jump to navigation

Mencermati kasus Penahanan Ketua KPK non aktif November 1, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
1 comment so far

Aku menemukan link yang menarik :
http://nusantaranews.wordpress.com/2009/10/31/fakta-fakta-kemunafikan-polri-dalam-mengasuskan-bibit-dan-chandra/

Analisanya bagus, cukup komplit.

Kalau saya, secara logika sederhana saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa logika polisi itu salah. Logika sederhananya adalah :

Bagaimana mungkin pihak yang JELAS mengeluarkan uang untuk suap (Anggodo) HANYA MENJADI SAKSI, sementara pihak yang KATANYA disuap, namun TIDAK ADA BUKTI satupun tentang suap masuk ke mereka, malah menjadi TERSANGKA??

Bagi saya, jika dengan logika sederhana saja sudah jelas terlihat salah, saya tidak mau mencari-cari lebih rumit lagi. Analisa lebih dalam tidak akan mengubah hasil analisa sederhana (jadi sekali sudah dikatakan logikanya salah, dianalisa lebih dalam pasti juga tetap salah!). Analisa lebih dalam hanya menghasilkan pemahaman lebih dalam dari berbagai sisinya.

Pertanyaan lanjutan adalah, kemana perkembangan situasi ini? Jika melihat respons masyarakat, seperti yang muncul di facebook ini : http://www.facebook.com/posted.php?id=169178211590&share_id=169582240901&comments=1#/group.php?gid=169178211590 saya memprediksi perlawanan masyarakat akan membesar. Tidak tertutup kemungkinan ini akan menjadi gerakan massa, dan kasus 1998 akan terulang kembali.

Adakah jalan damai untuk menyelesaikan ini? Jalan damai mungkin dilakukan dengan adanya pembekuan semua kasus korupsi yang sudah terjadi, dan fokus untuk pencegahan korupsi di depan. Itu yang kelihatannya mungkin. Secara logika, dengan tuduhan korupsi yang sedemikian banyak, sekiranya KPK bekerja dengan benar dan semua terbukti, maka hasilnya akan mengerikan bagi Pemerintah saat ini. Perhatikan dari link diatas, saya cantumkan kutipannya di bawah ini, terdapat 4 menteri di kabinet baru ini yang tersangkut kasus Joko Tcandra :

Fakta yang nyata adalah Bibit Samad Rianto melakukan pencabutan cekal pada Joko Tjandra karena sebelumnya KPK memperkirakan terjadi aliran USD 1 juta (Rp 10 miliar) dari Joko Tjandra kepada Arthalyta Suryani. Namun ternyata dana Rp 10 miliar dari Joko Tjandra, sang buronan koruptor ini mengalir ke Yayasan Kesetiakawanan dan  Kepedulian (YKDK) milik Mars. (Purn) TNI Djoko Suyanto, Mantan Kapolri Jend (Purn) Sutanto, dan mantan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro dan mantan Ketua KADIN MS Hidayat. Djoko Suyanto sendiri merupakan Wakil Ketua Kampanye SBY-Boediono, dan entah kebetulan atau tidak YKDK mulai beraktivitas (kegiatan sosial) di Januari 2009, tepat bersamaan dengan gencarnya iklan Demokrat-SBY pada periode sama hingga Juli 2009.

Jika menjadi suatu gerakan massa, apa yang akan terjadi kemudian? Analisa saya, gerakan massa akan melahirkan langkah-langkah strategis dan kompromis dari Pemerintah, karena jika tidak ada langkah kompromis, yang terjadi Indonesia bisa hancur lagi Pemerintahannya. Dan akan ada kesulitan mencari Presiden baru, then permasalahan akan kompleks. Dan dalam kondisi kekacauan politik tersebut, peranan Pemerintah dalam ekonomi akan jauh dari optimal.

Rasanya berat untuk menganalisa lebih jauh lagi. Satu, berat hati. Yang kedua, analisisnya juga berat.

So, sementara ini saya hanya bisa mengucapkan : selamat berjuang Pak Bibit dan Pak Chandra, selamat menjadi martir perjuangan bangsa. Namamu terukir di hati banyak orang Indonesia. Semoga Tuhan memberikan kekuatan pada kalian berdua, Amien..

Dan semoga bangsa ini bisa terus maju, menyelesaikan masalah-masalah yang ada tanpa merusak langkah yang telah dicapai, Amien..

ramal-ramalan September 22, 2009

Posted by Tara in Ragam.
add a comment

Ini mah permainan iseng aja. Nggak perlu analisa macem-macem. Kali ini aku pengen nebak, siapa yang akan dipilih menjadi Plt pimpinan KPK oleh SBY ?

Hingga saat ini masih belum ada suara siapa yang ditunjuk. Tapi tebakanku, yang akan ditunjuk adalah orang-orang yang selama ini dikenal kredibel dalam pemberantasan korupsi. Bisa jadi 2 orang kredibel, yang 1 orang kuda troya.
Itu dulu lah tebakanku, nggak perlu ada analisa kenapa kok nebak kayak gitu. Liat aja hasilnya nanti. Sayang ya nggak ada togel untuk tebakan kayak gini:p

Keberanian DPR? September 21, 2009

Posted by Tara in Ragam.
add a comment

Mau menilai keberanian DPR?
Lihatlah.. siapa yang berani membela KPK saat ini?

no comment deh

The Death of Civilization September 16, 2009

Posted by Tara in Ragam.
1 comment so far

speechless… :(

Bunga Terakhir August 22, 2009

Posted by Tara in Semua tentang Aku.
add a comment

Lirik ini kutulis di blog sebagai apresiasiku kepada Bebi Romeo. Sukses selalu bro, dan teruslah berkarya!

====

Kaulah yang pertama menjadi cinta
Tinggallah kenangan
Berakhir lewat bunga
Seluruh cintaku untuknya

Bunga terakhir kupersembahkan kepada yang terindah
Sebagai satu tanda cinta untuknya
Bunga terakhir menjadi satu kenangan yang tersimpan
Tak ‘kan pernah hilang ‘tuk selamanya

Betapa cinta ini sungguh berarti
Tetaplah terjaga
Selamat tinggal kasih
‘Ku telah pergi selamanya

Marhaban Ya Ramadhan August 22, 2009

Posted by Tara in Religy.
1 comment so far

Tak terasa, Ramadhan kembali menjelang. Kesempatan untuk memperbanyak ibadah, karena ini adalah waktu yang utama. Kesempatan untuk memohon ampun atas segala dosa kita dalam setahun ini (antara Ramadhan sekarang dan Ramadhan tahun sebelumnya)

Aku berpikir ibadah apa yang sebaiknya diperbanyak. Satu hal yang jelas, perbanyak baca Qur’an, perbanyak shalat sunnah, usahakan shalat berjamaah sesering mungkin. Perbanyak baca tasbih, takbir dan takhmid dalam keseharian.

Sebenarnya banyak banget kesempatan beribadah. Subhanallah, Alhamdulillah, Allah memberikan banyak kemudahan bagi hamba-Nya untuk beribadah.

Salah satu kebiasaanku sejak dulu, aku ingin ada suatu pencapaian dunia juga dalam bulan Ramadhan ini. Cukup banyak ulama-ulama yang menyelesaikan karya besarnya di bulan Ramadhan. Proklamasi Indonesia juga di bulan Ramadhan (kalau nggak salah ya, persisnya silahkan cek lagi). Aku belum tahu apa yang akan aku kerjakan dalam bulan Ramadhan ini. Kali menyelesaikan buku Panduan Konsultan (yang udah berapa tahun tak terselesaikan nih :p) dan mencoba buat Buku Panduan Business Analyst. Hmm.. coba lihat deh bagaimana nanti.

Apapun, selamat berpuasa buat rekan-rekan yang menjalaninya. Semoga kita semua bisa mengisi bulan Ramadhan ini dengan ibadah-ibadah yang akan menjadi tabungan kita di hari akhir nanti, Amien.. Semoga rahmat Allah senantiasa terlimpah ke kita semua, Amien..

Bermain statistik dan logika July 12, 2009

Posted by Tara in Education.
add a comment

Saya teringat, betapa dulu saya didampingi oleh dosen statistik saya untuk mencerna suatu kuliah tamu. Dari pendampingan itulah saya benar-benar terbuka arti statistik. Dengan statistik, kita bisa menemukan kebenaran. Dengan statistik kita juga bisa membongkar kesalahan.

Statistik dalam penerapannya juga tidak lepas dari logika. Pak Gunawan dulu memberikan contoh “Jika penjualan kue comro di depan IPTN ternyata datanya dalam analisa korelasi memperlihatkan korelasi yang kuat dengan penjualan pesawat IPTN, bisakah disimpulkan bahwa penjualan comro berhubungan dengan penjualan pesawat? Jawabnya adalah TIDAK!  Karena statistik itu bukan sekedar permainan data. Harus ada logika yang membangunnya terlebih dahulu, baru dilakukan analisa statistik.” Kira-kira seperti itulah ucapan dari Pak Gunawan.

Sekarang untuk melanjutkan ilmu beliau, saya ajak rekan-rekan untuk melihat bagaimana statistik diterapkan. Kita bisa mencermati berita ini sebagai ajang latihan : http://pemilu.detiknews.com/read/2009/07/10/161610/1162850/700/dpt-pilpres-diduga-rawan-penggelembungan

====

“Ditemukan 13 persen dari 800 TPS yang terdapat pemilih menggunakan KTP dan Kartu Keluarga (KK). Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7 persen dari pemilih yang terdaftar DPT,” ujar Jeirry.
====

Meski ini menggunakan contoh TPS, tapi ini tidak berbicara politik yah :D .

Perhatikan kalimat pertama diatas: 13% dari 800 TPS terdapat pemilih menggunakan KTP dan KK. Artinya sekitar 104 TPS terdapat pemilih ber-KTP dan KK.

Kemudian perhatikan kalimat ke2 di atas: Diperkirakan pemilih menggunakan KTP mencapai total 7% dari pemilih terdaftar di DPT. Artinya, misal tiap TPS ada 100 DPT. Artinya dari 800 TPS, terdapat 80 ribu pemilih. 7% pemilih berKTP artinya sekitar 5600 pemilih.

Sekarang kita gabungkan kalimat 1 dan kalimat 2. 104 TPS bearti sekitar 10400 pemilih. Ternyata di TPS ini, jumlah pemakai KTP mencapai 5600, atau 50% lebih banyak dari DPT.

Mari kita nilai, benarkah kalimat di atas? Kalau kita bayangkan situasi TPS dengan 50% pemilih menggunakan KTP, maka yang akan terjadi adalah chaos. Dan chaos seperti ini terjadi di 13% TPS, tentunya akan menjadi berita besar mengingat media dan berbagai pihak meliput proses pemilu ini. Tetapi, ternyata kita tidak menemukan adanya chaos gara-gara pemilih ber-KTP kan? Dari sini bisa kita simpulkan, bahwa kalimat ke-dua yang menggunakan awalan kata “DIPERKIRAKAN” adalah salah. Artinya, kesimpulannya tidak bisa kita percayai.

Itulah contoh sederhana kita untuk menggunakan ilmu-ilmu statistik mencermati suatu informasi :) .

Lanjutan berita berikutnya dapat digunakan untuk menganalisa logika :

====

27 persen saksi dari 800 TPS tidak diberi salinan DPT, hal ini semakin menjelaskan modus penggelembungan suara,” keluh Jeirry

====

Perhatikan kalimat bagian awal dan bagian akhir. “27% saksi tidak diberi salinan DPT” disimpulkan sebagai “modus penggelembungan suara”. Mari gunakan logika, bagaimana mungkin saksi tidak menerima salinan DPT dianggap sebagai bukti penggelembungan suara?

Sama dengan penjualan pesawat dikaitkan dengan penjualan kue comro, nggak nyambung! Penjualan pesawat dikalitkan penjualan baja masih mungkin. Dikaitkan dengan penjualan sparepart juga masih mungkin. Tapi dengan kue comro, jelas tidak ada logikanya! Begitu juga saksi tidak menerima salinan DPT dengan Penggelembungan suara, nggak nyambung! Kalau ada orang yang beberapa kali memilih dan namanya ada terus di DPT, boleh lah itu disebut sebagai penggelembungan.

Sekian sharing untuk statistik dan logika. Contoh ini dapat digunakan untuk mencermati berbagai hal, mengingat penipuan banyak dengan menggunakan statistik. Penipuan dengan statistik cenderung dipercaya orang karena kelihatan ilmiah, ada buktinya. Padahal salah mencermati, akan salah mengambil kesimpulan.

Karena ini sharing untuk statistik dan logika, tag saya hanya untuk Education, tidak Pol-ek-sos-bud.

Jangan ada provokasi! July 4, 2009

Posted by Tara in Ragam.
9 comments

Tulisan ini merupakan bentuk keprihatinan atas komentar berbagai tokoh masyarakat ataupun tokoh partai, justru saat waktu pilpres sudah dekat.
Seandainya terjadi kerusuhan sosial pasca pemilu, dengan sungguh hati saya akan mengutuk Din Syamsudin (ketua Muhammadiyah), tim Mega-Prabowo dan tim JK-Wiranto yang mengeluarkan ancaman menjelang hari-hari Pilpres.
Tentang ancaman ini, silahkan baca Kompas tanggal 4 Juli.

Tentang DPT. Kenapa mereka mengancam-ancam untuk pemilu mundur beberapa saat menjelang pilpres? Kenapa meerka tidak preventif jauh hari sebelumnya? Seharusnya tim mereka tidak sedemikian idiot-nya sehingga masalah DPT baru muncul menjelang pilpres! Kalau mau meributkan DPT, sejak awal-awal, apalagi setelah Pilleg, itu sudah bisa ketahuan! Kalau sikap mereka tidak peduli terhadap KPU, seharusnya menerima dong apapun hasil KPU. Kemana aja mereka selama ini??
Bicara tentang DPT bermasalah, memangnya bisa didapat DPT 100% betul? Kenapa tidak berbicara berapa % error yang ditoleransi? Kenapa angka itu tidak dimunculkan dalam UU ataupun dalam berbagai dengar pendapat antara KPU dan DPR? Bukankah Golkar (partai pendukung JK-Wiranto) dan PDIP (partai pendukung Mega-Prabowo) ada di DPR? Apa saja kerja mereka selama ini? Tidur??? Kenapa setelah anggota partainya tidur, sekarang tiba-tiba mau memancing kerusuhan??

Tentang Pemilu 1 putaran. Ini juga blunder yang sebenarnya akibat tingkah tokoh-tokoh politisi. Sudah jelas-jelas sejak hasil Pilleg ketahuan kalau posisi SBY potensi menangnya tinggi. Kalau mau menang, kenapa tidak semua pihak lain menyatukan kekuatan?? Perhatikan tulisan-tulisan saya tentang ekonomi sebelum ini, betapa saya sudah menyorot masalah aspek ekonomi pemilu! Saya ssangat bisa memahami kejenuhan masyarakat untuk pemilu. Seandainya mereka memahami masyarakat juga, seharusnya mereka menyatukan kekuatan untuk membuat hanya 1 kali pertarungan! Mana hasil sibuk lobby kiri kanan menjelang koalisi itu? Kenapa tidak dihasilkan 1 calon untuk menantang SBY? Kalau memang mereka berpikir demi negara dan rakyat, seharusnya mereka memberikan 1 calon untuk penantang SBY. Entah itu JK-Prabowo, atau mungkin Prabowo-Wiranto, atau entah siapa lah. Dengan begitu, bukankah pemilu hanya akan ada 1 putaran? Dan tidak akan ada kampanye pemilu 1 putaran yang mengarahkan ke calon tertentu, bukan???

Jadi sebenarnya, kasus DPT dan Kampanye pemilu 1 putaran ini tidak bisa dijadikan ajang pembenaran untuk mengancam membuat kekacauan (fisik ataupun dalam bentuk lain) di negeri ini!

Hentikanlah gaya Bush, dengan mengancam-ancam ketentraman masyarakat! Berkampanyelah dengan elegan dan ksatria! Berani menang berani kalah!
Masyarakat saat ini tidak ada waktu untuk mengurusi para petualang politik! Masyarakat butuh ketentraman untuk bisa bekerja!
Demi Allah, seandainya benar terjadi kerusuhan setelah pilpres ini, aku bermohon agar Allah mengutuk para provokator tersebut! Inilah sumpahku! Hati-hati para provokator, doa orang teraniaya dikabulkan oleh Allah! Dan jika terjadi kerusuhan, maka penganiayaan telah kalian lakukan terhadap seluruh masyarakat!
Bagi pembaca tulisan ini, sekiranya kalian ada akses terhadap petinggi-petinggi partai maupun orang semacam Din Syamsudiin (Ketua PP Muhammadiyah), tolong sampaikan tulisanku ini pada mereka. Ini adalah tulisan seorang rakyat yang tidak ingin ada penganiayaan terhadap rakyat!

Republik Pelawak, dengan Komisi Pelawak June 23, 2009

Posted by Tara in Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Aku mengelus dada dalam beberapa hari ini.

Sekitar seminggu lalu aku membaca buku pledooi dari Iqbal, mantan Ketua KPPU yang tertangkap tangan saat menerima suap. Satu hal yang menarik aku cermati di pledooi itu, yaitu surat perintah penyadapan terhadap Iqbal dan Billy ternyata 1 bulan sebelum mereka berkenalan. Mereka berkenalan ketika diperkenalkan oleh Tadjudin Noer Said. Kira-kira seperti itulah isinya (maaf, hanya resume aja, lengkapnya silahkan cari buku tersebut). SEANDAINYA (tolong perhatikan kata SEANDAINYA ini dengan baik!) hal itu benar, maka besar kemungkinan ada upaya penjerumusan / penjebakan atas seseorang, dan ini melibatkan KPK! (sebagai pihak yang melakukan penyadapan).

Belum selesai keprihatinanku, beberapa hari kemudian muncul berita: KPK menyadap telephone Nasrudin (korban yang diduga dibunuh atas perintah Antasari, mantan ketua KPK) dan Rhani (perempuan, kisah segitiga Antasari, Nasrudin dan Rhani). Dan perintah penyadapan ini ditandatangani oleh Wakil Ketua KPK, Chandra Hamzah.

Ketika dilakukan konfirmasi, mulailah berbagai komentar lucu muncul dari para pelaku ini :

1. Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/175856/1152204/10/antasari-tak-perintahkan-sadap-tapi-cek-hp-nasrudin-rhani

“Jadi menurut Pak Antasari tadi kepada penyidik, tidak pernah perintahkan secara lisan maupun tulisan untuk menyadap nomor tersebut. Pak Antasari hanya meminta mengecek dua nomor itu,” kata pengacara Antasari, Maqdir Ismail, usai mendampingi pemeriksaan Antasari di Mapolda Metro Jaya, Jalan Sudirman, Jakarta, Senin (22/6/2009).

Bisakah dijelaskan, “meminta mengecek” itu memangnya seperti apa? Apakah petugas KPK disuruh telpon ke nomor itu dan tanya: “anda siapa ya?”. Sebodoh dan seidiot itu kah???

2.  Lihat ini : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/171007/1152134/10/kpk-penyadapan-yang-kami-lakukan-tidak-langgar-kode-etik

Dalam jumpa pers ini, Chandra juga mengungkapkan bahwa KPK memang menyadap sejumlah nomor telepon yang diberikan Antasari Azhar. Nomor-nomor telepon itu yang digunakan pelaku teror terhadap istri Antasari Azhar. Salah satu teror yang diterima istrinya, Antasari diminta tidak melanjutkan pengusutan sebuah kasus korupsi.

Kenapa begitu mudahnya KPK mengatakan bahwa itu teror berbahaya, sehingga harus disadap no hp tersebut? Bukankah Antasari tahu kalau orang tersebut adalah Nasrudin dan Rhani? Kenapa tidak langsung ditangkap saja orang tersebut atas tuduhan teror? Kenapa KPK langsung melakukan penyadapan? Kalau memang karena teror, memangnya KPK boleh menyadap untuk mengungkap teror? Bukankah yang berhak menangani teror adalah Polisi? Kalaupun karena kecurigaan adanya kasus korupsi yang melibatkan Rhani (seorang caddy gitu loh..),  kenapa semudah itu para pimpinan KPK mengijinkan penyadapan? Bukankah kasus Agus Condro yang jelas-jelas di depan mata aja, masih ditunda-tunda penyelesaiannya?

3. Another version : http://www.detiknews.com/read/2009/06/22/142838/1151994/10/kpk-nomor-yang-disadap-bukan-milik-rhani-atau-nasrudin

Komentar sederhana, kalau memang benar itu untuk pemeriksaan penyadapan kasus korupsi, kenapa Antasari pake ngeles-ngeles (lihat point 1 di atas) bahwa tidak dilakukan penyadapan, tetapi ”hanya perintah nge-check” ? Kalau melihat berbagai berita dengan berbagai versi ini, jelas terlihat berbagai pihak saling membuat alasan untuk lepas dari jeratan hukum. Dan lucunya, alasan masing-masing pihak ini tidak sinkron, kontradiktif, sehingga patut DIDUGA KUAT terjadi pelanggaran hukum, melakukan penyadapan untuk kepentingan pribadi.

Inilah republik pelawak, dengan komisi pelawak, meski lawakan yang dihasilkan adalah lawakan satir dan menjijikkan. Betapa alat investasi negara digunakan untuk keperluan pribadi yang menjijikkan. Aku tidak bisa berkomentar lebih jauh lagi :(

Interaksi antara system dan budaya May 13, 2009

Posted by Tara in Pengetahuan Umum, Pol-ek-sos-bud.
add a comment

Tadi pagi aku jalan di cisitu, melihat orang menyapu halaman rumahnya. Kemudian mataku melihat jalanan dan halaman yang lain. Seketika itu juga ingatanku berkelibat tentang kota-kota yang kukunjungi. Beberapa waktu lalu aku pernah jalan-jalan ke berbagai kota di Indonesia, dan kebersihan merupakan salah satu yang menjadi catatanku. Jogja dan Bali merupakan daerah yang terkategori bersih di banding daerah-daerah lainnya. Dan yang menarik, kedua kota itu terasa memiliki budaya yang lebih kuat juga dibandingkan daerah lain!

Termasuk bagian dari budaya adalah kebersihan. Coba jalan-jalan ke Jogja, masuk ke daerah perkampungan. Jalanan bersih, halaman-halaman rumah bersih. Kita menutup mata pada kekayaan, karena kebersihan itu berada di mana-mana, termasuk di rumah-rumah yang kelihatannya jelek. Setiap pagi, bukan pemandangan asing melihat orang menyapu membersihkan halaman. Di tiap-tiap rumah juga terdapat tempat sampah yang rapi dan bersih. Hal ini berbeda dengan jalanan dan halaman rumah di Cisitu. Sehingga dalam catatanku, mereka yang berbudaya tinggi akan lebih menjaga kebersihan daripada yang berbudaya rendah.

Kemudian terlintas di otakku, bisakah system mengubah budaya? Bayanganku tadi, mungkin seandainya dirancang suatu system yang bisa menjaga kebersihan, budaya kebersihan akhirnya akan muncul. Aku kemudian berpikir kembali, ternyata kesimpulannya adalah: relatif atau tergantung!

(Sepertinya aku harus mempelajari definisi budaya dan strukturnya deh.. Mesti tahu apa itu perilaku, apa itu nilai, dll. Mungkin saja dalam tulisanku ini terjadi kesalahan akibat kesalahan deskripsi/ pemahaman tentang budaya)

Dalam beberapa kasus, mungkin bisa berubah. Dalam hal lain, mungkin tidak berubah. Contoh kasus, misalnya pada system pendidikan. Perhatikan, bahwa ada stereotyping pada lulusan ITB, UI, sekolah militer, dll. Lulusan ITB misalnya stereotypenya misalnya : kritis, omong besar, kurang mengerti perasaan. Sementara lulusan sekolah militer stereorypenya misalnya: disiplin, team work, kurang menghargai HAM.

Ketika dilihat, ternyata stereotyping itu banyak benarnya. Dari situ bisa disimpulkan, bahwa suatu system pendidikan telah berhasil mengubah budaya orang-orang yang masuk ke dalam system tersebut!

Contoh diatas adalah kasus dimana system bisa mengubah budaya. Namun dalam kasus lain, alih-alih system berjalan, yang terjadi adalah system hancur karena budaya tidak sesuai dengan system tersebut. Contoh sederhana adalah implementasi IT. Banyak implementasi IT yang gagal karena masalah sederhana: orang-orangnya tidak disiplin! Hal yang jelas-jelas juga bisa dilihat di banyak tempat, system kebersihan. Lihat toilet di tempat umum. Sangat banyak toilet yang baunya naudzubillah.. Padahal kalau dipikir sederhana: dengan sudah disediakan toilet, air tersedia, mestinya cukup bersih dong? Tapi ternyata ada juga (banyak??) orang yang tidak mengguyur dengan air setelah selesai dari toilet!

Meski terdapat kegagalan system untuk mengubah budaya, namun terkadang bisa juga system dipaksakan berjalan. Salah satu contohnya adalah Singapore. Kalau melihat masa lalu Singapore, penduduknya adalah orang-orang yang jorok. Namun dengan tangan besinya Lee Kuan Yeuw, Singapore berhasil berubah dari kota yang jorok menjadi kota yang bersih seperti saat ini. Perubahan itu terjadi karena system diterapkan dengan paksaan, dimana system pemaksanya juga dipersiapkan dengan benar (berbagai peraturan, penegak hukum, dll). Apakah budaya masyarakat singapore jadi berubah? Mungkin (sebagian) tidak! Ini terlihat dari banyaknya laporan betapa orang-orang Singapore lari ke Batam dan Bintan, dan melakukan tingkah-tingkah jorok disitu! Artinya, mereka bukan berubah budaya, hanya menahan nafsu, memendam perilaku buruknya, untuk pada saatnya perilaku buruk tersebut dilampiaskan.
Apakah memaksakan system itu murah? Tentu tidak! Singapore untuk lalulintas tertib, dengan sedikit polisi di jalan, mereka harus berinvestasi dengan memasang CCTV di berbagai tempat sehingga pelanggar lalu lintas tetap ketahuan.

Suatu budaya yang positif, cenderung mempermudah system yang harus dibangun. Sebagai contoh, masyarakat Jerman yang memiliki budaya dalam hal kebersihan. System kebersihan yang dibangun di sana cukup sederhana. Sekedar menyediakan tempat sampah untuk sampah yang berbeda-beda, mereka bisa dengan mudah membuat pengolahan sampah. Di Nuernberg waktu itu teman memperlihatkan cerobong asap pengolahan sampah memunculkan asap putih. Pikiran kilatku, kalau perangkat itu dijalankan di Jakarta, belum tentu bisa seperti itu, karena sampah di jakarta belum dipilah-pilah! Dari sini terlihat, budaya yang lebih buruk cenderung membutuhkan system yang lebih kompleks dan mahal!

Nilai positif tentunya bukan hanya dalam hal duniawi saja, tetapi dalam hal rohani juga bisa memberi effect. Coba bayangkan sekiranya ada kelompok massa berjumlah 4 juta orang, bergerak bersama-sama, berdesak-desakan, tingkat pendidikan beragam, tidak paham bahasa satu dengan yang lain, berapa banyak tentara maupun kepolisian yang dibutuhkan untuk mengamankannya? Dalam kasus ibadah haji di Arab Saudi, ternyata jumlah pengamanan yang disediakan sangat-sangat sedikit. Yang hebatnya, meski jumlah sangat sedikit, tetapi sangat jarang terjadi pertengkaran ataupun kerusuhan! Padahal titik-titik terjadinya persinggungan sangat banyak terjadi. Namun karena tiap-tiap orang memiliki nilai yang sama dalam hal religiusitas (untuk bersabar), yang ada adalah setiap terjadi persinggungan, hampir dalam hitungan menit segera terselesaikan. Dan itu berjalan dengan jumlah polisi dan tentara yang terjun sedikit, dan boleh dikata tanpa persenjataan! Sekiranya dibandingkan dengan kerumunan massa penonton bola, maka pengamanan ibadah haji jauh-jauh lebih sederhana daripada pengamanan pertandingan bola!

Point-point yang bisa disimpulkan dari tulisan ini adalah :
1. Ada system yang mampu mengubah budaya.
2. Ada system yang hancur oleh budaya
3. System bisa jadi dipaksakan untuk berjalan, meski budaya tidak mendukung. Namun biaya untuk pemaksaan system tersebut cukup besar.
4. Budaya positif cenderung membutuhkan system yang lebih sederhana dan murah daripada budaya yang negatif.

Kesimpulan diatas bisa dimanfaatkan secara mikro ketika kita mencoba membangun system. Dan secara makro ketika menyusun perencanaan pembangunan. Semoga tulisan ini bermanfaat :)