jump to navigation

Jangan ada provokasi! July 4, 2009

Posted by Tara in Ragam.
8 comments

Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan atas komentar berbagai tokoh masyarakat ataupun tokoh partai, justru saat waktu pilpres sudah dekat.
Seandainya terjadi kerusuhan sosial pasca pemilu, dengan sungguh hati saya akan mengutuk Din Syamsudin (ketua Muhammadiyah), tim Mega-Prabowo dan tim JK-Wiranto yang mengeluarkan ancaman menjelang hari-hari Pilpres.
Tentang ancaman ini, silahkan baca Kompas tanggal 4 Juli.

Tentang DPT. Kenapa mereka mengancam-ancam untuk pemilu mundur beberapa saat menjelang pilpres? Kenapa meerka tidak preventif jauh hari sebelumnya? Seharusnya tim mereka tidak sedemikian idiot-nya sehingga masalah DPT baru muncul menjelang pilpres! Kalau mau meributkan DPT, sejak awal-awal, apalagi setelah Pilleg, itu sudah bisa ketahuan! Kalau sikap mereka tidak peduli terhadap KPU, seharusnya menerima dong apapun hasil KPU. Kemana aja mereka selama ini??
Bicara tentang DPT bermasalah, memangnya bisa didapat DPT 100% betul? Kenapa tidak berbicara berapa % error yang ditoleransi? Kenapa angka itu tidak dimunculkan dalam UU ataupun dalam berbagai dengar pendapat antara KPU dan DPR? Bukankah Golkar (partai pendukung JK-Wiranto) dan PDIP (partai pendukung Mega-Prabowo) ada di DPR? Apa saja kerja mereka selama ini? Tidur??? Kenapa setelah anggota partainya tidur, sekarang tiba-tiba mau memancing kerusuhan??

Tentang Pemilu 1 putaran. Ini juga blunder yang sebenarnya akibat tingkah tokoh-tokoh politisi. Sudah jelas-jelas sejak hasil Pilleg ketahuan kalau posisi SBY potensi menangnya tinggi. Kalau mau menang, kenapa tidak semua pihak lain menyatukan kekuatan?? Perhatikan tulisan-tulisan saya tentang ekonomi sebelum ini, betapa saya sudah menyorot masalah aspek ekonomi pemilu! Saya ssangat bisa memahami kejenuhan masyarakat untuk pemilu. Seandainya mereka memahami masyarakat juga, seharusnya mereka menyatukan kekuatan untuk membuat hanya 1 kali pertarungan! Mana hasil sibuk lobby kiri kanan menjelang koalisi itu? Kenapa tidak dihasilkan 1 calon untuk menantang SBY? Kalau memang mereka berpikir demi negara dan rakyat, seharusnya mereka memberikan 1 calon untuk penantang SBY. Entah itu JK-Prabowo, atau mungkin Prabowo-Wiranto, atau entah siapa lah. Dengan begitu, bukankah pemilu hanya akan ada 1 putaran? Dan tidak akan ada kampanye pemilu 1 putaran yang mengarahkan ke calon tertentu, bukan???

Jadi sebenarnya, kasus DPT dan Kampanye pemilu 1 putaran ini tidak bisa dijadikan ajang pembenaran untuk mengancam membuat kekacauan (fisik ataupun dalam bentuk lain) di negeri ini!

Hentikanlah gaya Bush, dengan mengancam-ancam ketentraman masyarakat! Berkampanyelah dengan elegan dan ksatria! Berani menang berani kalah!
Masyarakat saat ini tidak ada waktu untuk mengurusi para petualang politik! Masyarakat butuh ketentraman untuk bisa bekerja!
Demi Allah, seandainya benar terjadi kerusuhan setelah pilpres ini, aku bermohon agar Allah mengutuk para provokator tersebut! Inilah sumpahku! Hati-hati para provokator, doa orang teraniaya dikabulkan oleh Allah! Dan jika terjadi kerusuhan, maka penganiayaan telah kalian lakukan terhadap seluruh masyarakat!
Bagi pembaca tulisan ini, sekiranya kalian ada akses terhadap petinggi-petinggi partai maupun orang semacam Din Syamsudiin (Ketua PP Muhammadiyah), tolong sampaikan tulisanku ini pada mereka. Ini adalah tulisan seorang rakyat yang tidak ingin ada penganiayaan terhadap rakyat!

Republik Pelawak, dengan Komisi Pelawak June 23, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Aku mengelus dada dalam beberapa hari ini.

Sekitar seminggu lalu aku membaca buku pledooi dari Iqbal, mantan Ketua KPPU yang tertangkap tangan saat menerima suap. Satu hal yang menarik aku cermati di pledooi itu, yaitu surat perintah penyadapan terhadap Iqbal dan Billy ternyata 1 bulan sebelum mereka berkenalan. Mereka berkenalan ketika diperkenalkan oleh Tadjudin Noer Said. Kira-kira seperti itulah isinya (maaf, hanya resume aja, lengkapnya silahkan cari buku tersebut). SEANDAINYA (tolong perhatikan kata SEANDAINYA ini dengan baik!) hal itu benar, maka besar kemungkinan ada upaya penjerumusan / penjebakan atas seseorang, dan ini melibatkan KPK! (sebagai pihak yang melakukan penyadapan).

Belum selesai keprihatinanku, beberapa hari kemudian muncul berita: KPK menyadap telephone Nasrudin (korban yang diduga dibunuh atas perintah Antasari, mantan ketua KPK) dan Rhani (perempuan, kisah segitiga Antasari, Nasrudin dan Rhani). Dan perintah penyadapan ini ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK, Chandra Hamzah.

Ketika dilakukan konfirmasi, mulailah berbagai komentar lucu muncul dari para pelaku ini :

1. Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/175856/1152204/10/antasari-tak-perintahkan-sadap-tapi-cek-hp-nasrudin-rhani

“Jadi menurut Pak Antasari tadi kepada penyidik, tidak pernah perintahkan secara lisan maupun tulisan untuk menyadap nomor tersebut. Pak Antasari hanya meminta mengecek dua nomor itu,” kata pengacara Antasari, Maqdir Ismail, usai mendampingi pemeriksaan Antasari di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (22/6/2009).

Bisakah dijelaskan, “meminta mengecek” itu memangnya seperti apa? Apakah petugas KPK disuruh telpon ke nomor itu dan tanya: “anda siapa ya?”. Sebodoh dan seidiot itu kah???

2.  Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/171007/1152134/10/kpk-penyadapan-yang-kami-lakukan-tidak-langgar-kode-etik

Dalam jumpa pers ini, Chandra juga mengungkapkan bahwa KPK memang menyadap sejumlah nomor telepon yang diberikan Antasari Azhar. Nomor-nomor telepon itu yang digunakan pelaku teror terhadap istri Antasari Azhar. Salah satu teror yang diterima istrinya, Antasari diminta tidak melanjutkan pengusutan sebuah kasus korupsi.

Kenapa begitu mudahnya KPK mengatakan bahwa itu teror berbahaya, sehingga harus disadap no hp tersebut? Bukankah Antasari tahu kalau orang tersebut adalah Nasrudin dan Rhani? Kenapa tidak langsung ditangkap saja orang tersebut atas tuduhan teror? Kenapa KPK langsung melakukan penyadapan? Kalau memang karena teror, memangnya KPK boleh menyadap untuk mengungkap teror? Bukankah yang berhak menangani teror adalah Polisi? Kalaupun karena kecurigaan adanya kasus korupsi yang melibatkan Rhani (seorang caddy gitu loh..),  kenapa semudah itu para pimpinan KPK mengijinkan penyadapan? Bukankah kasus Agus Condro yang jelas-jelas di depan mata aja, masih ditunda-tunda penyelesaiannya?

3. Another version : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/142838/1151994/10/kpk-nomor-yang-disadap-bukan-milik-rhani-atau-nasrudin

Komentar sederhana, kalau memang benar itu untuk pemeriksaan penyadapan kasus korupsi, kenapa Antasari pake ngeles-ngeles (lihat point 1 di atas) bahwa tidak dilakukan penyadapan, tetapi ”hanya perintah nge-check” ? Kalau melihat berbagai berita dengan berbagai versi ini, jelas terlihat berbagai pihak saling membuat alasan untuk lepas dari jeratan hukum. Dan lucunya, alasan masing-masing pihak ini tidak sinkron, kontradiktif, sehingga patut DIDUGA KUAT terjadi pelanggaran hukum, melakukan penyadapan untuk kepentingan pribadi.

Inilah republik pelawak, dengan komisi pelawak, meski lawakan yang dihasilkan adalah lawakan satir dan menjijikkan. Betapa alat investasi negara digunakan untuk keperluan pribadi yang menjijikkan. Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh lagi :(

Interaksi antara system dan budaya May 13, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!

Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.

Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!

(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)

Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.

Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!

Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!

Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.

Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!

Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!

Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.

Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat :)

Cukup sudah untuk pemilu!!!! May 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
6 comments

Beberapa waktu yang lalu aku sudah menuliskan tentang biaya pemilu :
http://dotindo.wordpress.com/2009/04/03/sekilas-tentang-ekonomi-pemilu/

Betapa besarnya biaya yang sebenarnya ditanggung bangsa Indonesia ini demi sebuah pemilu. Lha kok sekarang para politisi sepertinya mau mengarahkan pemilu presiden 2 kali? Mau berapa banyak lagi dana yang harus dikeluarkan???

Duh para politisi, coba hitung produktivitas yang terbuang sia-sia untuk kampanye, cetak brosur, iklan, pemilu, penghitungan suara, dll. Dan semua itu kemudian menjadi asap, alias tidak ada sisanya yang bisa dimanfaatkan :( .

Buat para capres yang kaya, daripada uang anda hanya untuk memicu pemilu (yang memancing bangsa ini untuk mengeluarkan uang jauh lebih besar daripada yang anda keluarkan), lebih baik jika uang anda itu diinvestasikan yang positif! Silahkan buka pertanian modern kedelai, pedagang tempe di Indonesia akan diuntungkan, buruh tani diuntungkan, dan devisa bisa dihemat (tidak perlu membiayai impor kedele lagi). Silahkan bangun pasar yang bagus untuk pedagang pasar, aku yakin pedagang akan berterimakasih dan investasi tetap akan menguntungkan. Silahkan investasikan uang anda untuk membeli kapal-kapal, sehingga ikan Indonesia bisa diolah sendiri, tidak dicuri oleh kapal-kapal asing. Masih banyak lagi peluang investasi yang lain (telekomunikasi, perkebunan, transportasi, pertambangan, dll).

Masih banyak sebenarnya agenda-agenda yang harus diperhatikan bangsa ini. Jangan lupakan krisis ekonomi dunia, jangan berpikir bahwa itu tidak akan menyentuh Indonesia! Coba lihat data export-import di Tanjung Priok, mestinya itu sudah membuat kita waspada. Belum lagi kasus flu babi, korupsi, pendidikan, energi, dll. Sangat banyak agenda yang harus diberikan perhatian. Jadi, kenapa kita harus membuang banyak energi sia-sia untuk pemilu??

Seandainya para politisi itu anak-anak kecil yang gampang diketok kepalanya, rasanya aku pengen ngetok kepala mereka satu demi satu deh :( . Sayangnya mereka banyak yang jendral-jendral, jangankan mau diketok, mau mendekat aja udah ditahan pengawalnya :( (.

Pilpres 1 putaran sebenarnya bisa dicapai dengan cara :
1. Hanya ada 2 capres
2. Ubah UU pemilu, sehingga suara terbanyak (mau berapapun capresnya, dan berapapun perolehan suaranya) langsung dijadikan presiden.
3. Para capres mau habis-habisan kampanye sehingga Pilpres 1 putaran tercapai.

Pendaftaran capres kalau nggak salah tgl 16 Mei ya? Aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk menyampaikan ideku ini ke para politisi. Berharap mereka mau “sedikit” berjiwa besar, benar-benar berpikir yang terbaik bagi bangsa, dan mengorbankan ego mereka. Bayanganku seandainya Koalisi Besar itu mau mengajukan hanya 1 calon demi kepentingan bangsa ini, maka mereka potensinya menang cukup besar. Tapi kalau demi egoisme pribadi, kemudian mencoba mengatur strategi agar terjadi pilpres 2 putaran, meski mungkin menang, tapi satu hal yang pasti: minimal akan ada 1 orang (aku sendiri) yang akan mengutuk kelakuan mereka sebagai menyengsarakan bangsa! (note: seandainya ada rekan-rekan yang ikut mengutuk, maka lebih dari satu orang!).

Seandainya teman-teman yang membaca ini ada akses ke Prabowo, Mega, JK, SBY, Wiranto, dll, aku sangat berharap ide ini bisa dimasukkan ke mereka. Please.. beri yang terbaik buat bangsa dengan 1 kali pilpres saja!

Sekilas tentang ekonomi pemilu April 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
4 comments

Ekonomi, pengertian dasarnya adalah: pemilihan resource yang ada, digunakan untuk apa, bagi siapa.
Pada sosialisme, pilihan produksi dan distribusi diatur oleh negara (seperti di Soviet dulu), sedangkan pada kapitalisme, pilihan diserahkan pada pasar (terserah masing-masing pihak mau bikin apa aja, mau dijual ke siapa aja).

Sekarang kita lihat pada pemilu ini. Secara kasat mata terlihat jelas penggunaan resource SDM, material (kain, cat, BBM, dll), mesin (transportasi, mesin cetak, dll) digunakan selama masa kampanye ini. Dan hasilnya? Secara fisik : 0. Bandingkan misalnya resource yang sekian banyak itu misalnya digunakan untuk membuka lahan kedelai, menanam sawit, menambang batubara, dll. Hal ini yang kemarin mengusik pikiranku ketika melihat sekian banyak bendera partai berjejeran di mana-mana. Terbayang betapa semua resource itu akan menguap bersama berlalunya pemilu.

Pertanyaan mengusik akibat kesadaran itu adalah :
1. Berapa persisnya angka yang terbuang itu? Seperti dikatakan Ubed, almost impossible to count it. Paling menghitung secara kasar : misal, caleg DPR rata-rata akan menghabiskan X rupiah, Caleg DPRD I akan menghabiskan Y rupiah, Caleg DPRD II akan menghabiskan Z rupiah, terus dikalikan dengan jumlah caleg yang ada.
Tambahkan pula: iklan2 yang masuk TV, radio, koran, dll.
Tambahkan biaya-biaya kampanye, dengan jumlah massanya.
Aku tidak akan heran kalau angkanya mencapai diatas 10 trilyun rupiah.

2. Apa yang akan didapat dengan itu semua? Seharusnya jawaban idealnya adalah: mendapatkan anggota legislatif yang berkualitas (jujur, pinter, dll). Hanya saja, de facto, akankah itu terjadi? Dengan segala hormat, seandainya didapat 30% saja anggota legislatif berkualitas, aku akan bersyulur banget. Ini tentunya penilaian subyektif, bukan berdasarkan hasil penelitian. Tetapi tentunya itu bukan asal ngomong, tapi karena melihat kecenderungan memang seperti itu. Bukti : apa yang melandasi para caleg itu mau mengeluarkan uang sekian besarnya untuk ikut pemilu? Sebagian kecil mungkin memang ada karena ingin memperjuangkan idealisme mereka. Tapi sebagian besar, aku curiga karena hukum-hukum ekonomi. Artinya, dengan pengeluaran X untuk kampanye, mereka berharap ketika terpilih, itu akan kembali sebesar XXXXX…. (kalau perlu sebanyak2nya X :p).

3. Apakah layak pengorbanan itu? Biaya yang dikeluarkan dibanding dengan yang di dapat? Kalau secara sepintas mungkin komentarnya adalah: mahal banget, sangat tidak layak! Tetapi kalau kita mau bicara hitung-hitungan ekonomi yang bener, maka itu harus dibandingkan dengan alternatif lain sekiranya tidak ada pemilu. Dan untuk itu, ngitungnya agak repot euy. So, akhirnya dianggap aja lah biaya itu meski sangat-sangat mahal, tetapi adalah biaya yang TERPAKSA harus dibayar. Ibarat orang sakit, meski obat sedemikian mahal, ya terpaksa dibayar dan dianggap layak :( .

Dengan semua itu, what’s next?
Bayanganku, hendaknya semua pihak mulai memikirkan bagaimana pemilu yang lebih efisien nantinya. Mungkin dipublikasikan aturan, bahwa kampanye itu 5 tahun. Bentuk kampanye adalah dengan kerja nyata, dan boleh disebutkan itu tabungan untuk pemilu yang akan datang. Kemudian pada saatnya pemilu, ditentukan: tidak ada aktifitas pengumpulan massa; atau jumlah bendera / iklan dibatasi; dll. Intinya agar tidak terjadi pembuangan sumberdaya besar-besaran ke kampanye sesaat yang banyak mengandung kesia-siaan, diubah dengan kampanye jangka panjang yang memberi manfaat bagi masyarakat banyak.

Itulah secuil pikiranku, semoga manfaat. Maaf tulisan tidak disertai angka-angka yang benar.

Sekali lagi: ketidak adilan internasional March 20, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
4 comments

Beberapa waktu lalu, saat desakan untuk berbagai pihak di Israel diajukan ke ICC (International Court Criminal), karena kejahatan perang sewaktu penyerangan Gaza, para ahli hukum (termasuk dari ICC kalau nggak salah. Untuk lebih pasti, silahkan googling deh) mengatakan bahwa Israel tidak bisa diadili karena mereka tidak masuk sebagai anggota ICC.
Yah, meski harus menahan gondok, oke lah..

Yang menarik, barusan aku membaca berita ini :
http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/03/20/05212744/icc.sarat.kepentingan.politik.abaikan.hukum
copy text sebagai berikut :
===
Hal itu dikatakan Ketua Asosiasi Pengacara Sudan Fathi Khalil dan Duta Besar Sudan untuk Indonesia Ibrahim Bushra Mohamed Ali, Kamis (19/3) di Jakarta.

Fathi menegaskan, Sudan bukan anggota Mahkamah Kejahatan Internasional (International Criminal Court/ICC) dan tak terikat keputusan ICC.
====

Inikah standar ganda pengadilan internasional?
Bagaimana mungkin untuk Israel karena tidak termasuk anggota kemudian tidak diadili, sementara Sudan yang juga bukan anggota tetap diadili?
(note: tulisan ini masih tidak membicarakan, apakah pengadilan berjalan fair atau tidak yah.)

Sekiranya sistem keadilan internasional adalah seperti ini, maka semua output dari ICC jadi dipertanyakan, seberapa independen dan fair mereka sebenarnya???

Maulid Nabi dan Libur March 6, 2009

Posted by Tara in Ragam.
3 comments

Senin besok, libur. Judulnya karena perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.

Tadi pas sholat Jum’at, Khatib bertutur cukup bagus. Khatib menyampaikan betapa besar yang telah dilakukan Rasul untuk ummat, dan sebagai rasa terimakasih yang perlu kita lakukan cukup mengikuti ajaran-ajaran beliau. Sami’na waato’na (kami dengar dan kami taat).

Saya sangat-sangat setuju dengan hal yang terlihat sangat sederhana itu.

Yang kemudian berkelebat di kepalaku adalah: libur dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W, perlukah?

Saya berpikir, apa yang akan dilakukan orang-orang? Bukankah tidak ada ibadah yang perlu dilakukan secara khusus? Kalaupun perayaan, yang PERLU dilakukan bukanlah merayakan, tetapi justru mengikuti ajaran Rasul dalam seluruh kehidupan kita. So, kenapa jadi ada hari libur? Aku masih tidak paham arti libur itu.

Ekonomi Islam di CNN March 3, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Semalem pas nonton di CNN, melihat pembahasan tentang ekonomi Islam. Saat itu CNN sedang mengulas masalah jatuhnya pasar finansial di US, bagaimana berbagai institusi (bank, asuransi, dll) mengalami kerugian besar-besaran. Di tengah kerugian itu, ternyata bank-bank yang menjalankan syariah Islam diuraikan sebagai tangguh menghadapi krisis. Kabar terbaru, bahkan pemerintah Inggris berencana mengeluarkan SUKUK!

Hal yang menarik, aku melihat bagaimana CNN bisa menguraikan ekonomi Islam dengan sederhana. Dia katakan, sistem perbankan Islam memiliki aturan :
1. Tidak ada riba. Yang ada adalah berbagi keuntungan (termasuk jika kondisi debitor rugi).
2. Uang tidak ditanamkan untuk usaha yang spekulatif
Aku lupa, ada tambahan lain lagi atau tidak. Hanya saja aku menyoroti itu yang disampaikan secara sederhana.

Komentarku adalah: CNN bisa melihat prinsip ekonomi Islam dengan tepat. Jadi ekonomi Islam itu bukan berarti ekonomi yang anti pasar, bukan berarti penggunaan uang dinar/ mata uang emas, tetapi pada prinsip-prinsip yang dianutnya!

Sistem ekonomi kapitalis/ pasar bebas sejatinya adalah istilah untuk sistem ekonomi yang :
1. Memberikan kebebasan berusaha kepada tiap individu.
2. Memberikan pengakuan atas hak milik individu.
Dan hal ini pun ada pada saat jaman Nabi. Bukankah Nabi dan para sahabat juga berdagang? So, jangan dikatakan bahwa sistem ekonomi Islam itu berbeda dengan sistem pasar bebas.
Hanya saja dalam sistem perbankan-nya, terdapat perbedaan NILAI/ Aturan. Yah point-point yang diuraikan CNN itu lah.

Apakah sistem ekonomi dengan nilai-nilai Islam membawa inflasi? DUGAAN saya adalah: YA!
Karena ekonomi Islam tidak berbeda dengan sistem pasar yang ada saat ini, hanya berbeda nilai (please note: berbeda nilai/ niat, dalam Islam cukup significant. Itu bisa mengubah 100 perak yang diterima dari haram menjadi halal). Secara matematis, disisi konsumen tetap berinteraksi seperti biasa dengan berbagai perusahaan. Tetap terjadi transaksi jual beli dengan margin keuntungan yang normal. Kemudian secara matematis, hubungan antara perusahaan dengan perbankan juga normal, tetap ada sekian rupiah yang dibayarkan untuk pembagian keuntungan dari perusahaan ke bank. Dari sini aku simpulkan, inflasi tetap akan ada. Tetapi yang terjadi adalah inflasi yang sehat! Artinya, inflasi yang memang benar-benar dibutuhkan oleh pasar, bukan inflasi yang berlebihan akibat transaksi spekulaitf.

Ketika inflasi terjadi, maka mata uang berbasis emas menjadi tidak bisa diterapkan. Penjelasan sederhananya, karena mata uang emas tidak bisa mengalami inflasi. Sebagai gambaran sederhana, misalkan suatu negara punya 1000 ayam dan 1 kg emas. Akibatnya 1 ekor ayam dihargai dengan 1 gr emas. Namun ternyata peternakan ayam berkembang lebih tinggi daripada penambangan emas. Akibatnya, sekian tahun kemudian, ketika negara memiliki 3000 ayam dan 1.5 kg emas, yang terjadi 1 ekor ayam akan dihargai 1/2 gram emas. Akibatnya justru deflasi, yang mengakibatkan orang malas untuk beternak ayam, padahal disisi lain penduduk bertambah sehingga kebutuhan ayam bertambah.

Aku menulis ini untuk memberi sedikit ilustrasi bagi teman-teman yang masih berpikiran seolah ekonomi Islam adalah penerapan uang dinar/ emas. Sekali lagi, ekonomi Islam adalah pada aturan-aturannya. Bukan masalah mata uangnya.

Enough is enough February 26, 2009

Posted by Tara in Ragam.
2 comments

Just a note for me.

Memutar Krisis Ekonomi menjadi titik tinggal landas February 24, 2009

Posted by Tara in Bisnis, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Ini habis baca-baca tentang krisis ekonomi, yang mengatakan krisis ekonomi saat ini lebih parah daripada Great Depression 1930-an.
Tiba-tiba aku teringat, bahwa setiap grafik penurunan, selalu ada titik balik. Krisis ekonomi di Indonesia th 97 ada titik baliknya. Great Depression pun juga ada titik baliknya. So, krisis ekonomi global ini pun aku yakin akan ada titik baliknya juga.
Mungkin aku tidak bisa menjelaskan seperti apa titik balik itu (kapan dan bagaimana situasinya). Hanya satu hal yang jelas, sekiranya kita bisa memanfaatkan, seiring dengan titik balik dunia itu, kita juga bisa memanfaatkannya.
Secara mikro, untuk diterapkan di diri masing-masing, yang paling mendasar adalah: JAGA KEYAKINAN. Selalu yakin lah bahwa krisis akan ada titik balik.
Yang kedua, baru kita buka mata, pertajam analisa untuk melihat peluang apa yang bisa dilakukan.
Yang ketiga, bertahan lah hingga titik balik itu muncul. Bertahan artinya: bertahan hidup dan terus mengasah kemampuan untuk full push pada saat yang tepat.

Itu adalah point-point sederhana yang bisa aku sarikan. Pada prakteknya, tergantung dimana teman-teman sekarang beraktifitas. Yang bergerak di IT, Advertising, manufaktur, dll.

Secara umum, ekonomi Indonesia selama ini mengandalkan buruh dan hasil alam. Secara sederhana bisa dikatakan ekonomi dengan margin rendah. Saat krisis ini, saat dimana negara-negara maju banyak orang depresi dan pertumbuhan mengkerut, adalah saat dimana orang-orang Indonesia mengupayakan menggeser dari margin rendah ke margin lebih tinggi.
Secara sederhana, ketika orang-orang di negara maju mengurangi pembelian barang-barang branded mahal, saatnya lah designer-designer kita meluncurkan produk dengan harga lebih murah. Note: maksud lebih murah ini adalah, produk designer baru (dari Indo) lebih murah daripada produk brand luar yang sudah established. Ini bagi Indonesia tetaplah suatu peningkatan, dari sebelumnya hanya sebagai kuli, meningkat sedikit masuk ke pasar designer. Wajarlah kalau pada saat awal belum bisa sekelas dengan papan atas dunia. Tapi, inilah saat memulai!
Designer diatas adalah suatu permisalan untuk berbagai bidang. Bisa design baju, mebel, IT, maupun produk-produk lain. Intinya: shifting dari level operator ke level supervisor, planner ataupun designer. Itu adalah shifting dari jenis pekerjaan.

Yang kedua adalah dari qualitas. Untuk produk-produk kualitas rendah, inilah saatnya untuk mengasah diri, shifting ke produk berkualitas tinggi. Peningkatan kualitas, cenderung akan meningkatkan margin. Ini berlaku tidak hanya untuk yang bermain di pasar ekspor saja, tetapi juga yang bermain di pasar lokal. Hilangkan pikiran, bahwa lokal hanya mampu membayar kualitas rendah. Sekiranya ada kualitas yang lebih tinggi dengan harga yang sedikit lebih mahal (syukur2 tetap), aku yakin pasar akan mau membayar (note: kenaikannya layak ya..).

Yang ketiga, dari sisi jenis produk. Ketika selama ini mengandalkan hasil alam, sudah saatnya kita menggeser untuk memberi nilai tambah. Jangan menjual hasil alam begitu saja. Tambahkan sedikit proses lah pada produk itu.

Ini adalah analisa umum. Aku yakin temen-temen bisa memanfaatkan ini di bidang dimanapun bergerak, baik yang dalam posisi berbisnis ataupun sebagai karyawan. Akhirnya kembali pada kita semua, mau memandang krisis sebagai ancaman atau peluang? Saya memilih berdiri di kata peluang :)

*Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan; sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Q.S 94, ayat 5-6)