menghambat aturan ini. Bayangkan.. apakah penjual mobil tidak akan menjerit (penjualan kendaraan mereka akan drop)? Apakah para pencuri mobil tidak akan menjerit? Apakah para elit borjuis tidak akan menjerit (mereka nggak bisa berpamer kekayaan dengan mudah:p)?

Kalau untuk masyarakat umum, pekerjaan sulit adalah sosialisasi. Karena masyarakat umum cenderungnya egois, hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri. Contoh kasus egoisme masyarakat, dalam kasus busway, dimana masih banyak penentangan. Para penentang ini (yang punya mobil pribadi dan nyaman) tidak pernah berpikir, bagaimana seandainya ada orang hamil yang nggak mampu, harus perjalanan dari blok M ke Kota, tanpa ada busway? Apakah mereka akan menyuruh orang itu naik di bus umum berdesak-desakan, tidak nyaman, panas dan lama? Itulah masyarakat yang egois!

Dalam hal planning sudah bagus, dan analisa oleh para ahli juga mengatakan itu solusi terbaik (note: dua syarat ini tidak boleh diabaikan), then langsung aja jalankan kebijakan itu.

Sosialisasi tetap perlu, karena masyarakat juga manusia. Tapi ketika penentangan-penentangan yang ada adalah berbasis egoisme, maka pemerintah harus jalan terus! Seperti yang dilakukan Sutiyoso dengan busway ketika orang banyak menentang. Toh setelah berjalan dengan lancar, masyarakat akhirnya akan mengerti. Apapun, keputusan pemerintah sebaiknya dengan memperhatikan kepentingan masyarakat banyak dan kurang mampu. Bukan segelintir elit yang mampu untuk berbuat berbagai hal.

Buat pembaca yang ada jalur ke Foke, boleh deh usulan ini disampaikan:-)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.