Tanyalah aku sebelum kau kehilangan aku! November 22, 2007
Posted by Tara in Religy.6 comments
Judul itu adalah kata-kata Sahabat Ali bin Abi Tholib. Seorang Sahabat Nabi yang ilmunya luar biasa hingga digelari oleh Rasul sebagai “Gerbangnya Ilmu”
Judul diatas dijadikan sebuah judul buku yang berisi kutipan-kutipan kalimat Ali.
Menarik buku itu. Sebagai penghibur hati dan pengolah jiwa. Meskipun kelihatrannya kalimat sepotong-sepotong, namun isinya luar biasa! Kata-kata Ali kurasakan sebagai indah, dalam, dan.. telak!
Indah, coba deh kalian baca. Akan kalian temukan bahasa-bahasa yang seindah air mengalir di sungai. Lincah meliuk.
Dalam, kata-kata Ali sangat sarat makna. Membongkar banyak kebenaran terdalam. Lagu Tombo Ati (dinyanyikan Emha Ainun Nadjib) / Obat hati (dinyanyikan Opick) sebenarnya kan mengambil dari ujar-ujar Ali. sangat dalam kan isinya? Masih banyak lagi ujar-ujar Ali yang dalam.
Telak, karena kata-kata Ali banyak yang menohok diri kita. Seolah itu suatu pukulan yang menghantam titik terlemah diri kita. Menghantam telak kesalahan-kesalahan kita. Kata-katanya mengungkap kebenaran yang tak dapat disanggah. Suka tidak suka, kita terpaksa harus menerima/ mengakuinya.
Sebagai contoh, Ali berkata sebagai berikut (kurang lebihnya) :
“Berkacalah kamu. Jika yang kamu lihat adalah wajah yang baik, maka anggaplah itu buruk, karena kamu telah menaruh keburukan (dosa) diatas wajah yang baik. Jika yang kamu lihat adalah wajah yang buruk, maka anggaplah itu tetap buruk, karena dua keburukan telah kamu kumpulkan (wajah buruk + dosa)”
Aku membaca kalimat diatas dengan perasaan geli, mangkel, jengkel, dan… tak bisa melawan kebenaran dalam kalimat itu:)).
Warga Pondok Indah menjijikkan!!! November 13, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud, Transport.5 comments
Judul diatas untuk warga Pondok Indah yang mencoba menghalangi pembangunan jalur busway!
Sama menjijikkannya adalah para lawyer yang mau bekerja untuk mereka!
Nggak perlu disebutkan lagi kenapa menjijikkan kan?
Solusi Transportasi Jakarta November 7, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud, Transport.5 comments
Iseng disela-sela kesibukan kerja ah… (refreshing:D)
Aku pengen nulis ini gara-gara dalam beberapa hari ini orang pada ngomongin macetnya jakarta (aku mah dah sebel sejak dulu-dulu:-(). Ditambah dengan tulisan di kompas yang mengatakan kerugian akibat transportasi sekitar Rp 43 trilyun/th (Aku agak gak percaya dengan analisanya. Tapi aku itung ulang informasinya, dengan sedikit koreksi, dapetnya ya sekitar 30 trilyun. Tetep gedhe!).
Ada beberapa hal yang terlintas dipikiranku :
Pertama, analisa transportasi itu tidak semata-mata bicara fasilitas ataupun teknologi!
Basis pertama analisa transportasi adalah demand (alias prediksi berapa besar permintaan untuk kebutuhan transportasi). Ketika melihat Jakarta yang macet, jangan langsung berpikir ini harus disediakan X, Y, Z, dll. Tapi harus dianalisa kenapa itu bisa terjadi. Lets say, kita udah bangun subway, monorail, busway, dll, ternyata hasil akhirnya adalah : semua transportasi massal tersebut penuh dan jakarta tetap macet, dan orang masih mengeluh tentang transportasi!
(Note: Ini hal yang mungkin terjadi lho!)
Dosenku, Pak Agus Salim, guru besar di S2 Transportasi ITB, pernah berkata “Jl. Gatot Subroto itu dari dulu sampai sekarang tingkat kepadatannya ya itu-itu juga. Bedanya, dulu cuman 2 jalur, sekarang sudah sekian banyak jalur + jalan tol. Menambah kapasitas transportasi tidak akan memecahkan masalah, hanya memecahkan sesaat. Karena orang akan langsung mengisi kapasitas tersebut“.
Jadi kalau mau menyelesaikan masalah transportasi di Jakarta, jangan lupa analisa demand!
Kedua, apa alternatif solusi transportasi Jakarta?
Ada beberapa pilihan.
Pilihan pertama, sesuai dengan hukum demand transportasi. Kalau mau mengatasi kemacetan Jakarta, buat pertumbuhan negatif di kota Jakarta! Pertumbuhan negatif di jakarta tidak berarti pertumbuhan negatif nasional! Tetapi yang terjadi adalah PEMERATAAN EKONOMI! Karena bisnis yang dilarang tumbuh di Jakarta, akan tumbuh di daerah lain (Bekasi, Tangerang, Serang, Purwakarta, dll).
Bagaimana teknik melakukan pertumbuhan negatif? Gampang! Tinggal bikin aturan, tidak ada pembukaan perusahaan baru! Naikkan PBB untuk perkantoran dan gedung (terserah, mau semuanya atau untuk yang baru saja). Inilah perangkat yang dikuasai pemerintah untuk melakukan pertumbuhan negatif.
Tetapi harap dicatat, peraturan ketat di Jakarta ini hendaknya diikuti dengan peraturan mudah di daerah lain yang akan menampung limpahan opportunity dari Jakarta. Juga disediakan infrastruktur bisnis sehingga opportunity tadi tetap bisa jalan, meski tidak di Jakarta. Peraturan yang hanya dijalankan setengah, akan mengakibatkan permasalahan besar!
Pilihan kedua, langsung tembak pada transportasinya. Masalah di Jakarta adalah ekstrim, jadi solusinya pun harus ekstrim. Alternatif aturan yang bisa dikeluarkan adalah :
- Kendaraan pribadi dilarang beroperasi selama hari kerja. Hanya kendaraan umum, kendaraan dengan label perusahaan (misal, ada tulisan Garda Oto, Telkomsel, dll) yang boleh berjalan. Kendaraan milik perusahaan tanpa label, hanya boleh berjalan dengan adanya stiker khusus. Stiker khusus ini diperoleh dengan mengurus (gratis!) dengan memperlihatkan bukti-bukti perusahaan, dan dijatah 1 perusahaan maksimal 1 mobil (bisa juga dibuat aturan perbandingan jumlah mobil dan karyawan). atau,
- Aturan 3 in 1 diterapkan di seluruh jakarta (bukan hanya di Jalan protokol), dan berlaku dari jam 06:00 hingga 22:00. Kalau perlu ditingkatkan menjadi 4 in 1.
Note: ketika aturan diatas ditegakkan, harus diyakinkan bahwa transportasi umum juga siap untuk melayani masyarakat (dengan kenyamanan dan biaya yang sama dengan yang ditanggung oleh masyarakat jika menggunakan kendaraan pribadi)! Dengan aturan ini, maka masyarakat mendapat kenyamanan, angkutan umum akan tumbuh. Win-win solution!
Solusi ini sebenarnya sederhana. Hanya saja, berbagai konflik kepentingan bisa menghambat aturan ini. Bayangkan.. apakah penjual mobil tidak akan menjerit (penjualan kendaraan mereka akan drop)? Apakah para pencuri mobil tidak akan menjerit? Apakah para elit borjuis tidak akan menjerit (mereka nggak bisa berpamer kekayaan dengan mudah:p)?
Kalau untuk masyarakat umum, pekerjaan sulit adalah sosialisasi. Karena masyarakat umum cenderungnya egois, hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri. Contoh kasus egoisme masyarakat, dalam kasus busway, dimana masih banyak penentangan. Para penentang ini (yang punya mobil pribadi dan nyaman) tidak pernah berpikir, bagaimana seandainya ada orang hamil yang nggak mampu, harus perjalanan dari blok M ke Kota, tanpa ada busway? Apakah mereka akan menyuruh orang itu naik di bus umum berdesak-desakan, tidak nyaman, panas dan lama? Itulah masyarakat yang egois!
Dalam hal planning sudah bagus, dan analisa oleh para ahli juga mengatakan itu solusi terbaik (note: dua syarat ini tidak boleh diabaikan), then langsung aja jalankan kebijakan itu.
Sosialisasi tetap perlu, karena masyarakat juga manusia. Tapi ketika penentangan-penentangan yang ada adalah berbasis egoisme, maka pemerintah harus jalan terus! Seperti yang dilakukan Sutiyoso dengan busway ketika orang banyak menentang. Toh setelah berjalan dengan lancar, masyarakat akhirnya akan mengerti. Apapun, keputusan pemerintah sebaiknya dengan memperhatikan kepentingan masyarakat banyak dan kurang mampu. Bukan segelintir elit yang mampu untuk berbuat berbagai hal.
Buat pembaca yang ada jalur ke Foke, boleh deh usulan ini disampaikan:-)
Learning from Germany (1) November 5, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.add a comment
Ini adalah tulisanku yang lama. Cuman aku emailkan ke beberapa temen aja. Sekarang aku publish aja ke blog. Semoga bermanfaat
Seri tulisan :
Learning from Germany (1), Learning from Germany (2), Learning from Germany (3)
—————————————————
—————————————————
Ini adalah catatan selama perjalanan ke Jerman. Terhitung sampai disini tanggal 3 Maret jam 13:00 dan pulang tanggal 14 Maret 2005 jam 14:00.
Dari pengamatan disini, yang dipelajari adalah :
- IT
- Peluang membangun bisnis di / dengan Jerman
- Peluang untuk bekerja selama sekolah
- Peluang sekolah
- Aspek perbandingan untuk perbaikan Indonesia sebagai bangsa
-
- Analisa Budaya
- Analisa Lingkungan umum
- Analisa Ekonomi
- Analisa Transportasi
Dari berbagai aspek diatas, ternyata aku lebih banyak melihat point nomor lima. Barangkali akunya kali emang orang sosial ya?
A. IT
Di Jerman IT benar-benar dipergunakan di hampir semua lini. Jadi IT bukan sekedar data processing, tetapi sebagai pengatur system. Aspek yang paling terlihat jelas dan aku rasakan adalah di sektor transportasi. Mulai dari penerapan GIS untuk menemukan alamat rumah dan mencari rute perjalanan, hingga untuk pengelolaan tiket kereta api. Tiket kereta api ada yang bisa dibeli di Internet, di lokasi dengan petugas, di atas kereta api, atau menggunakan mesin tiket. Di mesin tiket kita juga bisa mengaturkan perjalanan kita untuk mencari koneksi kereta ke tujuan kita.
Key point dalam penerapan IT di jerman adalah :
1. Predicted environment
Secara umum di Jerman hampir sebagian besar bisa diprediksikan. Dalam transportasi baik kereta api maupun bus, ada jadwalnya dan hampir selalu on time. Pada kereta api kehandalan ini bisa dicapai dengan menghilangkan hal-hal yang memberi kemungkinan tak terduga (misalnya maintenance yang ketat untuk menjamin semua ok). Pada bus, kondisi jalan raya di Jerman hampir sebagian besar sepi, sehingga perjalanan dapat diprediksikan. Kemungkinan meleset kecil. Seandainya ada gangguan di jalan, sopir masih cukup waktu untuk mengejar keterlambatan. Kecepatan kendaraan di jalan cukup rendah, rata-rata 50 km/jam. Jarak antar lokasi juga cukup berdekatan.
Bisa dibilang, predicted environment ini adalah hasil interaksi dari :
- Upaya perencanaan / penataan yang benar sehingga banyak hal menjadi sederhana dan mudah.
- Jumlah penduduk yang sedikit
- Kedisiplinan dan kejujuran orang
- Infrastruktur yang bagus
2. Keinginan / willingness
Karena sebagian besar orang bekerja dengan benar, maka keinginan untuk pekerjaan dipermudah dengan IT cukup besar.Keinginan implementasi IT ini baik untuk di pekerjaan publik ataupun di pabrik. Di pabrik otomasi diterapkan dalam skala luar biasa, hal ini bisa terlihat dari lab di Uni Erlangen, dimana terlihat mesin-mesin yang di gunakan di lab tersebut dan dari proyek-proyek Industri yang dimintakan Universitas untuk merancangnya. Penelitian di universitas benar-benar diterapkan kemudian di industri.
3. Industry Support
IT cukup berkembang karena dii-drive oleh industri yang ada. Perhatikan, bahwa indusri di Jerman adalah industri yang tumbuh untuk pasar masa depan (mobil, telecommunication, etc). Mereka melakukan research / pengembangan produk saat ini untuk pertempuran bisnis dalam beberapa tahun di depan. Akibatnya perkembangan IT, sebagai salah satu teknologi masa depan sangat berkembang.
Sebagai contoh sederhana, perhatikan handphone. Lihat ada feature apa saja di situ, kemudian bayangkan bagaimana proses pengembangan satu demi satu featurenya. Pengembangan satu unit handphone bisa melibatkan banyak unit research.
Learning from Germany (2) November 5, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.add a comment
Seri tulisan :
Learning from Germany (1), Learning from Germany (2), Learning from Germany (3)
B. Peluang Bisnis
Membangun bisnis (secara khusus bisnis IT) di Jerman ataupun outsourcing dari Jerman ke Indo tidaklah mudah. Beberapa faktor yang menjadi pertimbangan dalam outsourcing adalah sebagai berikut :
- Capability Trust
Ini masalah yang basic. Budaya orang Jerman adalah tidak mau coba-coba. Mereka lebih baik mahal tapi pasti daripada coba-coba dan beresiko. Artinya, kita harus bisa membuktikan bahwa kemampuan kita bisa diandalkan.
- Security
Security ini sangat penting karena karakteristik bisnis di Jerman adalah bisnis masa depan. Perhatikan karakteristik industri otomotif, telekomunikasi, dll. Pekerjaan yang dilakukan sekarang adalah untuk pertempuran di pasar dalam beberapa tahu ke depan. Maka mereka sangat konsentrasi agar apa yang mereka lakukan tidak bisa ditebak oleh kompetitor mereka. Security ini harus diperhatikan baik dalam hal hubungan antar perusahaan maupun dalam hubungan antara perusahaan dengan karyawannya.
Dengan batasan diatas, maka jika ingin menjalankan bisnis outsourcing adalah :
- Membangun bisnis outsourcing dengan basis di Jerman terlebih dahulu. Setelah jalan beberapa tahun, mungkin 3-5 tahunan, baru bisa dipindahkan ke Indo.
- Mengajak perusahaan Jerman membangun outsourcing di Indonesia, dan kita yang manage.
Kemudian untuk membuka perusahaan di Jerman, yang harus diperhatikan adalah :
- Perpajakan. Jerman pajaknya tinggi, baik pajak perusahaan ataupun pajak gaji karyawan.
- Jerman negara yang teratur, termasuk penataan wilayahnya ketat. Sehingga jika ingin membuka perusahaan akan dievaluasi lokasinya terkait lokasi tenaga kerja dan lokasi pasar.
- Business plan akan dievaluasi untuk Pemerintah Jerman memberikan ijin.
Dari kedatangan ke Cebit di Hannover, tidak terlihat prospektif juga bagi usaha kecil. Tidak terlihat banyak buyer yang datang ke sana. Berbeda untuk bisnis besar. Sebagian besar peserta Cebit adalah pihak yang jualan.
Next time jika ingin ke Cebit, bisa dilakukan jika kita ingin mencari partner untuk dijual, bukan partner untuk menjualkan produk kita. Jika kita akan ke Cebit juga, harus memiliki key point yang bisa membedakan kita dengan negara-negara lain semacam Iran, India, Filipina, dan negara-negara Eropa Timur yang juga menawarkan tarif rendah. Strategi lain untuk ke Cebit adalah, untuk menemui orang-orang Indo dari perusahaan besar yang ingin belanja di Cebit. Kita dekati mereka agar pembelian tidak dilakukan ke asing tapi ke kita
.
Kemudian ada rencana untuk bertemu dengan Pak Herman, orang Indo yang memiliki perusahaan Consultant di Muenchen. Tapi kebetulan waktunya nggak match sehingga tidak bertemu. Pak Herman ini mempunyai karyawan sekitar 10-an orang. Itulah informasi terkait bisnis yang didapat dari pengamatan dan percakapan dengan beberapa orang.
C. Peluang Kerja
Dari pembicaraan dengan beberapa orang student disini, peluang kerja sambil kuliah itu mungkin, tetapi itu di tahun ke dua. Tahun pertama dibutuhkan untuk kuliah yang full, belajar bahasa, adaptasi dan menjalin network. Pada tahun ke dua baru bisa mencari pekerjaan. Tapi ini sifatnya juga untung-untungan, artinya tergantung kepandaian / flexibilitas kita dalam mencari kerja.
D. Peluang Sekolah
Dari pembicaraan dengan Pak Agus (www.agussutanto.com) terbetik ide, ada baiknya sekolah dimana aku bisa sambil membuat software yang kemudian bisa dijual oleh Dot System. Anggap saja kerja dapat titel, sekaligus belajar bahasa. Iseng-iseng berhadiah
.Sejauh ini sih, pilihan pertama sepertinya tetap di Freiburg, Master of Econimic and Politic.
Bagaimanapun pilihan terbaik adalah sekolah yang kita senang.
(note : udah 3 tahun berlalu, dan aku masih belum sempat juga kuliah:(. Masih sibuk dengan urusan kerjaan:(()
Learning from Germany (3) November 5, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.add a comment
Seri tulisan :
Learning from Germany (1), Learning from Germany (2), Learning from Germany (3)
E. Perbandingan Indonesia – Jerman
§ BUDAYA
Budaya diperkirakan merupakan akar dari semua perbedaan antara Indonesia dan Jerman. Beberapa hal yang diamati dari budaya ini adalah :
1. Minat baca
Mayoritas orang di kereta api membaca. Bahkan ada anak remaja dengan gaya punk, tapi di kereta dia membuka buku novel. Di kereta ICE dari Hannover ke Munchen, bahkan dalam satu deretan (8 orang) hanya saya sendiri yang tidak baca
. Lainnya, semua membaca atau bahkan mengerjakan tulisan.
2. Orientasi
Di Indo kita menjumpai orang :
- Berorientasi pada materi.
- Berorientasi pada kebanggaan / pujian dari orang lain
Mungkin tidak bisa menyalahkan orientasi itu, karena itu adalah salah satu sifat dasar yang ada di tiap manusia. Masih agak mending sebenarnya jika orientasi itu hanya diterapkan didalam diri dan berusaha dengan benar. Hanya saja, orang Indo:
- Menilai orang lain dengan orientasi itu, sehingga orang yang tidak bermental kuat mesti menyesuaikan dengan pandangan sekitarnya.
- Mudah mengambil jalan pintas, sehingga konsentrasi langsung pada materi. Akibatnya dalam bekerja pun asal saja, karena orientasi hanya pada materi.
Sebagai perbandingan di Jerman, situasinya adalah :
- Secara umum, dari pengamatan atas perilaku atau pembicaraan orang-orang (meski tidak tahu bahasanya, kita bisa menilai apa topik percakapan orang dari ekspresi wajah dan intonasi pengucapan) tidak ditemukan arah pembicaraan yang bersifat materialistis. Seandainyapun ada, kemungkinannya sedikit.
- Di Jerman orang berorientasi untuk doing things right. Apakah itu suatu sifat dasar atau karena mereka sudah pada level tidak khawatir tentang kecukupan materi ? Diperkirakan itu suatu sifat dasar / sifat yang dipupuk sejak kecil. Sebab dari sisi materipun, mereka juga tidak bermewah. Mayoritas adalah masyarakat menengah dengan gaya hidup yang normal. Banyak menggunakan bus dan kereta api, bahkan sepeda. Mobil banyak, tapi berhenti di parkir, jalanan sepi. Hanya saja hampir semua yang dipakai mereka adalah barang bermutu (mulai dari baju hingga berbagai peralatannya). Namun masalah mutu ini lebih karena tuntutan teknis, bukan tuntutan kemewahan. Mereka hanya butuh nyaman, bukan berfoya-foya.
- Meski mungkin semangat sebagai bangsa Jerman mereka tinggi, tetapi dari sisi individual, tidak terlihat upaya untuk mencari pujian dari orang. Hal ini mungkin karena masyarakat yang individualis juga, sehingga mereka tahu orang lain juga nggak bakalan merhatikan dan memuji mereka
.
Salah satu hal yang patut dicatat adalah, meski orang Jerman dikenal sebagai orang yang keras / disiplin, namun dengan orientasi doing things right, mereka justru bisa bersikap fleksibel. Hal ini saya alami ketika salah tiket KA. Seharusnya saya didenda 220 Euro karena saya salah. Namun barangkali karena melihat saya tidak berniat curang, dan saya orang asing, tidak bertele-tele, kondektur malah tidak mendenda. Dia hanya memberi peringatan agar saya tidak mengulangi kesalahan lagi. Suatu sikap yang termasuk sulit dicari dari kondektur KA di Indo.
3. Jujur
Penggunaan transportasi dan pembelian koran dapat dilihat sebagai tolok ukut kejujuran orang di Jerman. Pembelian koran hanya dengan mengisi kotak uang yang disediakan kemudian mengambil koran. Artinya, tanpa mengisi uang pun sebenarnya kita juga bisa mengambil koran. Tapi ternyata itu tidak terjadi (atau kalaupun ada, sedikit jumlahnya).
Kemudian naik angkutan dalam kota, juga tanpa ada pemeriksaan tiket rutin, hanya ada random. Random itupun sangat jarang. Selama 10 hari di Jerman, meski banyak jalan, tidak sekalipun bertemu kondektur transportasi lokal yang memeriksa. Meski begitu, pembelian tiket di mesin ataupun orang yang membayar di bis kota ternyata cukup banyak juga. Dari informasi yang didapatpun, bahwa setiap ada random memang hanya sedikit (jarang sekali) yang tertangkap tanpa tiket.
4. Mau berusaha
Secara umum bisa dikatakan orang Jerman ringan tangan untuk berusaha. Dan dalam menolong orang pun mereka ringan tangan. Hal ini terlihat ketika ada orang sendirian mendorong mobil keluar dari salju, orang yang berjalan langsung mengjampiri dan membantu.
Kemudian orang untuk bepergian menggunakan kereta dan bis yang sudah jelas tempat perhentiannya, bukan di sembarang tempat. Untuk mencapai lokasi persis yang dituju maka mereka mesti berjalan. Namun hal itu tidak menjadikan masalah. Pemandangan yang biasa.
Mobil yang terlihat banyak diparkir, sementara di jalanan secara umum cukup lenggang. Di kota Munchen yang kategori kota besar, di pusat kota di perempatan jalan, jika kita berdiri mungkin hanya ada mobil yang lewat kurang dari 30 mobil per menit (ini sudah dari empat arah ya). Penggunaan sepeda cukup banyak dilakukan. Bahkan dimusim panas, diinformasikan cukup banyak orang dengan baju jas mengenakan sepeda menuju ke stasiun.
§ LINGKUNGAN UMUM
Berbicara lingkungan ada beberapa hal yang patut diperhatikan :
1. Kependudukan
Penduduk secara umum jumlahnya sedikit / kepadatan rendah. Kota Munchen yang disebut kota besar berpenduduk hanya sekitar 1 juta orang. Dengan orang yang sedikit maka pengaturan secara umum lebih mudah.
Sebaran penduduk juga cukup merata. Artinya hingga di kota-kota kecil terlihat keramaian orangnya tidak berbeda mencolok. Hal ini merupakan efek dari penataan ruang yang bagus (penataan dengan memperhatikan aspek ekonomi, sebaran/ pergerakan penduduk, dll)
2. Penataan lahan
Penataan lahan sepertinya sangat terkonsep, dengan memperhatikan pemukiman, transportasi, pertanian, industri, etc. Semua ditata dengan benar sehingga semua bisa berjalan saling mendukung dan tidak terjadi kekacauan. Hampir di semua hal Jerman menampakkan keteraturan dan kesederhanaan, tidak terlihat ada kerumitan yang bisa membuat orang berkerut kening dan kemudian melakukan kesalahan.
3. Infrastruktur
Infrastruktur yang diperhatikan adalah transportasi, telekomunikasi, aliran energi (listrik dan gas). Dari sisi transportasi, kereta api merupakan infrastruktur yang menakjubkan. Kereta sudah diatur untuk transportasi lokal dan antar kota. Kemudian di satu stasiun bisa terdiri dari 2 hingga 3 lantai kereta api. Sayangnya kemarin tidak bisa melihat peta relnya.
§ EKONOMI
Disini saya lebih terpikir tentang aspek ekonomi secara makro. Beberapa hal yang menjadi catatan adalah sebagai berikut :
1. Struktur Industri
Keterkaitan industri terlihat sangat kuat. Industri otomotif maupun industri – industri kelas dunia lainnya, memiliki kerjasama sangat kuat dengan industri-industri kecil di sekitarnya. Dan berbagai proyek penelitian juga diberikan ke universitas.
2. Penggunaan instrumen ekonomi
Instrumen ini mungkin bukan hanya kebijakan fiskal. Tapi berbagai kebijakan yang bertujuan untuk ekonomi secara keseluruhan, termasuk diantaranya aturan-aturan perdagangan. Berbagai macam instrumen ini bisa diterapkan dan hasilnya secara umum bisa dievaluasi / diprediksikan karena adanya dua hal :
- Sistem pencatatan yang bagus.
- Tingkat kejujuran yang tinggi.
Kemudian, kebijakan disana bisa terlihat implementasinya hingga paling dasar. Contoh sederhana, dalam hal pengelolaan pariwisata, semua sektor sepertinya saling mendukung. Dengan kondisi demikian, bisa dikatakan bahwa asumsi-asumsi yang digunakan para ekonom mempunyai landasan yang cukup dipercaya.Melihat hal ini, sebenarnya jadi agak tanda tanya juga ke para ekonom yang suka bermain makro, apakah mereka telah memperhatikan hal ini? Apakah para ekonom itu telah memperhatikan asumsi-asumsinya? (Bisa lihat tulisanku disini juga ; http://dotindo.blogs.friendster.com/tara/2006/05/catatan_makroek.html)
3. Economic Advantage
Jerman secara umum mengandalkan ekonominya pada bidang berikut :
- Bisnis teknologi tinggi
Bidang ini memang telah dimiliki oleh Jerman, baik industri telekomunikasi, otomotif, farmasi, bioteknologi, dll. Bidang ini layak menjadi unggulan karena melibatkan sangat banyak piha di Jerman, dengan dukungan perusahaan-perusahaan kecil menengah yang banyak dan SDM yang berkompeten di bidangnya.
- Pariwisata
Bisnis pariwisata ini, diperkirakan cukup tinggi nilainya. Keunggulan yang dimiliki Jerman adalah obyek wisata dari Eropa kuno, museum dan exhibition ataupun event-event khusus. Kota Hannover malah mengandalkan bisnis exhibition sebagai penggerak ekonomi di kota tersebut. Dan hal ini (ekonomi berbasis pariwisata) terlihat ditata dengan benar.
Dua hal itu adalah yang mudah dilihat. Saya belum melihat data-data ekonominya, mungkin bisa jadi hasilnya berubah.
§ TRANSPORTASI
Ini.. ntar aja deh:D
Lama soalnya nulisnya:p. Juga, sepertinya topik ini cukup untuk konsumsi pribadiku aja, karena nggak semua orang interest pada transportasi.
F. Resume
Semua pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan sepintas, sehingga sangat tidak tepat kalau kemudian menarik kesimpulan berat dari semua itu.Namun dari semua itu, saya coba menarik point-point pembelajaran sebagai berikut (artinya, harus terus dikembangkan) :
1. Idealisme dan kerja keras harus terus dijalankan
Bangsa Jerman tidak bisalah mencapai semua itu tanpa kerja keras dan idealisme. Tidak bisa hanya melihat apa yang ada sekarang tanpa memperhitungkan masa lalunya. Seandainya ada potret proses kerja keras orang Jerman pada tahun 50-60an, maka itu akan menarik untuk menjadi pembelajaran.
Idealisme harus dipegang oleh tiap orang di tiap bidang apapun. Idealisme untuk bekerja dengan hasil sebaik mungkin. Mulai dari tukang sapu, pelaku bisnis hingga pejabat publik. Idealisme ini harus mengalahkan materialisme.
Dengan semangat ini, Insyaallah perusahaan saya, Dot System, akan terus dikembangkan dengan idealisme dan profesionalisme. Selama jalan dilalui dengan benar, meski mungkin dirasa lambat, tapi hasil akhir akan memuaskan. Perusahaan-perusahaan besar di Jerman bukanlah perusahaan yang berumur 5-10 tahun. Mereka semua tumbuh dengan membangun kompetensi dan pasar.
Indonesia dengan ribuan perusahaan manufakturnya, jelas lah perlu perusahaan software seperti Dot System. Kelak waktu akan membuktikan apakah kepercayaanku ini salah atau tidak.
2. Indonesia sebagai bangsa harus berubah
Bangsa Indonesia jelas perlu berubah. Dan perubahan itu mesti pada level budaya. Perubahan pada level kulit tidak akan berarti.
Perubahan pada level budaya ini juga harus memperhatikan kondisi / nilai-nilai yang berlaku di bangsa ini. Tidak bisa perubahan dengan menghantam semuanya. Bagaimanapun, ada yang namanya perbedaan. Ini adalah hukum alam yang tidak bisa dilawan.
Hanya saja pertanyaannya, perubahan bagaimana yang bisa dilakukan di Indonesia?
Saya sendiri belum punya jawabannya. Hanya saja secara individu itu mungkin lebih mudah diterapkan, yaitu :
- Perubahan pandangan materialisme ke arah idealisme
- Melakukan pendidikan pada anak dengan menekankan :
- Kejujuran
- Kemandirian
- Kecerdasan
Kesimpulan untuk saat ini adalah, biarlah sementara banyak orang mencari strategi perubahan budaya, mari kita bersiap dengan melakukan perubahan pada diri sendiri. Pada saatnya kita akan menjadi awal yang akan bekerja benar-benar untuk generasi anak dan cucu kita.
3. Indonesia harus segera menentukan strategi ekonomi
Jika ekonomi indonesia ingin maju, maka harus segera ditentukan strategi ekonomi yang tepat. Kita sudah melihat Jerman sebagai negara industri teknologi tinggi, negara wisata. Thailand sebagai negara Agroindustri, Jepang dengan Teknologi, Swiss dengan perbankan. Maka pertanyaannya adalah, bagaimana Indonesia?
Sungguh tidak tepat jika kita memaksakan industri-industri besar semacam telekomunikasi, perminyakan, etc untuk menjadi lokomotif perekonomian tanpa memperhatikan kompetensi yang ada di dalam. Strategi ekonomi yang tepat hendaknya memperhatikan potensi pasar, resource, dan budaya yang ada. Hingga saat ini ekonomi di Indonesia masih sebatas jargon-jargon politik tanpa ada kejelasan dari konsep hingga teknis.
Cukup menyenangkan ketika melihat strategi ekonomi Jerman yang terpadu, mulai dari struktur industri, budaya, penataan ruangan, hingga sampai level operasional sehari-hari. Melihat itu semua bisa secara tegas kita melihat struktur ekonomi yang dibangunnya.
Semoga suatu saat Indonesia memiliki blue print ekonomi yang tepat.
Segitu dulu aja tulisanku, karena ini juga tulisan ringan. Meski ringan, insyaallah semua kata sudah dipikirkan cukup dalam, sehingga bisa lah menjadi pembelajaran buat semuanya.
Sekarang.. cukup refreshing-nya, back to work
Jakarta, 16 Maret 2005
Tulisan Gus Mus November 3, 2007
Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.add a comment
Gus Mus, adalah salah satu ulama yang aku suka. Tulisan-tulisannya menyentuh hati. Sama lah dengan Buya Hamka, hanya saja bedanya Buya Hamka mungkin lebih indah (kali karena Buya Hamka orang Melayu?).
BTW, kemarin aku baca tulisan Gus Mus. Isinya memperkuat pandanganku pada tulisan sebelumnya (learning from germany). Hanya berbeda sudut pandang aja. Beliau ulama, aku.. orang jalanan:D
Analisa System November 2, 2007
Posted by Tara in Education, Pengetahuan Umum.4 comments
Betapa susahnya mencari orang yang memiliki analisa tajam. Udah berkali-kali aku nyebar lowongan kerja, mencari Konsultan untuk Dot System, dan yang masuk kualitasnya belum bisa memenuhi harapanku. Akhirnya, terpaksalah aku membuat buku panduan sendiri.
Alhamdulillah bagian awal sudah dimulai. Bab pertama tentang system. Analisa System ini merupakan ilmu yang amat sangat berguna. Kalau boleh aku bilang, inilah dasarnya ilmu TI. Aku mendapatkannya pada waktu kuliah Pengantar Teknik Industri, di tingkat 1, diajarkan oleh Pak Senator hanya dalam sekian menit. Tetapi ilmu itu begitu membekas, dan kulatih terus sejak saat itu hingga saat ini. Alhamdulillah manfaatnya banyak. Setiap menghadapi sesuatu, analisaku cepat berjalan. Jadinya bisa memahami hal baru dengan cepat.
Buat yang tertarik mempelajari Analisa System, silahkan download versi pdf atau zip di link tersebut. Buat rekan-rekan yang jadi dosen TI, please ajarin siswa kalian ilmu dasar ini. Nggak lucu ada anak TI yang nggak ngerti kayak gini (meski kenyataannya aku ketemu banyak lulusan baru TI ITB yang nggak tahu juga ilmu ini). Kalau ada masukan, please contact me, untuk aku lakukan perbaikan. Semoga aja bermanfaat.
(reposting dari blog di FS)
Masa November 2, 2007
Posted by Tara in Religy.add a comment
Demi masa..
Sesungguhnya manusia itu merugi,
Kecuali orang-orang yang beriman, dan beramal sholeh, dan saling mengingatkan tentang kebenaran, dan saling mengingatkan tentang kesabaran.
(Al Qur’an, Surat Al-Ashr)
Ada dua point yang aku lihat dalam surat tersebut. Pertama tentang masa. Kedua tentang bagaimana supaya tidak rugi menghadapi masa.
Aku tertarik tentang masa (waktu). Aku merasakan betapa takdir kita berjalan diatas masa. Tuhan mengendalikan takdir kita dengan menghadirkan kejadian satu demi satu dalam masa kita masing-masing. Betapa sering kita merasa “kok waktunya nggak pas sih?”. Itulah kekuasaan Tuhan. Tuhan sengaja memberikan “waktu yang tidak pas” untuk kita. Artinya, memang itu bukan takdir kita. Meski sering juga kita merasakan “kok pas waktunya!”. Artinya, yang “pas waktunya” itulah takdir kita.
Cukup banyak aku mengalami kebetulan-kebetulan yang dalam probabilitas sangat-sangat kecil. Namun probabilitas yang sangat kecil itu terjadi! Hanya kebesaran Tuhan lah yang membuat itu semua terjadi.
Aku sedang banyak merenung. Entah sebenarnya merenungi masa, takdir, atau Tuhan, aku nggak tahu. Yang jelas aku merasa takjub. Terkadang merasa sayang (tapi aku mencoba mematikan perasaan ini, karena ini seperti menggugat kebesaran Tuhan), terkadang aku merasa sangat bersyukur (bagaimanapun, masih jauh lebih banyak kebaikan yang aku terima daripada kesulitan/ cobaan/ hukuman yang aku terima).
Aku sekarang mengembangkan semua indra yang ada di didiriku. Mencoba menangkap pesan-pesan Tuhan yang disampaikan padaku. Pesan yang disampaikan melalui berbagai kejadian yang ada padaku. Berharap aku tidak melakukan kesalahan membaca pesan. Berharap tidak tertinggal masa.
Bismillah, jalani aja semuanya. Semua sudah ketentuan-Nya
(reposting dari blog di FS)
Salam pembuka :) November 2, 2007
Posted by Tara in Ragam.Tags: Ragam
1 comment so far
Akhirnya aku memulai juga di wordpress, mengikuti saran Budi.
Belum tahu apa yang akan aku lakukan. Mungkin melanjutkan blog terdahulu di FS.
Nggak tahu nih, sore ini hatiku sedang biru.
Rasanya hatiku sedang mengambil alih pikiranku.
Duh…
Inilah diriku.
Di satu saat aku begitu rasionalnya,
di saat lain hati lebih berkuasa daripada otak.
Cukup disini dulu lah.
Aku coba mendesign blog ini. Maklumlah, gaptek dan nggak ngerti design, jadi butuh waktu mempelajari semua feature.
Bandung, sore hari di BIP